
Ranahrumah.com – GAYA HIDUP | Pagi dimulai lebih cepat dari yang direncanakan. Kota bergerak dalam ritme yang padat—perjalanan, pekerjaan, interaksi sosial, semua saling bertumpuk dalam satu hari yang sama.
Di kota, waktu bukan lagi sekadar berjalan. Ia dipadatkan.
Fenomena ini tidak terjadi tanpa sebab. Data menunjukkan bahwa lebih dari 57% populasi Indonesia saat ini tinggal di kawasan urban, dan angka ini diproyeksikan akan terus meningkat hingga mendekati 70% pada tahun 2045, seiring dengan percepatan urbanisasi nasional.
Angka ini bukan hanya statistik—ia mencerminkan perubahan besar dalam cara hidup masyarakat Indonesia.
Semakin banyak orang tinggal di kota, semakin kompleks pula kebutuhan ruang yang harus dipenuhi.
Dalam kondisi seperti ini, ruang tidak lagi cukup jika hanya menjalankan satu fungsi. Ia harus mampu merespons banyak hal sekaligus: efisiensi, konektivitas, dan kebutuhan manusia untuk tetap terhubung.
Perubahan ini bukan kebetulan.
Urbanisasi tidak hanya memindahkan manusia ke kota, tetapi juga mengubah cara hidupnya—dari pola yang terpisah menjadi saling tumpang tindih. Aktivitas bekerja, bersosialisasi, hingga beristirahat kini terjadi dalam satu ekosistem yang sama.
Dalam konteks ini, ruang tidak lagi dirancang sebagai objek, tetapi sebagai sistem.
Baca Juga: DNA dari Iconic Lifestyle Destination
Kota Kreatif dan Ruang Sosial: Bandung sebagai Laboratorium Gaya Hidup Urban
Di 23 Paskal Shopping Center, pendekatan ini menemukan bentuknya dalam konteks kota yang sangat sosial.
Bandung merupakan bagian dari kawasan metropolitan yang terus berkembang, dengan tingkat urbanisasi yang tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh sektor pendidikan, pariwisata, dan industri kreatif. Kota ini dikenal sebagai salah satu pusat ekonomi kreatif di Indonesia, dengan populasi muda yang dominan dan gaya hidup yang dinamis.
Karakter ini membentuk pola penggunaan ruang yang berbeda.
Aktivitas tidak hanya terjadi di dalam ruang, tetapi juga di antaranya—di ruang terbuka, di tempat orang berhenti, berkumpul, dan berinteraksi tanpa rencana. Fenomena coworking space dan ruang komunal yang berkembang pesat di Bandung menjadi indikasi bahwa masyarakatnya membutuhkan ruang yang fleksibel dan sosial.
Dalam konteks seperti ini, pusat perbelanjaan konvensional menjadi kurang relevan jika hanya berfungsi sebagai tempat transaksi.
Pendekatan yang dilakukan oleh Paradise Indonesia di 23 Paskal justru bergerak ke arah yang berbeda.
Alih-alih menjadi ruang tertutup, kawasan ini dibangun dengan pendekatan terbuka—mempertahankan vegetasi eksisting, menghadirkan vertical garden, dan menciptakan sirkulasi ruang yang mengalir. Konsep empat axis—Langit, Hejo, Cai, dan Ruhai—menghadirkan narasi lokal yang memperkuat keterikatan dengan konteks kota.
Yang terjadi bukan sekadar aktivitas konsumsi. Yang terbentuk adalah ruang sosial.
Dalam perspektif pemikiran Jan Gehl (Arsitek dan Konsultan Desain Perkotaan), kota yang hidup adalah kota yang memberi ruang bagi manusia untuk berjalan, berhenti, dan berinteraksi. Bandung, dengan karakter kolektif dan kreatifnya, membutuhkan ruang seperti ini—dan desain menjawabnya.
Di titik ini, building tomorrow tidak hadir sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai respons terhadap karakter kota: terbuka, sosial, dan kolaboratif.

Hunian Urban dan Tantangan Individualisme: Membaca Jakarta Selatan
Jika Bandung berbicara tentang ruang sosial, maka Jakarta—khususnya melalui Antasari Place—berbicara tentang kompleksitas hidup urban.
Sebagai kota terbesar di Indonesia, Jakarta menghadapi tekanan urban yang jauh lebih intens. Kepadatan penduduk, mobilitas tinggi, dan ketergantungan pada kendaraan pribadi menciptakan tantangan serius dalam kualitas hidup masyarakatnya.
Data menunjukkan bahwa kawasan metropolitan Jakarta (Jabodetabek) merupakan salah satu kawasan urban terbesar di Asia Tenggara, dengan jutaan perjalanan harian yang terjadi setiap hari. Waktu tempuh yang panjang menjadi bagian dari rutinitas, memengaruhi produktivitas sekaligus keseimbangan hidup.

Di sinilah konsep mixed-use development menjadi relevan.
Dengan mengintegrasikan fungsi hunian, komersial, dan fasilitas publik dalam satu kawasan, pendekatan ini terbukti mampu:
- mengurangi kebutuhan mobilitas jarak jauh
- meningkatkan efisiensi waktu
- sekaligus membuka peluang interaksi sosial
Namun di balik itu, Jakarta juga menghadirkan tantangan yang lebih halus: individualisme.
Hunian vertikal modern sering kali menciptakan jarak sosial. Orang tinggal berdekatan, tetapi tidak benar-benar terhubung.
Di sinilah pendekatan human-centered design di Antasari Place menjadi penting.
Alih-alih hanya memaksimalkan unit sebagai ruang privat, desain justru memperluas pengalaman tinggal ke ruang komunal—lounge, area kerja bersama, fasilitas olahraga, hingga ruang terbuka hijau yang luas.

Baca Juga: Ketika Keberlanjutan menjadi Arah Baru Pengembangan Properti
Pendekatan ini bukan hanya soal desain, tetapi tentang perilaku. Bagaimana ruang bisa mendorong orang untuk kembali berinteraksi.
Lebih jauh, pendekatan ini juga merespons tekanan lingkungan yang semakin nyata.
Urbanisasi yang cepat berkontribusi terhadap meningkatnya konsumsi energi, berkurangnya ruang hijau, serta tekanan terhadap sistem air kota. Dalam konteks ini, desain tidak lagi bisa netral—ia harus menjadi bagian dari solusi.
Dijelaskan oleh Indriani, GM Project, Planning, & Design Paradise Indonesia, di Antasari Place, respons tersebut diterjemahkan dalam strategi konkret:
- lebih dari 70% area sebagai ruang terbuka hijau
- penggunaan kaca low-e untuk efisiensi energi
- sistem zero runoff untuk pengelolaan air hujan
- optimalisasi ventilasi alami
Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak lagi berdiri sebagai fitur tambahan, tetapi sebagai fondasi dalam perancangan.
Masa depan kota tidak ditentukan oleh seberapa cepat ia tumbuh, tetapi oleh seberapa dalam ia memahami manusia dan lingkungannya.
Building Tomorrow Bukan Formula yang Seragam
Dari Bandung hingga Jakarta, terlihat satu pola yang konsisten.
Bahwa setiap kota memiliki:
- karakter yang berbeda
- tantangan yang berbeda
- dan kebutuhan ruang yang berbeda
Dan di situlah pendekatan seperti building tomorrow menemukan relevansinya.
Ia bukan formula yang seragam. Melainkan cara berpikir yang adaptif—membaca data, memahami perilaku, dan menerjemahkannya ke dalam ruang yang hidup.
Pada akhirnya, kota bukan hanya kumpulan bangunan. Ia adalah jaringan pengalaman. Dan di dalam jaringan itulah, manusia hidup—bukan hanya berpindah, tetapi berinteraksi, merasa, dan membangun keseharian.
Mungkin, masa depan kota memang tidak lagi tentang bagaimana kita membangun lebih banyak.Tetapi tentang bagaimana kita membangun dengan lebih memahami.
Di sinilah komitmen Paradise Indonesia diwujudkan,mengembangkan destinasi gaya hidup dan properti ikonik di kota-kota terdepan di Indonesia. (RR)
Cek berita keberlanjutan, ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook Ranah Rumah, Instagram @ranahrumahcom.


