Building Tomorrow: DNA dari Iconic Lifestyle Destination

Ketika ruang dirancang bukan hanya untuk dikunjungi, tetapi untuk dirasakan dan dihidupi.

Beachwalk Shopping Center
Ruang terbuka modern mall dengan ventilasi alami dan elemen hijau sebagai konsep lifestyle destination di Beachwalk Shopping Center. (Foto: Paradise Indonesia)

Ranahrumah.com – ARSITEKTUR| Cahaya turun perlahan dari atas, menyusup di antara lapisan ruang yang terbuka. Di bawahnya, orang berjalan tanpa tergesa—sebagian berhenti, sebagian duduk, sebagian lain sekadar menikmati suasana.

Tidak ada batas yang benar-benar terasa. Dalam dan luar saling menyatu, membentuk pengalaman yang mengalir.

Di tempat seperti ini, orang tidak lagi sekadar datang untuk suatu tujuan. Mereka datang untuk berada.

Dan mungkin, di situlah perubahan itu dimulai.

Baca Juga: Ketika Keberlanjutan menjadi Arah Baru Pengembangan Properti

Keterbukaan di Beachwalk Shopping Center

Berjalan di dalam Beachwalk Shopping Center, pengalaman tersebut terasa sejak langkah pertama. Tidak ada lorong tertutup yang memanjang tanpa jeda. Tidak ada transisi yang kaku antara satu ruang dengan ruang lainnya.

Sebaliknya, yang hadir adalah keterbukaan.

Terletak di kawasan Kuta yang padat dan sangat turistik, proyek ini justru mengambil arah yang berbeda dari tipologi pusat belanja pada masanya. Ketika banyak mal dibangun sebagai ruang tertutup yang sepenuhnya bergantung pada pendingin udara, Beachwalk memilih untuk membuka diri—membiarkan angin laut, cahaya alami, dan lanskap tropis menjadi bagian dari pengalaman.

Ruang-ruangnya dirancang sebagai open-air mall, dengan ventilasi alami yang memungkinkan pengunjung merasakan pergerakan udara tanpa batas. Atap dengan pendekatan arsitektur tradisional memberi perlindungan sekaligus identitas, sementara vegetasi hadir sebagai elemen yang menyatu, bukan sekadar pelengkap visual.

“Kondisi ini sengaja diciptakan sehingga ketika orang datang mereka merasakan seperti sedang menikmati leisure atau berjalan-jalan,” ungkap Agoes Soelistyo Santoso, Komisaris Paradise Indonesia.

Pendekatan ini menjadi kontras dengan generasi mal sebelumnya—yang cenderung seragam, tertutup, dan terlepas dari konteks lingkungannya. Di sini, berjalan bukan lagi sekadar berpindah dari satu tenant ke tenant lain, tetapi menjadi pengalaman yang berlapis.

Sebuah perjalanan yang terasa lebih dekat dengan kota, bahkan dengan alam.

Pendekatan terbuka ini tidak hanya menciptakan pengalaman yang lebih alami, tetapi juga secara tidak langsung mengurangi ketergantungan pada sistem mekanis seperti pendingin udara—sebuah langkah yang hari ini semakin relevan dalam konteks efisiensi energi dan keberlanjutan.

Baca Juga: Inovasi dan Kreativitas Kunci Sukses Paradise Indonesia dalam Mengembangkan Properti

HARRIS Kuta, hotel simpel, unik, dan friendly untuk menginap, tetapi untuk berkumpul, bekerja ringan, atau sekadar menghabiskan waktu. (Foto: Paradise Indonesia)

HARRIS: Standar Baru Desain Hospitality

Pendekatan serupa, dalam bentuk yang berbeda, juga muncul pada HARRIS Hotels.

Jika Beachwalk mengubah cara orang merasakan ruang komersial, maka HARRIS menggeser cara orang memandang hotel.

Pada awal 2000-an, hotel masih identik dengan formalitas. Sebuah ruang yang memiliki jarak—baik secara visual maupun sosial. Masuk ke hotel berarti memasuki dunia yang lebih kaku, lebih eksklusif, dan dalam banyak hal, tidak sepenuhnya terasa dekat.

Hotel pada masa itu lebih berfungsi sebagai tempat singgah—efisien, tetapi sering kali terasa berjarak. Interaksi terjadi seperlunya, dan ruang-ruangnya tidak dirancang untuk ditinggali dalam arti yang lebih luas.

Harris Hotel Kuta Bali
HARRIS HOTEL Tuban-Bali, trendsetter hotel berkonsep simpel, unik, dan friendly. (Foto: DiscoverASR)

HARRIS datang dengan pendekatan yang hampir berlawanan.

Simpel, unik, dan friendly—tiga kata yang pada saat itu terasa tidak lazim untuk menggambarkan sebuah hotel. Namun justru di situlah letak pergeserannya. Hotel tidak lagi dibangun untuk menciptakan jarak, tetapi untuk membuka interaksi.

“Proyek pertama kami adalah membangun hotel untuk kalangan anak muda yang saat itu belum memiliki pasar. Dari situlah HARRIS pertama di dunia lahir di Tuban, Bali,” ujar Agoes Soelistyo Santoso.

Dengan cirikhas hotel berwarna orange, karyawan HARRIS saat itu tidak menggunakan formal dress, tidak memakai sepatu kulit dan diganti sneakers, dan bahkan karyawan wanita dilengkapi dengan aksesori rambut berupa bandana. Menjadi hotel yang benar-benar berbeda saat itu.

Ruang-ruang komunal menjadi pusat aktivitas. Area duduk terasa lebih santai, lebih cair, dan lebih sosial. Orang tidak hanya datang untuk menginap, tetapi untuk berkumpul, bekerja ringan, atau sekadar menghabiskan waktu.

Pendekatan ini, jika dilihat hari ini, terasa sangat relevan. Bahkan menjadi standar baru dalam banyak desain hospitality.

Namun pada saat itu, ini adalah sebuah intuisi—sebuah keberanian membaca peluang yang belum terlihat, yang diwujudkan oleh PT Indonesian Paradise Property Tbk. sebagai pengembang HARRIS pertama di Tuban, Bali.

Pendekatan-pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa perubahan dalam cara merancang ruang sering kali dimulai jauh sebelum istilah atau tren besar diperkenalkan. Apa yang hari ini dikenal sebagai building tomorrow, dalam banyak hal, telah hadir lebih dulu sebagai cara berpikir—tentang bagaimana ruang bisa menjawab kebutuhan manusia yang terus berkembang.

Ruang adalah Bagian dari Pengalaman

Apa yang menarik dari dua pendekatan ini bukan hanya perbedaannya, tetapi kesamaan yang mendasarinya.

Keduanya tidak dimulai dari bentuk, melainkan dari cara manusia akan menggunakan dan merasakan ruang.

Dalam pemikiran Jan Gehl (arsitek dan konsultan desain), kualitas sebuah kota—dan ruang di dalamnya—ditentukan bukan dari seberapa ikonik tampilannya, tetapi dari bagaimana ia mendukung kehidupan sehari-hari manusia. Seberapa nyaman orang berjalan, berhenti, dan berinteraksi.

Prinsip inilah yang, secara sadar atau tidak, mulai terlihat dalam proyek-proyek seperti ini.

Ruang tidak lagi menjadi latar, tetapi menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri.

Ruang yang baik bukan hanya dilihat, tetapi mampu membuat orang ingin tinggal lebih lama—dan kembali.

Di titik ini, lifestyle destination tidak lagi bisa dipahami sebagai sekadar istilah pemasaran. Ia menjadi pendekatan desain—bahkan strategi—yang membentuk cara ruang diciptakan.

Tempat-tempat seperti ini tidak hanya menawarkan fungsi, tetapi menghadirkan kemungkinan: untuk bertemu, untuk berhenti, untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu.

Dan dari pengalaman-pengalaman kecil yang terjadi di dalamnya, sebuah kota perlahan menemukan ritmenya.

Mungkin, building tomorrow memang tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.

Ia bisa hadir dari cara sederhana: bagaimana sebuah ruang membuat manusia merasa lebih terhubung—dengan lingkungannya, dan dengan satu sama lain. (RR)

Baca Juga: Kenalkan Identitas Baru, Paradise Indonesia Kampanyekan Building Tomorrow

Cek berita produk dan ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom