Ranahrumah.com – PROPERTI | Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia tengah memasuki fase urbanisasi yang semakin padat. Mobilitas menjadi tantangan harian, dengan waktu perjalanan pekerja yang bisa mencapai satu hingga dua jam per hari. Dalam kondisi seperti ini, efisiensi tidak lagi hanya soal teknologi atau sistem kerja, tetapi juga soal di mana sebuah bisnis beroperasi.
Proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2035 sekitar 67% penduduk Indonesia akan tinggal di wilayah perkotaan. Bersamaan dengan itu, peningkatan penggunaan transportasi publik seperti MRT dan LRT menandai perubahan preferensi masyarakat terhadap kawasan yang lebih terkoneksi dan mudah dijangkau.
Di sinilah konsep near me economy—ekonomi berbasis kedekatan—menjadi relevan. Masyarakat kini lebih memilih bekerja, berbelanja, dan beraktivitas di area yang saling terhubung dalam radius dekat. Mixed-use development hadir sebagai bentuk nyata dari perubahan tersebut.
Dalam praktiknya, pendekatan ini mulai diterjemahkan ke dalam pengembangan kawasan yang menyatukan fungsi hunian, perkantoran, dan area komersial dalam satu ekosistem. Hunian yang dirancang sebagai bagian dari lingkugan hidup yang terintegrasi, seperti yang diterapkan pada Arumaya Residence di Jakarta Selatan, mencerminkan bagaimana konsep near me economy bekerja dalam satu kawasan.
Baca Juga: Pengembang Township Mendominasi Penghargaan di PropertyGuru Indonesia Property Awards 2025
Lima Alasan Strategis
Berikut lima alasan mengapa konsep ini semakin dipandang sebagai pilihan strategis bagi bisnis modern.
1. Kedekatan dengan Aktivitas Harian dan Konsumen
Tren pencarian layanan berbasis lokasi atau “near me” menunjukkan perubahan signifikan dalam perilaku konsumen. Kedekatan geografis kini menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan—baik untuk memilih tempat makan, layanan, maupun lokasi kerja.
Bagi bisnis, berada di kawasan yang menyatu dengan aktivitas harian masyarakat berarti hadir di tengah arus kehidupan kota, bukan sekadar menjadi tujuan yang harus didatangi secara khusus.
Baca Juga: Bagaimana AI Mengubah Cara Kita Merancang Hidup
2. Mendukung Pola Kerja yang Lebih Seimbang
Mixed-use development mengaburkan batas kaku antara bekerja, tinggal, dan beristirahat. Akses yang lebih dekat ke fasilitas harian—mulai dari ruang kerja, area makan, hingga ruang terbuka—memberi dampak langsung pada kualitas hidup pekerja urban.
Prinsip serupa juga diterapkan pada sektor perkantoran, di mana lokasi kerja tidak lagi dipilih semata karena alamat prestisius, tetapi karena keterhubungannya dengan aktivitas harian. Lingkungan kerja yang mengintegrasikan akses transportasi, fasilitas pendukung, dan kenyamanan karyawan kini menjadi pertimbangan utama perusahaan modern.
Lingkungan seperti ini membantu menciptakan ritme kerja yang lebih sehat, yang pada akhirnya berkontribusi pada produktivitas dan retensi karyawan.
3. Traffic yang Lebih Stabil dari Beragam Segmen
Berbeda dengan kawasan satu fungsi, mixed-use development menghadirkan beberapa lapisan pengguna sekaligus: penghuni, pekerja, dan pengunjung. Masing-masing memiliki pola aktivitas dan konsumsi yang berbeda sepanjang hari.
Kombinasi ini menciptakan dinamika kawasan yang lebih hidup dan stabil, sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu segmen pasar saja.
4. Efisiensi Operasional dan Arah Keberlanjutan
Ekosistem terintegrasi memungkinkan penggunaan infrastruktur bersama, mulai dari sistem keamanan hingga manajemen energi. Hal ini membantu menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan efisiensi jangka panjang.
Tak hanya itu, banyak pengembangan mixed-use modern juga mulai mengadopsi prinsip bangunan hijau, sejalan dengan meningkatnya kesadaran perusahaan terhadap isu keberlanjutan dan tanggung jawab lingkungan.
Baca Juga: Best Greenship Performace Neigborhood Penghargaan GBCI untuk Standar Baru Hunian Hijau
5. Ketahanan Nilai dalam Jangka Panjang
Diversifikasi fungsi dalam satu kawasan memberikan daya tahan yang lebih baik terhadap fluktuasi ekonomi. Ketika satu sektor melambat, sektor lain dapat menjaga keseimbangan aktivitas.
Bagi bisnis yang berpikir jangka panjang, lokasi dengan konektivitas tinggi, akses transportasi publik, dan konsep berkelanjutan menawarkan kepastian yang semakin penting di masa depan.
Mixed-Use Development sebagai Wajah Baru Kota
Di Jakarta Selatan, kawasan R.A. Kartini menjadi salah satu contoh bagaimana pendekatan ini diterapkan. Melalui pengembangan mixed-use seperti The Arumaya, konsep hunian urban, perkantoran, dan area komersial dirancang untuk saling terhubung dalam satu ekosistem urban.
Dengan pendekatan desain yang menekankan integrasi dan konektivitas, proyek semacam ini mencerminkan bagaimana properti tidak lagi berdiri sebagai objek tunggal, melainkan sebagai bagian dari sistem kehidupan kota yang lebih luas.
Preferensi masyarakat urban terhadap lingkungan yang praktis dan terkoneksi turut mendorong lahirnya berbagai kawasan hunian dengan konsep terintegrasi di Jakarta, termasuk yang berkembang di area Antasari.
Ke depan, mixed-use development berpotensi menjadi standar baru dalam perencanaan kota—bukan hanya sebagai solusi spasial, tetapi sebagai respons terhadap perubahan cara manusia bekerja, bergerak, dan hidup di kota besar. (RR)
Baca Juga: Banjir Perkotaan dan Masa Depan Infrastruktur Hijau
Cek berita keberlanjutan, ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook Ranah Rumah, Instagram @ranahrumahcom.



