
Ranahrumah.com – PROPERTI | Investasi properti dengan membeli lahan kosong (tanah) lebih banyak risikonya dibanding dengan membeli rumah. Membeli tanah (lahan) bisa dilakukan dengan membeli kaveling dari pengembang atau membeli lahan yang dijual secara perseorangan.
Yang harus diingat, membeli tanah yang bukan dari pengembang tidak akan bisa mendapat bantuan dana dari bank. Karena bank akan memberi dana jika sudah ada bangunannya.
Baca Juga: Peluang Investasi Properti di Jepang dan Malaysia melalui Xavier Marks
Baca Juga: Preferensi Pembeli Properti Lintas Negara: Tren Fleksibilitas dan Fungsionalitas
Penting Dilakukan
Beberapa hal ini perlu dipastikan dan dilakukan agar investasi tanah tidak berisiko buntung.
Legalitas
Bukan hanya mengandalkan adanya sertifikat. “Bisa-bisa pegang sertifikat tapi tanahnya sudah diduki orang lain,” ujar Matius, pakar properti, dalam sebuah seminar. Meski mendapat harga yang murah, investasi yang salah seperti ini bisa mendatangkan kerugian, karena perlu biaya mahal untuk mengeksekusi lahan. Karenanya, legalitas tanah perlu dipastikan, apakah tanah itu dalam sengketa atau tidak.
“Membeli tanah melalui pengembang, lebih terjamin legalitasnya,” ucapnya menambahkan. Untuk mengetahui tanah sedang dalam sengketa atau tidak, ada trik yang disampaikan oleh Michael Gunarto, pakar properti. Mintalah penjual memasang papan nama, bahwa tanah itu miliknya, selama minimal 2 bulan. Jika 2 bulan tidak ada yang mengajukan komplain, baru Anda membelinya.
Regulasi
Selain hal-hal penting seperti tersebut di atas, membeli lahan harus memperhatikan regulasi yang berlaku. Setiap membeli tanah, cek ke Dinas Tata Kota, lihat aturan peruntukan tanahnya apakah untuk tempat permukiman, apakah termasuk zoning usaha, dll. Sesuaikan dengan tujuanmu saat membeli tanah itu. Jika ingin mengembangkannya menjadi bangunan sentra niaga, maka pastikan bahwa zoning lahan bukan untuk permukiman. Jika salah peruntukan, maka dipastikan kamu tak akan bisa mendirikan bangunan untuk perniagaan di sana.
Pagari
Jika lahan sudah menjadi milikmu, segera bikin batas (diberi pagar), ini untuk menghindari pedagang liar, pembuang sampah sembarangan, dll
Jaminkan ke Bank
Bank adalah institusi nasional yang dilindungi hukum, dan biasanya ketika kita menjaminkan tanah kita, akan diadakan pengukuran lagi oleh bank. Jika nantinya di luar kontrol kita ada masalah dengan kepemilikan tanah kita, maka pengukuran dan penilaian bank akan mendapat pembelaan secara hukum.
Baca Juga: Investasi Properti di Kawasan Sub Urban Timur Sydney Lebih Diminati, Ini Alasannya
Maksimalkan Tanah
Memaksimalkan keuntungan, kita harus dirikan bangunan di atasnya. Bangunan apa yang cocok? “Bukan apa yang kita mau yang kita bangun, tapi apa yang masyarakat mau dan butuhkan,” ujar Michael memberi tip jenis bangunan apa yang cocok.
Perhatikan juga waktu membangunnya. Michael memberi contoh, seperti yang dilakukan oleh pengembang pada umumnya, misalnya ingin membangun sebuah ruko, maka di lokasi itu minimal harus sudah ada 50 rumah terbangun.
Baca Juga: Ketahui Tren yang Pengaruhi Pasar Lanskap Properti di Bali
5 Kunci Sukses
Betikut 5 kunci memaksimalkan lahan investasi.
1. Mencari lokasi yang baik.
2. Mendesain properti dengan arsitek yang baik, yang punya nama. Karena ini merupakan nilai jual. Jangan copy paste desain. Beranilah membayar dengan mahal, asalkan produk yang dihasilkan bagus.
3. Membangun dengan kualitas tinggi, jangan hanya mengejar harga murah.
4. Menjual dengan cepat. Kalau bisa, properti sudah terjual semua sebelum bangunan jadi.
5. Maintenance (rawat) dengan baik.
Nah, setelah memahami semua ini, kamu bisa mewujudkan keinginanmu untuk investasi lahan atau tanah yang menjanjikan untung dengan risiko yang minimal. (RR)
Baca Juga: 60 Penghargaan PropertyGuru Property Indoensia Awards 2025 untuk Property Indonesia
Cek berita dari dunia properti lainnya, gaya hidup, dan inovasi produk baru, ulasan inspiratif ranahnya rumah lainnya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom


