Ekspansi Bisnis ke Luar Negeri Tak Cukup Modal Berani, Ini Tantangan yang Sering Terlupakan

Menembus pasar internasional menjadi impian banyak perusahaan. Namun, keberhasilan ekspansi ternyata bukan hanya ditentukan oleh kualitas produk atau besarnya investasi. Memilih lokasi usaha, memahami regulasi, hingga menyesuaikan diri dengan budaya bisnis setempat sering kali menjadi tantangan yang justru menentukan berhasil atau tidaknya ekspansi. Gambaran tersebut terungkap dalam riset terbaru JLL terhadap perusahaan-perusahaan Tiongkok yang tengah berekspansi ke berbagai negara.

Ilustrasi seseorang sedang membaca berita tentang ekspansi bisnis
JLL Konsultan Properti - Ekspansi bisnis ke luar negeri perusahaan Tiongkok: strategi corporate real estate, tantangan dan hambatan. (Ilustrasi Foto: Pexels)

Ranahrumah.com – PROPERTI | Banyak perusahaan bermimpi membawa bisnisnya menembus pasar internasional. Peluangnya memang besar, tetapi keberhasilan ekspansi ternyata tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk atau besarnya investasi.

Ada satu faktor yang sering luput dari perhatian saat ekspansi bisnis, yakni bagaimana perusahaan menyiapkan strategi corporate real estate, mulai dari memilih lokasi, memahami regulasi setempat, menyiapkan kantor atau fasilitas operasional, hingga mengelola aset di negara tujuan.

Riset terbaru JLL menunjukkan, persoalan inilah yang justru menjadi sumber berbagai hambatan ketika perusahaan mulai berekspansi ke luar negeri.

Memilih Lokasi Ternyata Menjadi Tantangan Terbesar

Dalam riset “Thriving Beyond: Corporate Real Estate Strategies for Chinese Companies Going Global“, JLL menemukan bahwa 82% perusahaan Tiongkok yang melakukan ekspansi internasional menghadapi kendala tak terduga saat menentukan lokasi usaha di negara tujuan.

Dampaknya tidak kecil.

Hampir dua pertiga perusahaan mengalami keterlambatan proyek yang mengganggu jadwal ekspansi, sementara lebih dari separuh harus mengeluarkan biaya lebih besar dari rencana awal. Bahkan, sebagian perusahaan akhirnya memilih lokasi sementara yang sebenarnya kurang ideal agar operasional dapat segera berjalan.

Padahal, hampir seluruh responden (97%) menganggap ekspansi internasional sebagai bagian penting dari strategi pertumbuhan perusahaan.

Baca Juga: JLL Pertahankan Posisi Puncak sebagai Penasihat Investasi Properti 5 Tahun Berturut-turut

Tantangannya Bukan Sekadar Mencari Gedung atau Kantor

Saat memasuki pasar baru, perusahaan sering kali menganggap mencari kantor, gudang, atau toko hanyalah urusan administratif. Faktanya jauh lebih kompleks.

Menurut survei JLL, tantangan terbesar justru berasal dari perbedaan cara kerja di setiap negara.

Sebanyak 78% responden mengaku kesulitan menyesuaikan ekspektasi mengenai waktu respons dan proses bisnis. Selain itu, banyak perusahaan belum memahami praktik properti lokal, mulai dari sistem sewa, standar bangunan, hingga kebiasaan negosiasi yang berbeda dengan negara asal.

“Commercial real estate memiliki cara kerja yang berbeda di setiap wilayah, dan perbedaan tersebut dapat dengan mudah menimbulkan kesalahpahaman bahkan perselisihan kontrak bagi perusahaan yang belum memiliki pemahaman mendalam terhadap pasar lokal,” jelas Anny Zhang, Co-CEO Greater China, JLL.

Kurangnya pemahaman terhadap kondisi pasar lokal juga membuat perusahaan kesulitan menentukan apakah sebuah lokasi sudah sesuai dengan kebutuhan bisnis maupun nilai sewanya.

Regulasi, Budaya, hingga Bahasa Bisa Menjadi Hambatan

Memasuki pasar internasional berarti memasuki lingkungan hukum dan budaya yang sama sekali baru. Perusahaan tidak hanya harus memahami aturan properti dan perizinan, tetapi juga berhadapan dengan perbedaan budaya kerja, bahasa, hingga pola komunikasi bisnis.

Akibatnya, tidak sedikit perusahaan mengalami hambatan ketika bernegosiasi dengan pemilik properti, menghadapi klausul kontrak yang berbeda, atau salah menafsirkan ketentuan operasional di negara tujuan.

Menurut Daniel Yao, Head of Research China, JLL, banyak perusahaan mengakui belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai kondisi pasar properti lokal sehingga sulit mengambil keputusan yang tepat.

Saat melakukan ekspansi ke luar negeri, untuk membuka kantor baru perlu kolaborasi banyak tim dari divisi lain seperti legal, keuangan, teknologi informasi, maupun corporate real estate (Ilustrasi Foto: Pexels)

Membuka Kantor Pertama di Luar Negeri Perlu Kolaborasi Banyak Tim

Salah satu temuan menarik dalam riset ini adalah tantangan ketika perusahaan membuka kantor pertamanya di luar negeri. Kesalahan sering terjadi karena proses pencarian lokasi hanya ditangani oleh tim bisnis, tanpa melibatkan divisi lain seperti legal, keuangan, teknologi informasi, maupun corporate real estate.

Padahal setiap keputusan lokasi akan memengaruhi banyak aspek, mulai dari biaya operasional, kebutuhan infrastruktur digital, kepatuhan hukum, hingga kenyamanan karyawan yang nantinya bekerja di sana.

Semakin awal seluruh fungsi perusahaan dilibatkan, semakin kecil risiko munculnya biaya tambahan maupun perubahan lokasi di kemudian hari.

Baca Juga: Xavier Marks Buka Peluang Investasi Properti di Jepang dan Malaysia

Setiap Jenis Bisnis Menghadapi Tantangan Berbeda

Riset JLL juga menunjukkan bahwa tantangan akan berbeda sesuai jenis aset yang dibutuhkan.

Perusahaan ritel, misalnya, harus bersaing mendapatkan lokasi premium sekaligus memenuhi persyaratan finansial dari pemilik properti. Mereka juga harus menyesuaikan desain toko dengan regulasi bangunan di masing-masing negara.

Sementara perusahaan logistik dan industri menghadapi persoalan lain. Di Eropa, misalnya, kontrak sewa umumnya berlangsung tujuh hingga sepuluh tahun, berbeda dengan kebiasaan perusahaan di Tiongkok yang lebih terbiasa menggunakan kontrak jangka pendek.

Perusahaan yang membutuhkan fasilitas khusus, seperti gudang bersertifikasi atau pusat data, juga harus menghadapi keterbatasan pasokan serta standar kepatuhan yang berbeda di setiap negara.

Baca Juga: Dari Ruang ke Dampak: Bagaimana Strategi Properti Membentuk Nilai dan Reputasi

Apa yang Bisa Disiasati Sejak Awal?

Menurut JLL, sebagian besar kendala tersebut sebenarnya dapat dikurangi melalui perencanaan yang matang sebelum ekspansi dilakukan.

Salah satu strategi yang disarankan adalah memulai operasional menggunakan flexible office. Model ini memungkinkan perusahaan menghemat investasi awal karena fasilitas kerja, furnitur, hingga layanan administratif telah tersedia. Setelah bisnis berkembang dan kebutuhan ruang lebih jelas, perusahaan dapat beralih ke kantor konvensional dengan struktur biaya yang lebih efisien.

“Kabar baiknya, sebagian besar tantangan tersebut dapat dihindari melalui perencanaan yang matang dan dukungan profesional yang tepat,” ujar Anny Zhang.

Selain itu, perusahaan juga perlu:

  • melakukan riset pasar sebelum menentukan lokasi;
  • memahami regulasi dan kebijakan properti di negara tujuan;
  • melibatkan tim legal, keuangan, SDM, dan IT sejak tahap awal;
  • mempelajari budaya bisnis lokal;
  • bekerja sama dengan konsultan yang memahami kondisi pasar setempat.

Indonesia Berpeluang Menjadi Tujuan Ekspansi

JLL melihat tren China+1 membuka peluang bagi Indonesia.

Semakin banyak perusahaan Tiongkok mempertimbangkan Indonesia sebagai basis produksi maupun pusat operasional regional. Kondisi ini diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan terhadap kawasan industri, gudang logistik, hingga ruang perkantoran.

Menurut Farazia, Country Head JLL Indonesia, perusahaan kini semakin menyadari bahwa keberhasilan ekspansi tidak hanya ditentukan oleh peluang pasar, tetapi juga oleh kesiapan strategi dan kemampuan memahami dinamika lokal.

“Keberhasilan ekspansi tidak lagi cukup hanya dengan melihat peluang pasar, tetapi juga membutuhkan dukungan mitra yang tepat serta pemahaman yang mendalam terhadap dinamika pasar lokal guna mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat dan berkelanjutan.”

Baca Juga: Panduan Cerdas Investasi Properti Lintas Negara: Jangan Lakukan Kesalahan Umum Ini

Perencanaan Menjadi Investasi Terbaik

JLL menunjukkan bahwa ekspansi internasional bukan sekadar membuka kantor di negara lain. Di baliknya ada keputusan strategis mengenai lokasi, regulasi, budaya bisnis, hingga pengelolaan aset yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya sebuah ekspansi.

Karena itu, semakin matang perencanaan dilakukan sejak awal, semakin besar peluang perusahaan membangun operasional global yang efisien, berkelanjutan, dan mampu bersaing di pasar internasional.

Meski riset ini dilakukan terhadap perusahaan-perusahaan Tiongkok, tantangan yang ditemukan pada dasarnya juga relevan bagi perusahaan dari negara lain yang ingin memasuki pasar global. Ekspansi internasional bukan sekadar mencari pasar baru, tetapi juga tentang memahami lingkungan bisnis yang berbeda, membangun kolaborasi lintas fungsi di dalam perusahaan, serta menyiapkan strategi properti yang mendukung pertumbuhan jangka panjang. (RR)

Baca Juga: Preferensi Pembeli Properti Lintas Negara

Cek berita properti, ulasan inspiratif ranahnya rumah, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom