Benarkah Atap Asbes Menyebabkan Kanker Paru? Kenali Bahayanya bagi Penghuni Rumah

Atap asbes masih bisa ditemukan pada banyak rumah di Indonesia. Lalu, apakah keberadaannya otomatis membahayakan penghuni rumah? Yang perlu dipahami bukan hanya materialnya, tetapi serat asbestos yang dapat terlepas ke udara dan terhirup.

Rumah dengan atap asbes
Pada rumah dengan atap asbes, persoalan kesehatan terkait kanker paru, bukan semata-mata keberadaan lembaran atap yang mengandung asbestos, tetapi paparan serat asbestos yang terlepas ke udara dan kemudian terhirup.

Ranahrumah.com – KESEHATAN | Ketika berbicara tentang atap asbes, sering muncul pertanyaan sederhana: apakah tinggal di rumah dengan atap asbes berarti penghuni berisiko terkena kanker paru?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Yang menjadi persoalan kesehatan bukan semata-mata keberadaan lembaran atap yang mengandung asbestos, tetapi paparan serat asbestos yang terlepas ke udara dan kemudian terhirup.

World Health Organization (WHO) menyebut seluruh jenis asbestos dapat menyebabkan kanker paru, mesothelioma, kanker laring dan ovarium, serta asbestosis atau fibrosis paru. Paparan terjadi terutama melalui inhalasi serat asbestos di udara, termasuk dari material asbestos yang rapuh atau mudah melepaskan serat di dalam bangunan.

Karena itu, kondisi material menjadi penting.

Atap asbes yang masih utuh dan tidak terganggu memiliki kemungkinan pelepasan serat yang berbeda dibandingkan material yang rusak, lapuk, dipotong, dibor, dipecahkan, diamplas, atau dibongkar.

Namun, bukan berarti asbestos dapat disebut aman. WHO menyatakan tidak terdapat tingkat paparan asbestos yang diketahui benar-benar aman, sehingga paparan perlu ditekan serendah mungkin.

Baca Juga: Timbal di Rumah; Ancaman Sunyi dari Cat, Plastik, hingga Peralatan Masak

Mengapa Serat Asbestos Berbahaya bagi Paru-paru?

Asbestos merupakan kelompok mineral berserat. Ketika material yang mengandung asbestos terganggu, serat yang sangat kecil dapat terlepas ke udara.

Serat tersebut dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan. Sebagian dapat menetap di jaringan paru dan dalam jangka panjang berkontribusi terhadap proses peradangan serta kerusakan jaringan yang berkaitan dengan penyakit akibat asbestos.

Bukti ilmiahnya sudah sangat kuat. WHO menggolongkan asbestos sebagai karsinogen bagi manusia dan menyatakan seluruh jenis asbestos dapat menyebabkan kanker paru.

International Agency for Research on Cancer (IARC) juga menempatkan seluruh jenis asbestos dalam Group 1, karsinogen bagi manusia.

Yang perlu diperhatikan, dampak paparan asbestos tidak selalu muncul segera. Penyakit terkait asbestos memiliki masa laten yang panjang sehingga gangguan kesehatan dapat baru terdiagnosis bertahun-tahun setelah paparan terjadi.

Baca Juga: Cat Mengelupas Bisa Jadi Ancaman Kesehatan yang Tak Terlihat

Kapan Atap Asbes Lebih Berisiko?

Salah satu hal penting yang perlu diketahui penghuni rumah adalah jangan mengganggu material asbes tanpa alasan dan tanpa prosedur yang tepat.

Risiko pelepasan serat dapat meningkat ketika material:

  • rusak atau lapuk;
  • dipotong;
  • dibor;
  • diamplas;
  • dipecahkan;
  • dibongkar; atau
  • dikerjakan dengan cara yang menghasilkan debu.

Karena itu, jika rumah masih menggunakan atap yang diduga mengandung asbestos dan kondisinya masih baik, tidak berarti penghuni harus panik atau langsung membongkarnya sendiri.

Justru, pembongkaran sembarangan dapat menjadi persoalan baru karena aktivitas tersebut berpotensi melepaskan serat ke udara.

Baca Juga: Fakta tentang Jamur di Rumah dan Cara Membasminya

Selanjutnya: Indonesia Sudah Mengatur Pemakaian Asbes Sejak 1985 (Halaman 2)