Benarkah Atap Asbes Menyebabkan Kanker Paru? Kenali Bahayanya bagi Penghuni Rumah

Atap asbes masih bisa ditemukan pada banyak rumah di Indonesia. Lalu, apakah keberadaannya otomatis membahayakan penghuni rumah? Yang perlu dipahami bukan hanya materialnya, tetapi serat asbestos yang dapat terlepas ke udara dan terhirup.

Atap asbes pada rumah dan kaitannya dengan kesehatan paru-paru penghuni. Persoalannya bukan sekadar “boleh atau tidak boleh ada atap asbes”, melainkan bagaimana paparan serat asbestos dikendalikan dan diminimalkan, terutama ketika material ditangani atau mengalami kerusakan.

Indonesia Sudah Mengatur Pemakaian Asbes Sejak 1985

Menariknya, kekhawatiran terhadap dampak serat asbestos terhadap kesehatan bukanlah isu baru.

Indonesia telah memiliki Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. PER.03/MEN/1985 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pemakaian Asbes.

Peraturan yang ditetapkan pada 1985 tersebut secara eksplisit menyebut bahwa debu serat asbes yang terkandung di udara dapat membahayakan manusia. Aturan ini dibuat untuk melindungi tenaga kerja yang terlibat dalam proses produksi atau pekerjaan yang menggunakan bahan asbes.

Peraturan tersebut antara lain melarang penggunaan asbes atau bahan yang mengandung asbes dengan cara disemprotkan dan melarang setiap proses atau pekerjaan yang menggunakan asbes biru atau crocidolite. Pengurus juga diwajibkan menyediakan alat pelindung diri serta memberikan informasi mengenai bahaya paparan asbes dan cara kerja yang aman.

Artinya, sejak lebih dari empat dekade lalu, aspek paparan serat asbestos dan perlindungan terhadap kesehatan manusia sudah menjadi perhatian dalam regulasi Indonesia.

Namun, penting untuk tidak salah memahami aturan ini sebagai larangan menyeluruh terhadap semua penggunaan material asbes pada bangunan.

Badan Standardisasi Nasional (BSN) masih mencatat SNI 03-2840-1992, Tata cara pengerjaan lembaran asbes semen untuk penutup atap pada bangunan rumah dan gedung, dengan status berlaku.

Jadi, persoalannya bukan sekadar “boleh atau tidak boleh ada atap asbes”, melainkan bagaimana paparan serat asbestos dikendalikan dan diminimalkan, terutama ketika material ditangani atau mengalami kerusakan.

Jika Rumah Masih Menggunakan Atap Asbes, Haruskah Panik?

Tidak.

Yang lebih penting adalah memahami kondisi material dan tidak melakukan pekerjaan yang dapat melepaskan serat secara sembarangan.

Jika atap masih dalam kondisi baik, hindari memotong, mengebor, mengamplas, atau melakukan aktivitas lain yang dapat merusak material.

Jika atap rusak dan perlu diganti, jangan melakukan pembongkaran sendiri tanpa mengetahui prosedur penanganan material yang mengandung asbestos. Pekerjaan tersebut sebaiknya dilakukan dengan metode yang meminimalkan pelepasan serat ke udara dan memperhatikan perlindungan bagi pekerja maupun penghuni rumah.

Hal ini terutama penting karena pekerja konstruksi dan renovasi dapat menghadapi paparan lebih tinggi ketika melakukan pembongkaran atau pekerjaan yang mengganggu material asbestos. WHO mencatat paparan asbestos di sektor konstruksi masih menjadi persoalan kesehatan kerja di berbagai negara.

Dengan kata lain, atap asbes yang sudah ada tidak perlu menjadi alasan untuk panik, tetapi juga bukan sesuatu yang sebaiknya diperlakukan sembarangan.

Kanker Paru Bukan Hanya soal Asbes

Membahas bahaya asbestos penting, tetapi jangan sampai membuat kita lupa bahwa kanker paru memiliki banyak faktor risiko lain.

Menurut WHO, merokok merupakan faktor risiko utama kanker paru. Faktor lainnya antara lain paparan asap rokok orang lain, polusi udara di luar maupun di dalam rumah, radon, serta paparan zat berbahaya seperti asbestos, silica, dan diesel exhaust di lingkungan kerja.

Karena itu, ketika berbicara tentang kesehatan paru-paru penghuni rumah, perhatian sebaiknya tidak hanya diarahkan pada material bangunan.

Asap Rokok

Rumah bebas asap rokok merupakan salah satu langkah penting untuk melindungi paru-paru penghuni.

Bukan hanya perokok yang menghadapi risiko. Penghuni lain yang terus-menerus menghirup asap rokok orang di sekitarnya juga dapat terpapar zat berbahaya.

WHO menempatkan paparan asap rokok, termasuk secondhand smoke, sebagai salah satu faktor risiko penting kanker paru.

Baca Juga: Atasi Polusi Udara Mulai dari Rumah, Kenali 6 Pemicu dan Sumberya

Polusi Udara

Udara yang masuk dan beredar di rumah juga perlu diperhatikan.

Polusi udara luar ruang maupun sumber polutan tertentu di dalam rumah dapat berkontribusi terhadap risiko penyakit paru. Karena itu, ventilasi, pengendalian sumber polusi, dan kualitas udara dalam ruang merupakan bagian dari rumah yang sehat.

Radon

Ada pula faktor yang mungkin masih kurang dikenal di Indonesia, yaitu radon.

Radon merupakan gas radioaktif alami yang dapat masuk ke dalam bangunan dari tanah. Paparan dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko kanker paru. WHO memasukkan radon sebagai salah satu faktor risiko kanker paru selain asap rokok, polusi udara, dan asbestos.

Rumah Sehat Bukan Hanya soal Material yang Terlihat

Rumah biasanya dinilai sehat dari hal-hal yang mudah terlihat: pencahayaan baik, ventilasi cukup, tidak lembap, dan bersih.

Padahal, kesehatan penghuni juga dipengaruhi oleh sesuatu yang tidak selalu terlihat—apa yang ada di udara dan apa yang mungkin terhirup setiap hari.

Asbestos menjadi salah satu contohnya.

Bukan berarti setiap rumah dengan atap asbes otomatis merupakan rumah yang berbahaya. Yang penting adalah memahami bahwa ketika material yang mengandung asbestos rusak atau terganggu, seratnya dapat terlepas dan terhirup. Dan berdasarkan bukti ilmiah, paparan asbestos memang berkaitan dengan kanker paru dan penyakit serius lainnya.

Karena itu, rumah sehat bukan hanya tentang memilih material yang terlihat aman, tetapi juga tentang mengetahui bagaimana material tersebut digunakan, dirawat, diperbaiki, dan—ketika waktunya tiba—dibongkar dengan cara yang tepat. (RR)

Baca Juga: LG PuriCare AeroMini, Pemurni Udara Mini untuk Jangkauan Ruang hingga 27 m2

Catatan Ranahrumah

Ada satu pelajaran penting dari isu asbestos: kesehatan rumah tidak selalu bisa dinilai dari apa yang terlihat mata.

Atap yang tampak biasa saja bisa memiliki persoalan kesehatan jika materialnya rusak dan seratnya terlepas. Sebaliknya, kepanikan untuk segera membongkar atap lama tanpa prosedur yang tepat juga bukan langkah bijak.

Karena itu, ketika memilih atau merenovasi rumah, kesehatan sebaiknya menjadi bagian dari pertimbangan sejak awal—bersama desain, fungsi, kenyamanan, dan keamanan.

Sebab rumah yang baik bukan hanya rumah yang nyaman ditinggali hari ini, tetapi juga rumah yang meminimalkan risiko kesehatan bagi penghuninya dalam jangka panjang.

Cek berita material, inovasi produk, ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom