AB Collection Anita Boentarman x Vinoti Living: Furnitur Timeless yang Fleksibel, Kini Hadir dengan Barstool

Satu tahun setelah diperkenalkan, AB Collection terus berkembang dengan desain yang tidak terpaku pada tren. Terbaru, koleksi ini hadir untuk area kitchen dan dining melalui barstool dan kitchen stool.

Barstool AB Collection
Finia Halimi - direktur Vinoti Living bersama Anita Boentarman dengan produk barstool AB Collection yang merupakan produk teranyar di showroom Vinoti Living. (Foto: Vinoti Living)

Ranahrumah.com – TREN | Setahun setelah hadir di pasar, AB Collection by Anita Boentarman x Vinoti Living memasuki babak baru. Bukan hanya lewat penambahan produk, tetapi juga melalui gagasan tentang bagaimana sebuah furnitur dapat bertahan lebih lama bersama penggunanya.

Dalam talk show di Vinoti Living Store, Indonesia Design District (IDD) PIK 2, Tangerang, 23 September 2026, Anita Boentarman berbagi cerita mengenai perjalanan koleksi yang dirancang agar dapat beradaptasi dengan berbagai karakter hunian.

Bagi Anita, furnitur bukan sesuatu yang mudah diganti hanya karena tren berubah. Karena itu, desain perlu memiliki karakter yang cukup kuat untuk tetap menarik dalam waktu panjang, sekaligus cukup fleksibel untuk masuk ke berbagai gaya ruang.

Baca Juga: Dari Busana ke Interior, Batik Menemukan Ruang Baru Bersama Amanda Hartanto dan Vinoti Living

Ketika Furnitur Tidak Terikat Satu Gaya

AB Collection memang memiliki karakter yang mudah dikenali melalui bentuk organik, proporsi, detail, serta permainan material dan tekstur. Namun, desainnya tidak diarahkan untuk hanya cocok dengan satu gaya interior.

Warna dinding, artwork, tekstil, karpet, hingga benda-benda personal yang sudah dimiliki penghuni dapat memberikan interpretasi berbeda pada produk yang sama.

Karena itu, satu produk bisa hadir dalam ruang yang understated dan contemporary, tetapi juga tetap masuk ketika dipadukan dengan interior yang lebih ekspresif dan penuh warna.

Fleksibilitas tersebut juga terlihat dari cara beberapa produk dapat digunakan. Sofa, misalnya, dirancang dengan bagian-bagian yang memungkinkan pengguna melakukan match and mix sesuai kebutuhan ruang. Susunan berbentuk L dapat digunakan secara utuh, tetapi bagian-bagiannya juga tetap menarik ketika digunakan secara terpisah.

Pendekatan semacam ini membuat furnitur tidak harus mengikuti satu skenario penggunaan sejak awal. Ruang dan kebutuhan penggunalah yang kemudian memberi kemungkinan baru.

Tidak Mengejar Tren, tetapi Tetap Relevan

Bagi Anita, tren tetap perlu diketahui, tetapi bukan berarti harus diterapkan seluruhnya ke dalam desain.

Ketika seseorang membeli furnitur, ada harapan bahwa benda tersebut dapat digunakan dalam waktu panjang tanpa cepat terasa membosankan. Berbeda dengan pakaian yang relatif mudah diganti ketika selera berubah, furnitur membutuhkan pertimbangan yang lebih panjang.

“Kalau mendesain furnitur bukan seperti mendesain baju, yang kalau bosan langsung ganti,” ujar Anita.

Karena itu, ia memilih pendekatan desain yang tidak terlalu terjebak pada gaya modern yang sangat kuat, tetapi juga tidak mengarah pada bentuk klasik. Karakter produk justru dibangun melalui bentuk, proporsi, material, detail, serta struktur.

Hasilnya adalah desain yang tetap memiliki karakter tanpa terlalu terikat pada satu periode gaya tertentu.

Sofa Compono AB Collection adalah sofa yang bagian-bagiannya (komposisinya) dapat disusun dan dipadukan sesuai kebutuhan. Material latex yang dikombinasikan dengan foam juga memberikan sensasi duduk yang berbeda. (Foto: Erly/Ranahrumah.com)

Dari Arsitektur, Interior, hingga Milimeter

Cara Anita melihat furnitur tidak terlepas dari latar belakangnya. Ia menyelesaikan pendidikan arsitektur di Universitas Indonesia, kemudian melanjutkan pendidikan interior di Boston.

Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya ketika merancang produk. Jika arsitektur berbicara dalam ukuran meter dan interior dalam sentimeter, furnitur menuntut perhatian hingga ukuran milimeter.

Perubahan skala itu membuat bentuk dan proporsi menjadi sangat penting. Begitu pula struktur yang tidak hanya menentukan estetika, tetapi juga kekuatan, keamanan, dan kenyamanan produk.

Itu sebabnya, ketika merancang kursi atau sofa, persoalannya bukan sekadar bagaimana produk terlihat. Ergonomi, ketinggian, posisi duduk, material, hingga rasa nyaman ketika digunakan harus dipikirkan.

“Kalau meja kita tidak duduk di atas meja. Kalau kursi, kita diduduki,” kata Anita, menggambarkan perbedaan tantangan ketika mendesain furnitur.

Pada sofa Compono, misalnya, bagian-bagiannya dapat disusun dan dipadukan sesuai kebutuhan. Material latex yang dikombinasikan dengan foam juga memberikan sensasi duduk yang berbeda. Sementara pilihan fabric eksklusif Vinoti Living yang diproduksi di Indonesia memberikan alternatif untuk melengkapi karakter ruang.

Baja Juga: Keindahan Furnitur Kontemporer dan Klasik yang Hadir Dalam Bentuk Organik

Inspirasi dari Alam dan Memori Sehari-hari

Keseharian Anita juga menjadi bagian dari proses kreatifnya. Aktivitas olahraga yang banyak bersentuhan dengan alam—laut, angin, pasir, dan berbagai bentuk alami—menjadi salah satu sumber inspirasi ketika merancang.

Karena itu, bentuk organik menjadi bahasa yang cukup kuat dalam AB Collection. Garis-garis keras diminimalkan, digantikan bentuk yang lebih mengalir.

Namun, unsur alam tersebut tidak diterjemahkan secara literal. Ia justru dipadukan dengan keinginan menghadirkan hunian yang terasa natural sekaligus tetap fashionable.

Menurut Anita, proses mendesain juga dipengaruhi oleh berbagai memori visual yang tersimpan. Pemandangan ketika bepergian, melihat pameran, atau menemukan sesuatu di perjalanan dapat kembali muncul ketika sebuah desain sedang dikembangkan.

Dengan cara tersebut, desain tidak lahir dari satu referensi saja, melainkan dari kumpulan pengalaman yang tersimpan dalam ingatan.

|Selanjutnya: Barstool dan Kitchen Stool jadi Babak Baru