
Ranahrumah.com – INSIGHT | Selama ini, ketika berbicara tentang pemurnian udara, banyak orang langsung menyebut filter HEPA sebagai pilihan terbaik. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru. HEPA memang dikenal memiliki kemampuan menyaring partikel berukuran sangat kecil dengan efisiensi yang sangat tinggi.
Namun, ketika Sharp memperkenalkan AIREST sebagai AC split pertama di dunia yang menggunakan Built-in MERV 14 Certified Filter, muncul pertanyaan yang menarik. Mengapa bukan HEPA? Bukankah filter HEPA selama ini dianggap sebagai standar terbaik untuk menghasilkan udara yang lebih bersih?
Jawabannya ternyata bukan soal mana yang lebih unggul, melainkan mana yang paling tepat digunakan sesuai fungsi dan cara kerja perangkatnya.
Baca Juga: Rumah Modern Kini Membutuhkan AC sekaligus Air Purifier, Sharp Menjawabnya dengan Lewat AIREST
Mengenal HEPA, Filter yang Selama Ini Menjadi Acuan
Jika diibaratkan sebagai penyaring, HEPA merupakan “penjaga gerbang” yang sangat ketat. Filter ini dirancang untuk menangkap partikel berukuran sangat kecil hingga 0,3 mikron dengan tingkat efisiensi mencapai 99,97 persen. Debu halus, serbuk sari, bakteri, hingga sebagian partikel pembawa virus dapat disaring dengan sangat baik.
Karena kemampuannya tersebut, filter HEPA banyak digunakan pada air purifier, ruang operasi rumah sakit, laboratorium, hingga berbagai lingkungan yang membutuhkan kualitas udara dengan tingkat kebersihan tinggi.
Standar HEPA sendiri telah berkembang menjadi acuan internasional melalui berbagai standar, seperti EN1822 di Eropa dan ISO 29463 yang digunakan secara global. Dengan kata lain, ketika sebuah produk menggunakan filter HEPA, ada standar efisiensi yang harus dipenuhi.
Baca Juga: Udara Sehat dan Bersih Wajib Dihirup, Ini Peran Filter HEPA pada Air Purifier

Apa Itu MERV dan Mengapa Jarang Dibicarakan?
Berbeda dengan HEPA, MERV bukan nama sebuah jenis filter, melainkan sistem penilaian terhadap kemampuan filter dalam menyaring partikel udara.
MERV merupakan singkatan dari Minimum Efficiency Reporting Value, yaitu standar yang dikembangkan oleh ASHRAE (American Society of Heating, Refrigerating and Air-Conditioning Engineers) untuk mengukur kemampuan filter pada sistem pemanas, ventilasi, dan pendingin udara (HVAC).
Semakin tinggi angka MERV, semakin baik kemampuan filter menangkap partikel berukuran kecil. Salah satu tingkat yang banyak digunakan pada bangunan komersial dan sistem HVAC berkinerja tinggi adalah MERV 14.
Filter pada kelas ini mampu menangkap sekitar 75–84 persen partikel berukuran 0,3–1,0 mikron, serta lebih dari 90 persen partikel yang berukuran lebih besar, seperti debu, bulu hewan peliharaan, dan serbuk sari.
Baca Juga: Mengenal Penjernih Udara Purefit Sharp yang Dilengkapi 3 Filter dan Plasmacluster
Mengapa AC Tidak Menggunakan Filter HEPA?
Sekilas, menggunakan HEPA pada AC terdengar seperti pilihan terbaik. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Bayangkan kamu mencoba bernapas melalui masker yang sangat tebal. Udara memang terasa lebih tersaring, tetapi kamu juga harus mengeluarkan tenaga lebih besar untuk menarik napas. Prinsip yang hampir sama terjadi pada sistem pendingin udara.
Karena memiliki struktur yang sangat rapat, filter HEPA memberikan hambatan aliran udara (airflow) yang tinggi. Agar udara tetap mengalir dengan lancar, dibutuhkan kipas dan sistem mekanis yang jauh lebih kuat. Itulah sebabnya filter HEPA lebih banyak digunakan pada air purifier yang memang sejak awal dirancang khusus untuk bekerja dengan media penyaring yang sangat rapat.
Sebaliknya, sistem AC harus mampu mengalirkan udara dalam jumlah besar ke seluruh ruangan secara terus-menerus. Jika hambatan udara terlalu tinggi, performa pendinginan dapat menurun, konsumsi energi meningkat, dan beban kerja mesin menjadi lebih berat.
Baca Juga: Sharp AIREST, AC Premium dengan Air Purifier Built-in dan Filter MERV 14
Selanjutnya: Mengapa MERV 14 menjadi Pilihan untuk AC (Halaman 2)


