
Ranahrumah.com – INSPIRASI | Ada kalanya kita memasuki sebuah ruang bukan untuk mencari sesuatu, tetapi justru untuk berhenti sejenak.
Melihat cahaya yang jatuh pada permukaan, merasakan tekstur material, duduk, berjalan perlahan, atau sekadar membiarkan mata mengikuti bentuk dan warna. Dalam jeda yang sederhana itu, sebuah ruang bisa membuat kita berpikir tentang sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan: tentang pulang, ketenangan, hubungan dengan orang lain, bahkan cara kita memandang diri sendiri.
Pengalaman semacam inilah yang terasa dalam Jakarta Design Collabs 2026 di Jakarta Design Center (JDC).
Memasuki penyelenggaraan keduanya, Jakarta Design Collabs tidak sekadar memperlihatkan karya desain. Melalui tema “Cloud Dancer”, tujuh instalasi yang hadir mengajak pengunjung melihat bagaimana sebuah gagasan dapat diterjemahkan menjadi ruang dengan cara yang sangat berbeda.
Cloud Dancer tidak datang sebagai bentuk awan yang harus diwujudkan secara harfiah. Tema ini justru menjadi ruang kebebasan bagi para desainer untuk menemukan interpretasi masing-masing—tentang sesuatu yang ringan, bergerak, mengalir, berlapis, atau bahkan tidak beraturan.
Dari satu tema, lahirlah tujuh cara memandang ruang.
Cloud Dancer, Ketika Satu Tema Diterjemahkan Menjadi Banyak Pemikiran
Jakarta Design Collabs 2026 berlangsung 15 September hingga 15 Oktober 2026 di Jakarta Design Center. Tahun ini, kolaborasi juga mengalami perubahan dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
Jika pada tahun pertama para desainer berkolaborasi dengan tenant yang berada di dalam JDC, kali ini kolaborasi diperluas dengan brand dan industri material serta interior di luar tenant JDC.
Perubahan tersebut membuat ruang eksplorasi menjadi lebih terbuka. Para desainer tidak sekadar mendapat ruang untuk menata produk, tetapi ditantang menerjemahkan gagasan menjadi pengalaman.
Di sinilah Cloud Dancer menjadi menarik.
Tidak ada satu bentuk baku yang harus diikuti. Tema tersebut dapat diterjemahkan melalui material, warna, cahaya, tekstur, pergerakan, hubungan antarelemen, hingga pengalaman manusia di dalam ruang.
“Jakarta Design Collabs menjadi salah satu langkah JDC untuk terus membuka ruang bagi kreativitas dan kolaborasi. Kami ingin JDC tidak hanya dikenal sebagai pusat desain, tetapi juga sebagai tempat di mana ide-ide baru dapat bertemu, berkembang, dan diwujudkan,” ujar Nurul Syahri F. Direktur Utama Jakarta Design Center.
Ren Katili dari Benda Design Hub, salah satu penyelenggara Jakarta Design Collabs bersama Mira Prihatini dan Jakarta Design Center, melihat kebebasan interpretasi itu sebagai bagian penting dari program ini.
Bagi Ren, Cloud Dancer bukan sesuatu yang harus diterjemahkan menjadi bentuk awan.
Ia lebih tertarik pada karakter yang ada di baliknya: sesuatu yang ringan, bergerak, mengalir, dan memiliki layer.
Karakter tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai pendekatan yang berbeda. Karena itulah, pengunjung tidak menemukan tujuh ruang yang tampak seragam. Sebaliknya, setiap instalasi seperti memiliki bahasa sendiri.
Menariknya, perbedaan tersebut justru memperlihatkan satu hal: desain dapat menjadi cara untuk menerjemahkan cara seseorang melihat kehidupan.
Baca Juga: Jakarta Design Collabs 2025- Kolaborasi, Inovasi, dan Harmoni dalam Desin Indonesia
| Selanjutnya: Dari Material hingga Keheningan


