Berhenti Sejenak dan Menemukan Makna Lewat Desain di Jakarta Design Collabs 2026

Enam instalasi mengajak pengunjung melihat ruang dengan cara yang berbeda: lebih pelan, lebih dekat, dan lebih bermakna.

“The Salotto” karya Shania Tahir di Jakarta Design Collabs 2026 inspirasikan sebuah ruang tempat percakapan dimulai, gagasan bertukar, dan hubungan terjalin. (foto: Dok. Jakarta Design Cpllabs)

Ruang yang Mempertemukan Manusia

Jika Hening Megantara membawa kita ke dalam diri sendiri, “The Salotto” karya Shania Tahir justru mengajak kita keluar untuk bertemu dengan orang lain.

Salotto dalam bahasa Italia berarti ruang keluarga atau ruang tamu. Sebuah ruang tempat percakapan bermula, gagasan bertukar, dan hubungan terjalin.

Kayu, tekstur kain, pantulan permukaan, material dan pencahayaan lembut disusun berlapis untuk membangun suasana yang akrab sekaligus terkurasi.

Namun inti instalasi ini bukan sekadar bagaimana furnitur ditempatkan. Ruang tersebut memang dirancang untuk diduduki, disentuh, dan dialami.

Ada gagasan sederhana yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari: ruang yang baik bukan hanya ruang yang enak dilihat, tetapi ruang yang membuat manusia ingin tinggal lebih lama, berbicara, dan berbagi.

Desain akhirnya menjadi medium untuk membangun hubungan.

Iron Rabani dalam NaNaNa di Jakarta Design Collabs 2026, mengisahkan tentang perjalanan pulang ke rumah seorang anak yang menyimpan rasa aman, kebersamaan dan kegembiraan. (Foto: Dok. Jakarta Design Collabs)

Tentang Pulang dan Rasa Bahagia yang Sederhana

Gagasan tentang hubungan juga hadir dengan cara yang berbeda dalam “NaNaNa” karya Iron Rabani.

Instalasi ini membawa cerita tentang perjalanan seorang anak menuju rumah impiannya—sebuah hunian yang menenangkan, menjadi tempat berkumpul, sekaligus memberi ruang untuk bermain dan berkreasi.

Tiga karakter menjadi bagian penting dari gagasannya: calm, gather, dan joyful.

Pendekatan playful diterjemahkan melalui warna, bentuk dan suasana yang ringan. Bahkan nama NaNaNa sendiri seperti sebuah senandung sederhana yang membawa kita pada keceriaan anak-anak.

Memajang karya anak menciptakan cerita tentang rumah semakin personal,

Di dalam instalasi seluas sekitar 40 m² ini juga hadir dua lukisan karya anak Iron Rabani, Adara dan Nimara. Kehadiran karya tersebut membuat cerita tentang rumah terasa semakin personal. Rumah bukan hanya tentang bentuk bangunan atau susunan ruang, tetapi tentang bagaimana sebuah tempat dapat menyimpan rasa aman, kebersamaan dan kegembiraan.

Dan perjalanan menuju rumah bukan hanya perjalanan menuju sebuah alamat. Ia adalah perjalanan menuju tempat yang terasa seperti pulang.

Baca Juga: Sagrada Familia, Ketika Arsitektur Menyampaikan Iman melalui Batu, Cahaya, dan Ruang

| Selanjutnya: Ketika Fashion menjadi Bagian dari Ruang