
Ketika Fashion menjadi Bagian dari Ruang
Sementara itu, Ren Katili menerjemahkan Cloud Dancer melalui “The Third Skin”, instalasi yang mempertemukan arsitektur, fashion, ilustrasi, seni lukis dan material.
Gagasannya berangkat dari hubungan antara tubuh dan lingkungan binaan. Jika kulit merupakan lapisan pertama tubuh dan pakaian menjadi lapisan kedua, lalu apa yang menjadi lapisan ketiga?
Jawabannya: ruang.
Dari pemikiran tersebut, batas antara fashion, art, dan architecture dibuat lebih cair.
Fashion tidak hanya menjadi benda yang dipajang. Artwork bukan sekadar dekorasi. Arsitektur pun bukan hanya latar belakang.
Semuanya menjadi bagian dari satu pengalaman ruang.
Ren mengajak Rama Dauhan, Wilsen Willim dan Yosafat Dwi Kurniawan dari dunia fashion, Met Mangindaan dari ilustrasi, serta Asmara Wreksono dan Nabil Gharsallah dari seni lukis untuk membawa bahasa mereka masing-masing ke dalam ruang Third Skin.
Di sinilah konsep layer dalam Cloud Dancer terasa sangat nyata.
Berbagai karakter, tekstur, warna dan disiplin bertemu. Bukan untuk dibuat seragam, tetapi untuk saling menambahkan lapisan.
Warna biru yang mendominasi instalasi pun bukan sekadar pilihan estetis. Biru digunakan sebagai layer yang menyatukan beragam karya dan material sekaligus membangun atmosfer.
Cat Dulux, kaca, HPL, kayu, kain, fashion, lukisan dan ilustrasi kemudian bekerja bersama membentuk pengalaman yang berbeda dari sekadar melihat sebuah display.
Bagi Ren, Third Skin bukan tentang satu karya. Ia adalah tentang apa yang terjadi ketika berbagai kreativitas masuk ke dalam satu ruang.

Memperlambat Langkah untuk Melihat Kembali
Gagasan tentang jeda kembali terasa dalam “Renungan” karya Riri Yakub.
Instalasi ini mengajak pengunjung memperlambat langkah dan meninggalkan riuh sejenak.
Cahaya, bayangan, arah dan keheningan digunakan untuk membangun perjalanan yang tidak langsung memperlihatkan tujuannya.
Satu arah membawa pengunjung menuju ruang yang lebih hening. Arah lainnya membuka kemungkinan untuk bertemu dan berbagi.
Dua pengalaman yang berbeda tersebut pada akhirnya bertemu dalam satu refleksi: setiap jalan memiliki caranya sendiri untuk membawa seseorang kembali.
Jika diperhatikan, gagasan ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Tidak semua perjalanan harus memiliki arah yang sama. Tidak semua jawaban harus ditemukan dengan cara yang sama pula.
Dan mungkin, sebuah ruang dapat membantu kita menyadari hal tersebut tanpa perlu mengatakannya secara langsung.
Desain yang Tidak Berhenti Setelah Pameran
Ada satu gagasan lain dari Jakarta Design Collabs 2026 yang menarik untuk diperhatikan: apa yang terjadi pada material setelah pameran selesai?
Bagi Ren Katili, sebuah instalasi seharusnya tidak hidup hanya selama satu bulan, kemudian seluruh material yang digunakan berakhir menjadi sampah.
Karena itu, sejak awal ia mencoba melihat material bukan hanya sebagai sesuatu untuk membentuk karya, tetapi sebagai sesuatu yang masih memiliki kehidupan setelah exhibition berakhir.
Sebagian elemen diharapkan dapat digunakan kembali. Sebagian lainnya juga akan masuk dalam program lelang yang dikaitkan dengan kegiatan charity Jakarta Design Collabs untuk Yayasan Sayap Ibu Bintaro.
Dengan demikian, material mengalami sebuah siklus. Dari material menjadi karya, kemudian menjadi bagian dari exhibition, lalu memperoleh kehidupan berikutnya.
Pemikiran tersebut terasa menarik karena memperluas pembicaraan tentang desain berkelanjutan. Bukan hanya soal menggunakan material yang disebut sustainable, tetapi tentang memikirkan perjalanan sebuah material sejak awal hingga setelah sebuah karya selesai digunakan.
Desain, dengan demikian, tidak berhenti ketika pameran ditutup.
Baca Juga: Bukan Sekadar Menerangi, Begini Cara Lampu Membentuk Pengalaman Ruang
Tujuh Instalasi, Tujuh Cara Melihat Kehidupan
Enam instalasi yang telah hadir saat pembukaan memperlihatkan betapa luasnya interpretasi terhadap satu tema.
Ada yang mengajak kita memperhatikan material. Ada yang membawa kita pada keheningan. Ada yang mempertemukan manusia melalui percakapan. Ada yang berbicara tentang rumah dan keceriaan. Ada yang mempertemukan tubuh, fashion, seni dan arsitektur. Ada pula yang mengajak memperlambat langkah dan merenungkan perjalanan.
Satu instalasi karya Ary Indra masih akan menyusul dan diluncurkan pada pertengahan periode penyelenggaraan, menjadi kejutan bagi pengunjung yang kembali datang ke JDC.
Kesemuanya memperlihatkan bahwa Cloud Dancer memang tidak harus hadir sebagai awan. Ia bisa hadir sebagai atmosfer, gerak, tekstur, keheningan, warna, hubungan, bahkan gagasan tentang keberlanjutan.
Dan mungkin justru di situlah daya tarik Jakarta Design Collabs 2026.
Datang untuk Melihat, Pulang Membawa Sesuatu
Pameran desain sering kali membuat kita datang untuk melihat karya. Namun Jakarta Design Collabs 2026 menawarkan kemungkinan pengalaman yang sedikit berbeda.
Datanglah tanpa terburu-buru. Berjalan dari satu instalasi ke instalasi lain. Perhatikan materialnya. Rasakan teksturnya. Amati cahaya dan warna. Duduk jika ruang mengundangmu untuk duduk. Dengarkan cerita di baliknya.
Sebab di balik setiap instalasi terdapat cara seorang desainer membaca dunia. Dan dari sana, mungkin kita pun bisa belajar membaca kehidupan dengan cara yang berbeda.
Bahwa ketenangan tidak selalu berarti berhenti melakukan sesuatu. Bahwa rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi tempat kita merasa pulang. Bahwa ruang dapat mempertemukan manusia. Bahwa perbedaan tidak selalu harus diseragamkan. Bahwa sebuah material pun dapat memiliki kehidupan setelah sebuah karya selesai.
Desain bukan hanya tentang bagaimana membuat sesuatu terlihat indah. Ia juga tentang bagaimana manusia mengalami ruang, menemukan makna, dan mungkin menemukan kembali dirinya sendiri di dalamnya.
Jakarta Design Collabs 2026 berlangsung hingga 15 Oktober 2026 di Jakarta Design Center.
Mungkin, satu jam di sana cukup untuk melakukan sesuatu yang sering kita lupakan di tengah kesibukan: berhenti sejenak. Melihat lebih dekat. Dan memberi kesempatan kepada sebuah ruang untuk mengatakan sesuatu kepada kita.
(RR)
Cek berita dan ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook Ranah Rumah, Instagram @ranahrumahcom.


