
Dari Material hingga Keheningan
Instalasi “The Materialist” karya Mira Prihatini dan Luthfi Hasan, misalnya, berangkat dari sesuatu yang sering kali berada di balik sebuah ruang: material.
Sebelum sebuah ruang memiliki cerita, material terlebih dahulu hadir dan berbicara melalui karakter permukaan, tekstur, detail, bahkan pengalaman sentuhan.
Material tidak diperlakukan hanya sebagai pelapis atau spesifikasi interior. Ia menjadi titik awal gagasan.
Pengunjung diajak untuk melihat lebih dekat dan merasakan bahwa keindahan tidak selalu lahir dari sesuatu yang dibuat mencolok. Karakter material itu sendiri dapat menjadi sumber pengalaman.
Dari material, perjalanan kemudian bergerak ke sesuatu yang jauh lebih personal: keheningan.

Dalam “Hening Megantara”, Agdith Tan menerjemahkan pengalaman meditasi bukan sebagai aktivitas yang selalu dilakukan dengan duduk diam dan mengosongkan pikiran.
Meditasi, baginya, dapat ditemukan dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Saat memasak. Saat berkendara. Saat membuat ilustrasi. Atau ketika seseorang tiba-tiba merasa terhubung kembali dengan dirinya sendiri dan menemukan sebuah ide, solusi, maupun sudut pandang baru.
Karena itu, ruang yang diciptakannya bukan sekadar ruang yang terlihat tenang. Material, warna, pola, dan produk di dalamnya menjadi bagian dari perjalanan personal sang desainer dalam beberapa tahun terakhir.
Sebuah pengingat bahwa terkadang kita memang membutuhkan ruang untuk berhenti—bukan agar tidak melakukan apa-apa, tetapi agar dapat melihat sesuatu dengan lebih jernih.
Baca Jiuga: 7 Karya Seni Extraordinary- Kolaborasi Desainer Furnitur dengan Pelukis
| Selanjutnya: Ruang yang Mempertemukan Manusia


