
Ranahrumah.com – INSPIRASI | Ruang laundry mungkin bukan ruang yang paling sering kita lihat ketika berada di rumah. Letaknya bisa di belakang, berdampingan dengan area servis, atau menjadi ruang sisa di antara bagian rumah lainnya. Karena itu, perhatian terhadap kenyamanan dan kerapian ruang ini sering kali tidak sebesar perhatian terhadap ruang keluarga, kamar, atau dapur.
Padahal, coba perhatikan apa saja yang dilakukan di sana. Pakaian kotor dikumpulkan dan dipilah, dicuci, dijemur, diangkat, dilipat, disetrika, lalu dibawa kembali ke kamar masing-masing. Semakin banyak aktivitas yang berlangsung, semakin terasa pula jika ruangnya tidak mendukung.
Area mencuci yang sempit membuat orang sulit bergerak. Tempat menjemur tidak cukup optimal. Meja setrika tidak memiliki area untuk menaruh pakaian yang akan dikerjakan maupun yang sudah selesai. Sementara deterjen, hanger, keranjang, dan berbagai perlengkapan lain akhirnya menumpuk di mana saja ada tempat kosong.
Bisa jadi, masalahnya bukan semata-mata karena ruang laundry terlalu kecil. Ada beberapa hal yang selama ini memang sering kita lupa perhatikan.
Jangan Hanya Memikirkan Tempat Mesin Cuci
Ketika menata ruang laundry, perhatian biasanya langsung tertuju pada satu benda besar: mesin cuci.
Di mana mesin cuci diletakkan, apakah ukurannya cukup, dan apakah masih tersedia tempat untuk membuka pintunya. Padahal, mesin cuci hanyalah salah satu bagian dari rangkaian aktivitas mencuci.
Setelah pakaian dimasukkan ke mesin, ada proses menjemur, mengangkat, melipat, menyetrika, hingga menyimpan kembali. Semua membutuhkan ruang dan fasilitas pendukung.
Karena itu, sebelum menentukan tempat berbagai barang, coba lihat dulu aktivitas yang berlangsung di dalamnya. Siapa yang paling sering menggunakan ruang tersebut? Barang apa yang paling sering diambil? Aktivitas mana yang membuat pengguna harus bolak-balik?
Cara melihat ruang seperti ini menjadi bagian dari pendekatan IKEA Indonesia melalui Home Visit dan wawasan dari Life at Home Report. Pengamatan terhadap kehidupan di rumah digunakan untuk memahami bagaimana ruang dapat membantu aktivitas penghuninya.
Seperti disampaikan M. Yusuf Attorik, Interior Design Leader IKEA Indonesia, penataan ruang dapat dimulai dari pertanyaan tentang aktivitas yang dilakukan, siapa yang menggunakannya, serta barang apa yang paling sering dibutuhkan.
Dengan begitu, pertanyaan “barang ini mau ditaruh di mana?” bisa bergeser menjadi “bagaimana barang ini membantu aktivitas yang dilakukan di sini?”
Baca Juga: Tiga Hal Terpenting agar Ruang Servis di Rumah Lebih Humanis dan Ramah Lingkungan
Area Cuci Juga Membutuhkan Ruang untuk Bergerak
Ruang yang terbatas sering membuat berbagai barang diletakkan sedekat mungkin dengan mesin cuci. Maksudnya supaya praktis, tetapi jika terlalu banyak benda berada di lantai atau di jalur aktivitas, ruang justru terasa semakin sempit.
Padahal, ruang gerak perlu menjadi bagian dari penataan.
Perhatikan area di depan dan di sekitar mesin cuci. Apakah masih cukup nyaman ketika memasukkan atau mengeluarkan pakaian? Apakah pintu mesin dapat dibuka tanpa terhalang? Apakah pengguna masih bisa bergerak ketika ada keranjang pakaian atau perlengkapan lain?
Hal-hal sederhana seperti ini sering tidak terasa penting ketika ruang sedang dirancang. Namun, ketika aktivitas dilakukan setiap hari, perbedaannya menjadi sangat terasa.
Jangan Lupa Area Jemur dan Seterika
Rangkaian aktivitas mencuci tidak berhenti ketika mesin cuci selesai bekerja.
Pakaian perlu dipindahkan ke area jemur. Karena itu, posisi dan kapasitas area menjemur juga perlu disesuaikan dengan jumlah pakaian dan kebiasaan penghuni rumah.
Begitu pula ketika pakaian sudah kering. Area setrika membutuhkan lebih dari sekadar tempat untuk meletakkan papan setrika.
Idealnya, tersedia ruang untuk pakaian yang akan disetrika dan pakaian yang sudah selesai. Dengan begitu, pakaian tidak kembali menumpuk di lantai, di atas mesin cuci, atau di permukaan lain yang kebetulan kosong.
Setelah selesai, pakaian pun perlu dibawa kembali ke dalam rumah. Jika alurnya sudah dipikirkan sejak awal, aktivitas tersebut bisa dilakukan tanpa terlalu banyak memindahkan barang.
Baca Juga: Di Ruang Mana Sebaiknya Ruang Servis di Rumah Diletakkan?

Manfaatkan Dinding dan Ruang Vertikal
Ketika lantai sudah terasa penuh, jangan langsung berpikir bahwa ruang laundry membutuhkan tambahan luas.
Coba lihat ke atas.
Dinding dan area vertikal sering kali masih bisa dimanfaatkan untuk penyimpanan. Rak dapat digunakan untuk meletakkan deterjen dan perlengkapan laundry, sementara area tertentu bisa dimanfaatkan untuk menyimpan barang yang tidak digunakan setiap hari.
Namun, mengoptimalkan ruang bukan berarti memenuhi seluruh dinding dengan rak dan barang.
Ruang untuk bergerak tetap perlu dipertahankan. Barang yang sering digunakan sebaiknya berada dalam jangkauan, sedangkan barang yang jarang digunakan dapat ditempatkan di bagian yang tidak mengganggu aktivitas utama.
Dengan prinsip ini, ruang kecil pun masih bisa memiliki fungsi penyimpanan yang cukup tanpa membuatnya terasa semakin sesak.
Pilih Storage Sesuai Kebiasaan, Bukan Sekadar Ukuran
Salah satu penyebab ruang laundry cepat terlihat berantakan adalah terlalu banyak barang tanpa tempat penyimpanan yang jelas.
Deterjen, pelembut pakaian, hanger, keranjang, perlengkapan setrika, hingga alat kebersihan memiliki kebutuhan penyimpanan yang berbeda. Karena itu, memilih storage sebaiknya tidak hanya berdasarkan ukuran ruang, tetapi juga berdasarkan barang dan kebiasaan orang yang menggunakannya.
Sistem penyimpanan seperti BROR, IVAR, EKET, HYLLIS, serta berbagai solusi storage IKEA dapat digunakan sesuai kebutuhan. Rak terbuka, misalnya, bisa memudahkan akses terhadap barang yang sering digunakan, sementara penyimpanan tertutup dapat digunakan untuk barang yang ingin disimpan lebih rapi.
Yang perlu dicari bukan storage sebanyak-banyaknya, tetapi storage yang membuat aktivitas lebih mudah.
Tidak Harus Renovasi Besar-besaran
Melihat kembali ruang laundry tidak selalu berarti harus memperluas ruangan, membeli banyak peralatan baru, atau melakukan renovasi.
Bisa jadi, yang dibutuhkan hanya mengubah cara melihat ruang tersebut.
Perhatikan kebiasaan keluarga, urutan aktivitas, barang yang paling sering digunakan, serta bagian ruang yang selama ini terabaikan. Dari sana, tentukan apa yang benar-benar dibutuhkan.
Prinsip yang sama sebenarnya bisa diterapkan pada ruang servis lain di rumah, seperti dapur kotor, gudang kecil, garasi, maupun area di bawah tangga.
Ruang-ruang tersebut mungkin bukan bagian rumah yang paling sering kita banggakan atau tampilkan. Tetapi justru di sanalah banyak pekerjaan sehari-hari berlangsung.
Ketika ruangnya ditata berdasarkan aktivitas yang benar-benar dilakukan, rumah tidak harus menjadi lebih besar untuk terasa lebih nyaman. Ruang yang ada bisa bekerja lebih baik untuk orang yang menggunakannya.
CATATAN RANAHRUMAH
Ruang yang sering kita anggap “belakang” bukan berarti tidak penting. Justru dari ruang laundry, dapur servis, atau gudang kecil, banyak aktivitas rumah berjalan setiap hari. Mungkin yang perlu dibenahi bukan selalu ruangnya, melainkan cara kita melihat dan menggunakannya.
(RR)
Cek berita atau ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom


