Bisakah Properti dan Konservasi Hidup Berdampingan? Belajar dari Situ Cihuni di Serpong

Di tengah cepatnya pertumbuhan Serpong dan Gading Serpong sebagai kawasan kota baru, Situ Cihuni tetap bertahan sebagai salah satu lanskap alami yang tersisa. Bisakah pembangunan properti dan konservasi hidup berdampingan?

Kawasan hijau dan konservasi air di Situ Cihuni Tangerang. (Foto: Erly/Ranahrumah.com)

Antara Konservasi dan Eco Branding             

Namun hubungan antara properti dan konservasi tetap bukan perkara sederhana. Banyak pengawas lingkungan mengingatkan bahwa istilah seperti: eco township, green living, sustainable development, kadang berhenti pada citra visual semata.

Publik dan pegiat lingkungan biasanya khawatir pada satu hal: apakah “eco wisata” benar-benar konservasi, atau hanya branding hijau untuk urban development?

Kawasan hijau bisa terlihat rapi dan indah, tetapi belum tentu sehat secara ekologis. Rawa alami misalnya, sering dianggap “liar” atau tidak estetis. Padahal area seperti inilah yang justru penting untuk: menyerap air, menjaga mikroklimat, mendukung biodiversitas, dan menjadi habitat berbagai spesies kecil.

Situ Cihuni, menurut warga lokal, memiliki karakter semacam itu. Vegetasi liar, area basah, hingga habitat capung dan burung air menjadi bagian penting dari ekosistemnya. Karena itu, tantangan terbesarnya saat ini, bukan sekadar mempertahankan danau, tetapi menjaga kualitas ekologinya tetap hidup.

Pengamat Tata Kota, Nirwono Joga menekankan bahwa pengembangan properti di kawasan sekitar Situ Cihuni (Pagedangan, Kabupaten Tangerang) tidak boleh merusak fungsi ekologis danau. Ia menggarisbawahi tiga prinsip utama dari perspektif dan kiprahnya: 

  • Wajib berwawasan lingkungan. Pengembang properti di sekitar situ didorong dalam mewujudkan kota mandiri yang berkelanjutan, tidak hanya fokus pada keuntungan bisnis semata.
  • Penyelamatan aset dan resapan air. Dalam berbagai kesempatan peduli lingkungan di Situ Cihuni, pengamat tata kota ini mendukung upaya penyelamatan fungsi danau alam sebagai area tangkapan/resapan air, pengendali banjir, serta ruang terbuka hijau.
  • Kewajiban pengembang untuk mengembalikan fungsi ekosistem, menjaga garis sempadan danau, serta mengintegrasikan pelestarian lingkungan dengan area komersial atau hunian.

Jadi keberhasilan kawasan seperti Situ Cihuni sangat tergantung pada: seberapa besar area alami dipertahankan, bagaimana pengelolaan air dilakukan, dan apakah pembangunan mengikuti ekologi, atau justru ekologi dipaksa mengikuti pembangunan.

Kawasan hunian hijau dan konservasi air “Matera Lakeside” di Situ Cihuni Tangerang. (Foto: Erly/Ranahrumah.com)

Kota Baru dan Tuntutan Menjadi Lebih Hijau

Perkembangan township modern membuat developer tidak lagi hanya menjual rumah atau ruko. Mereka juga menjual pengalaman hidup dengan udara yang lebih baik, ruang terbuka luas, memiliki  jalur pedestrian, area sepeda, waterfront, hingga kedekatan penghuni dengan alam.

Karena itu, kawasan alami kini menjadi bagian penting dalam identitas kota baru.

Developer, seperti Paramount Land misalnya, dalam pengembangan kawasan Gading Serpong selama ini cukup konsisten membawa narasi tentang green environment, sustainable township, dan quality living.

Dalam konteks ini, keberadaan kawasan alami seperti Situ Cihuni tidak lagi dipandang sebagai hambatan pembangunan, melainkan bagian dari nilai kawasan itu sendiri.

Paramount Land melalui pengembangan Paramount Gading Serpong memang memiliki kawasan yang berbatasan dan terkoneksi dengan area Cihuni–Pagedangan.

Township Paramount berkembang sangat besar sejak awal 2000-an dan kini menjadi salah satu pemain utama di koridor barat Jakarta. ​​

Dalam banyak materi resminya, Paramount cukup konsisten menggunakan narasi:

  • green environment,
  • natural lakes,
  • sustainable township,
  • ruang terbuka hijau,
  • dan kualitas hidup berbasis lingkungan. ​​

Artinya, bagi Paramount, keberadaan Situ Cihuni secara tidak langsung juga menjadi bagian penting dari “ecological identity” kawasan sekitar.