Kampanye #MoreThanBlue Ajak Masyarakat Mengenali Depresi dan Pengobatannya

Kampanye #MoreThanBlue bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan depresi dan menekankan pentingnya mencari pengobatan. Depresi yang tidak dipahami dengan baik, stigma dan kesadaran yang rendah akan menghambat akses pasien terhadap pengobatan. Akibatnya, pasien terus-menerus merasa frustrasi dan tidak berdaya.

Dr. Agustinus Prajaka Wahyu Baskara, S.H., M.Hum, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unika Atma Jaya.

Devy Yheanne, Country Leader of Communications & Public Affairs for Johnson & Johnson Pharmaceutical in Indonesia & Malaysia mengatakan, “Kita perlu menghilangkan stigma terhadap depresi di Indonesia. Ini adalah kondisi yang dapat diobati, terutama ketika orang dapat mengenali gejalanya sejak dini dan mencari pengobatan jika diperlukan.”

Lebih lanjut Devy mengatakan bahwa Kampanye #MoreThanBlue membahas masalah ini dan mendorong masyarakat untuk memahami penyebab, gejala, dan mendapatkan bantuan yang sangat dibutuhkan dari para ahli.

Meningkatkan kesadaran tentang depresi adalah salah satu langkah pertama untuk mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.

Dalam seminar ini, Psikiater Dr Eva Suryani, Sp.KJ mengatakan bahwa kondisi penderita gangguan kesehatan jiwa, termasuk depresi dapat menjadi lebih buruk. “Depresi itu seperti samudera biru yang dalam. Orang dengan depresi sering merasa seperti tenggelam di bawah ombak. Depresi juga datang pada berbagai tingkat kedalaman; semakin dalam depresinya, semakin gelap warnanya. Orang harus menyadari bahwa memahami kondisi dan gejalanya dapat membantu pasien. Ketidakseimbangan kimia dapat menyebabkan depresi, namun depresi dapat dikelola dan diobati oleh tenaga kesehatan profesional,” ujarnya.

Unika Atma Jaya mengapresiasi inisiatif Johnson & Johnson Indonesia untuk secara terbuka membahas tentang depresi dan memberikan edukasi. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unika Atma Jaya Dr. Agustinus Prajaka Wahyu Baskara, S.H., M.Hum. menyadari pentingnya diadakannya program ini, terutama di kalangan mahasiswa dan generasi muda. “Unika Atma Jaya terus berkomitmen sebagai pendamping mahasiswa selama di kampus dalam mengembangkan diri dan berproses menjadi pribadi yang mempunyai iman kuat, unggul, professional dan saling peduli,” ujarnya.

Menurutnya kaum muda berpotensi menghadapi banyak stress, tentunya peran orang terdekat juga mempunyai pengaruh kuat. Peran kampus juga menjadi teman untuk memberi ruang bagi kaum muda dalam berdinamika mengenal dan mengembangkan dirinya.

Acara seminar juga turut dihadiri oleh Fadhil Farendy, S, Psi., C.Me., yang merupakan perwakilan dari Into The Light Indonesia Suicide Prevention Community for Advocacy, Research, and Education (SP-CARE), sebuah komunitas berbasis kepemudaan yang didirikan pada tahun 2013 dengan fokus menjadi pusat advokasi, penelitian, dan pendidikan tentang pencegahan bunuh diri dan kesehatan mental di Indonesia.

Organisasi ini menjunjung tinggi pendekatan berbasis bukti dan hak asasi manusia dalam kerjasamanya dengan berbagai universitas, komunitas, organisasi sosial, kementerian, dan organisasi nasional dan internasional.

Selain Fadhil, Maureen Audreyla selaku Ketua dari WELCOME (We Love Counseling and Mental Health) di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya. Selaku Unit Kegiatan Mahasiswa, WELCOME bertujuan meningkatkan kesadaran akan kesehatan jiwa di kalangan mahasiswa termasuk di ranah media sosial mereka, dan membantu mengatur sesi konseling bagi siswa.