Saat Abu Vulkanik Mengganggu Udara Rumah, Apa yang Perlu Dilakukan?

Abu vulkanik tak hanya menjadi masalah ketika terlihat di luar rumah. Partikel halus yang terbawa udara membuat kualitas udara dalam ruangan juga perlu diperhatikan.

Air purifier Mijia Smart 6 Plus
Mijia Smart Air Purifier 6 Plus. di dalam rumah membantu menjaga kualitas udara saat sebaran abu vulkanik. (Foto: Dok. Xiaomi Indonesia)

Ranahrumah.com – KESEHATAN | Erupsi Gunung Anak Krakatau beberapa hari terakhir mengingatkan kita pada satu hal yang sering luput diperhatikan: udara di dalam rumah tidak selalu otomatis lebih bersih daripada udara di luar.

Erupsi yang berlangsung sejak akhir pekan lalu sempat menyebabkan sebaran abu vulkanik hingga sejumlah wilayah dan mengganggu aktivitas penerbangan. Meski kondisi mulai membaik, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau. Kementerian Kesehatan juga melaporkan bahwa pada 9 September, konsentrasi PM2.5 di sejumlah area luar ruangan di sekitar Bandara Soekarno-Hatta masih berada di atas batas aman.

Bagi penghuni rumah, situasi seperti ini membuat perlindungan terhadap kualitas udara menjadi bagian dari kesiapan menghadapi kondisi darurat—bukan hanya ketika abu sudah terlihat menempel di halaman atau kendaraan.

Baca Juga: Abu Vulkanik Jangan Remehkan Efek Buruknya

Ketika Udara Luar Tidak Bersahabat

Abu vulkanik terdiri atas partikel sangat halus yang dapat mengganggu mata dan saluran pernapasan. Selain abu, aktivitas vulkanik juga dapat menghasilkan sejumlah gas yang berdampak pada kesehatan.

Karena itu, ketika terjadi hujan abu atau kualitas udara memburuk, langkah pertama adalah mengurangi paparan.

Jika tidak ada kebutuhan mendesak untuk keluar, tetap berada di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup. Jika harus keluar, gunakan respirator yang sesuai, seperti N95, serta pelindung mata. CDC juga menganjurkan penggunaan pakaian yang menutupi kulit untuk mengurangi iritasi akibat abu.

Membersihkan rumah pun sebaiknya tidak dilakukan dengan cara yang membuat abu kembali beterbangan. Permukaan yang terkena abu dapat dibasahi terlebih dahulu sebelum dibersihkan. Untuk debu di dalam rumah, metode pembersihan yang tidak mengangkat kembali partikulat ke udara lebih disarankan.

Namun ada satu persoalan lain: bagaimana dengan partikel yang sudah telanjur berada di dalam rumah?

Baca Juga: 5 Bahan Beracun Berbahaya Penyebab Indoor Pollution

Rumah Tertutup Bukan Berarti Udara Otomatis Bersih

Menutup pintu dan jendela memang membantu mengurangi masuknya udara dari luar. Tetapi, udara di dalam rumah tetap dapat mengandung partikulat dari berbagai sumber—baik yang terbawa dari luar maupun yang muncul dari aktivitas penghuni.

Dalam kondisi kualitas udara luar sedang buruk, rumah memang sebaiknya menjadi tempat perlindungan. Tetapi perlindungan tersebut dapat dibantu dengan pengelolaan kualitas udara di dalam ruangan.

Di sinilah perangkat seperti air purifier dapat memiliki peran sebagai salah satu lapisan perlindungan tambahan.

Air purifier bekerja dengan menarik udara ruangan melewati sistem filtrasi sehingga sebagian partikulat dan polutan yang dapat disaring oleh perangkat tersebut tertahan pada filter. Teknologi, jenis filter, kapasitas ruangan, serta kemampuan masing-masing produk tentu berbeda.

Karena itu, air purifier sebaiknya tidak dipandang sebagai pengganti masker ketika harus berada di luar, apalagi sebagai pengganti instruksi evakuasi atau arahan dari pihak berwenang. Fungsinya lebih tepat ditempatkan sebagai alat bantu untuk mengelola kualitas udara di dalam rumah.

Baca Juga: Xiaomi Perluas Ekosistem AIoT Kenalkan 5 Produk Pendukung Gaya Hidup Modern

Memilih Air Purifier saat Kualitas Udara Memburuk

Kondisi seperti erupsi gunung api juga bisa menjadi momentum untuk kembali melihat kebutuhan air purifier di rumah.

Tidak harus selalu memilih produk dengan spesifikasi tertinggi. Yang lebih penting adalah menyesuaikan perangkat dengan kebutuhan ruangan dan memperhatikan beberapa hal, seperti kemampuan filtrasi partikulat, cakupan ruangan, ketersediaan filter pengganti, pemantauan kualitas udara, serta kemudahan penggunaannya.

Saat ini pilihan air purifier di pasar cukup beragam, dari produk berukuran compact untuk kamar hingga perangkat berkapasitas besar untuk ruang keluarga. Beberapa merek yang memiliki lini air purifier antara lain Xiaomi, Sharp, LG, dan sejumlah produsen lainnya.

Dengan kata lain, teknologi pemurni udara bukan hanya relevan ketika terjadi erupsi atau polusi ekstrem. Dalam kehidupan sehari-hari, perangkat ini dapat menjadi salah satu cara membantu menjaga kualitas udara di ruang yang paling sering kita tempa

Mijia Smart Air Purifier 6 Plus, Salah Satu Pilihan Berkapasitas Besar

Salah satu perangkat yang diperkenalkan Xiaomi Indonesia adalah Mijia Smart Air Purifier 6 Plus.

Produk ini memiliki cakupan pemurnian yang diklaim mencapai hingga 91 m² dan menggunakan sistem filtrasi lima lapis. Xiaomi juga membekalinya dengan pemantauan kualitas udara secara real-time yang dapat dipantau melalui aplikasi Xiaomi Home.

Ada pula fitur UVC yang diklaim Xiaomi sebagai bagian dari sistem perlindungan perangkat terhadap mikroorganisme, serta sertifikasi SGS terkait kemampuan penyaringan alergen.

Untuk kondisi seperti polusi partikulat, kemampuan penyaringan menjadi salah satu aspek yang menarik diperhatikan. Namun, seperti perangkat air purifier lainnya, efektivitas nyata tetap bergantung pada kondisi ruangan, penggunaan, perawatan, dan spesifikasi partikulat yang memang dapat ditangani oleh filter.

Mijia Smart Air Purifier 6 Plus mulai dijual di Indonesia sejak 9 September 2026. Pada periode promosi hingga 10 Oktober 2026, harganya Rp5.499.000 dari harga normal Rp5.899.000.

Xiaomi juga memiliki beberapa pilihan air purifier lain dengan kapasitas dan harga berbeda, sehingga kebutuhan pengguna tidak selalu harus diarahkan pada model tertinggi.

Jangan Menunggu Udara Terlihat Buruk

Erupsi Anak Krakatau menjadi pengingat bahwa kualitas udara dapat berubah dalam waktu singkat. Dan yang perlu diwaspadai bukan hanya abu yang terlihat menempel di permukaan.

Memantau informasi dari pihak berwenang, mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kondisi tidak mendukung, menggunakan perlindungan pernapasan yang tepat, menjaga rumah tetap tertutup ketika terjadi sebaran abu, serta membersihkan rumah dengan cara yang tidak membuat partikulat kembali beterbangan adalah langkah dasar yang tetap penting.

Air purifier kemudian dapat menjadi salah satu alat bantu tambahan untuk menjaga udara di dalam rumah.

Sebab pada akhirnya, menjaga kualitas udara bukan semata soal memilih perangkat paling canggih. Yang lebih penting adalah memahami kapan udara membutuhkan perhatian lebih—dan membuat rumah menjadi tempat yang benar-benar membantu kita bernapas dengan lebih nyaman.

(RR)

Cek berita dan ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom