
Ranahrumah.com – INSIGHT | Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah dalam penyerapan tenaga kerja terdidik. Badan Pusat Statistik mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional sebesar 4,68 persen pada Februari 2026. Sementara itu, data BPS berdasarkan pendidikan yang tersedia untuk Februari 2025 menunjukkan terdapat sekitar 1,63 juta penganggur yang merupakan lulusan SMK.
Angka ini memperlihatkan bahwa pendidikan vokasi masih membutuhkan penguatan agar keterampilan yang dimiliki lulusan semakin sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Bukan semata-mata berapa banyak lapangan pekerjaan yang tersedia, tetapi juga bagaimana memastikan lulusan memiliki kompetensi yang benar-benar relevan ketika memasuki dunia profesional.
Karena itu, keterlibatan industri dalam pendidikan vokasi menjadi penting. Industri memahami kebutuhan pekerjaan secara langsung. Sekolah memiliki peran utama dalam pendidikan. Sementara pemerintah berperan membangun kebijakan dan ekosistem yang memungkinkan keduanya terhubung.
Ketika tiga unsur ini berjalan bersama, konsep link and match antara pendidikan dan industri tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi dapat diterapkan dalam proses pembelajaran.
Mendekatkan Pengalaman Industri ke Ruang Kelas
Gagasan tersebut pula yang dibawa PT Sharp Electronics Indonesia melalui program Sharp Class. Pada 29 Juli 2026, Sharp menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) pelaksanaan Sharp Class bersama SMKN 35 Jakarta.
Program ini diikuti 25 siswa terpilih yang akan menjalani pembelajaran intensif selama tiga bulan. Materi diberikan oleh tim pengajar profesional dari divisi Customer Satisfaction PT Sharp Electronics Indonesia dengan kurikulum yang disusun berdasarkan kebutuhan industri.
Untuk angkatan di SMKN 35 Jakarta, pembelajaran difokuskan pada bidang Audio Video, tidak hanya melalui teori tetapi juga praktik. Siswa sekaligus mendapatkan pembekalan mengenai budaya kerja industri, kedisiplinan, dan kompetensi yang diperlukan ketika nantinya benar-benar masuk ke dunia profesional.
Dengan pendekatan tersebut, sekolah tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang untuk mengenal standar kerja yang akan dihadapi setelah lulus.
Bagi Sharp, pendidikan vokasi merupakan salah satu fondasi penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten dan berdaya saing. Karena itu, perusahaan menilai kolaborasi dengan sekolah perlu diarahkan pada pembelajaran yang semakin dekat dengan kebutuhan industri.
Baca Juga: Pendidikan Vokasi sharp Class Sambangi SMKN 3 Karawang

Lise Tiasanty, Customer Satisfaction Division Head PT Sharp Electronics Indonesia, menegaskan bahwa Sharp Class dirancang untuk memberi siswa bekal yang lebih relevan dengan dunia kerja. Harapannya, kerja sama dengan SMKN 35 Jakarta tidak hanya meningkatkan kompetensi siswa, tetapi juga melahirkan lulusan yang mampu berkontribusi bagi industri nasional.
Ketika Sekolah, Industri, dan Pemerintah Berjalan Bersama
Manfaat kolaborasi seperti ini tidak berhenti pada siswa. Bagi sekolah, keterlibatan praktisi industri memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih aplikatif dan membuka wawasan tentang standar profesional yang sesungguhnya.
Kepala SMKN 35 Jakarta, Sopandi, M.Pd., melihat kerja sama dengan Sharp sebagai kesempatan bagi siswa untuk memperoleh pengalaman belajar langsung dari praktisi industri. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat kompetensi peserta didik sekaligus memperluas peluang mereka untuk terserap di dunia kerja.
Di sisi lain, pemerintah juga memiliki kepentingan yang sama dalam memperkuat pendidikan vokasi. Perwakilan Sudin Pendidikan Wilayah 1 Jakarta Barat menilai kolaborasi Sharp Class sebagai bentuk nyata konsep link and match yang selama ini didorong. Juga, sekaligus contoh bagaimana dunia usaha dapat ikut berkontribusi mencetak lulusan SMK yang kompeten dan adaptif.
Kolaborasi tiga pihak inilah yang membuat pendidikan vokasi memiliki dampak lebih luas. Sekolah menyediakan fondasi pendidikan, industri menghadirkan pengetahuan dan standar kerja yang aktual, sementara pemerintah membangun kebijakan serta ekosistem pendukungnya.
Dengan demikian, pendidikan vokasi tidak hanya berbicara tentang menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah, tetapi juga lulusan yang mempunyai keterampilan dan pengalaman yang dibutuhkan ketika berhadapan dengan dunia kerja.
Pendidikan Vokasi hingga Kebutuhan Layanan Sharp
Manfaat program ini juga memiliki dimensi yang lebih luas. Siswa yang mendapatkan pembelajaran langsung dari industri berkesempatan mengenal teknologi, prosedur kerja, standar pelayanan, dan budaya profesional yang dapat menjadi bekal ketika memasuki industri elektronik maupun bidang terkait.
Lebih jauh, program pendidikan vokasi ini juga memiliki kaitan dengan kebutuhan Sharp sendiri. Lulusan yang telah mengenal standar kerja dan memiliki kompetensi teknis berpotensi menjadi sumber daya manusia yang dapat mendukung kebutuhan perusahaan, khususnya di bidang layanan purna jual dan Customer Satisfaction. Artinya, investasi pada pendidikan tidak hanya memberikan manfaat sosial bagi penerima program, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya industri membangun sumber daya manusia yang memahami kebutuhan layanan secara langsung.
Hal ini sejalan dengan tujuan Sharp untuk menghadirkan tenaga kerja yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu memberikan layanan yang sesuai dengan standar industri dan memiliki daya saing lebih luas.
Baca Juga: Sharp Perkuat Komitmen ESG melalui Program Sharp Class
Sharp Class, Konsisten Sejak 2012
Sharp Class bukan program yang baru dijalankan. Sharp Indonesia pertama kali memperkenalkannya pada 2012 sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam pengembangan pendidikan vokasi.
Hingga kini, berdasarkan data dalam rilis Sharp Indonesia per 29 Juli 2026, program tersebut telah diterapkan di 28 SMK di berbagai wilayah Indonesia dan diikuti 923 siswa. Dari jumlah tersebut, sekitar 10 persen lulusan disebut telah bergabung sebagai karyawan PT Sharp Electronics Indonesia. Lulusan lainnya melanjutkan karier di berbagai perusahaan nasional maupun internasional ataupun mengembangkan usaha secara mandiri.
Data tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi industri dan pendidikan dapat menghasilkan manfaat yang lebih konkret ketika dilakukan secara berkelanjutan. Bukan hanya memberikan pelatihan sesaat, tetapi menghadirkan pengalaman belajar yang berhubungan langsung dengan kebutuhan pekerjaan.
“Kami meyakini bahwa keberlanjutan dibangun melalui kolaborasi dan investasi pada manusia. Kami berharap program ini dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat dan mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia,” ujar Pandu Setio, PR & Brand Communication Department Head PT Sharp Electronics Indonesia.
Komitmen ini juga menjadi bagian dari kontribusi Sharp terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.
Pada akhirnya, pendidikan vokasi bukan hanya tanggung jawab sekolah. Dunia industri membutuhkan tenaga kerja yang sesuai dengan perkembangannya, sementara generasi muda membutuhkan kesempatan untuk memperoleh keterampilan yang benar-benar relevan.
Sharp Class memperlihatkan bagaimana kebutuhan tersebut dapat dipertemukan melalui kolaborasi. Ketika industri mau berbagi pengetahuan, sekolah membuka ruang bagi pengalaman profesional, dan pemerintah mendukung ekosistemnya, pendidikan vokasi memiliki peluang lebih besar untuk melahirkan lulusan yang bukan sekadar siap lulus, tetapi juga lebih siap bekerja dan berkembang menghadapi perubahan industri. (RR)
Cek berita terkini, produk dan ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom


