Ranahrumah.com -TREN | Perkembangan standar bangunan hijau membuat sistem HVAC dituntut tak hanya semakin efisien, tetapi juga mampu memenuhi aspek keselamatan dan keberlanjutan.
Perubahan ini ikut mendorong berkembangnya solusi teknis HVAC yang disesuaikan dengan kebutuhan dan regulasi lokal.
Green Mark 2021 Mengubah Pertimbangan dalam Desain HVAC
Midea Building Technologies menggelar Seminar Apresiasi Konsultan & Kontraktor di METT Singapore, 25 Agustus 2026. Forum teknis ini mempertemukan konsultan mekanikal dan elektrikal, pengembang, serta operator pusat data untuk membahas perkembangan sistem HVAC di tengah tuntutan bangunan yang semakin hemat energi dan rendah karbon.
Salah satu pembahasan utama adalah penerapan Green Mark 2021 dan standar Super Low Energy (SLE) di Singapura. Green Mark 2021 sendiri merupakan skema sertifikasi bangunan hijau yang mendorong peningkatan kinerja energi sekaligus aspek keberlanjutan lain, seperti pengurangan karbon, maintainability, ketahanan bangunan, dan kesehatan penghuninya.
Penting untuk membedakan Green Mark dengan regulasi refrigeran. Green Mark tidak menetapkan satu jenis refrigeran tertentu seperti R32 atau R1234ze. Ketentuan mengenai batas Global Warming Potential (GWP) refrigeran diatur secara khusus oleh National Environment Agency (NEA), dan batasnya berbeda menurut jenis peralatan. Untuk AC split rumah tangga hingga kapasitas tertentu, misalnya, batas GWP ditetapkan 750. Sementara untuk water-cooled chiller berkapasitas 1.055 kW atau lebih yang digunakan untuk menghasilkan chilled water bagi sistem pendingin udara, batas GWP-nya jauh lebih rendah, yakni 15.
Keduanya bertemu pada tujuan yang sama: mendorong bangunan dan sistem pendingin yang semakin efisien serta lebih rendah dampaknya terhadap lingkungan. Karena itu, bagi perancang HVAC, pertimbangan desain tidak lagi berhenti pada kapasitas pendinginan, tetapi juga mencakup efisiensi energi, pilihan refrigeran, keselamatan, serta kebutuhan operasional bangunan.
Dalam kondisi ini, efisiensi sistem chilled-water tidak hanya ditentukan oleh satu perangkat. Performa water-side plant dan distribusi air-side perlu dirancang sebagai satu kesatuan untuk mencapai efisiensi sistem secara menyeluruh.
Baca Juga: Transformasi Industri HVAC di Indonesia: Tren, Inovasi, dan Tantangan
Refrigeran Rendah GWP, dari R32 hingga R1234ze
Perkembangan sistem HVAC yang lebih rendah karbon juga tidak terlepas dari perubahan penggunaan refrigeran. Namun, jenis refrigeran yang digunakan pada sistem pendingin bangunan berskala besar tidak selalu sama dengan yang digunakan pada AC rumah.
Di Singapura, misalnya, ketentuan mengenai batas Global Warming Potential (GWP) dibedakan berdasarkan jenis peralatan. Untuk AC split rumah tangga hingga kapasitas tertentu, refrigeran yang digunakan tidak boleh memiliki GWP lebih dari 750. Ketentuan ini membuat refrigeran seperti R32, yang memiliki GWP lebih rendah dibandingkan banyak refrigeran generasi sebelumnya, menjadi salah satu pilihan penting untuk AC ruang.
Sementara itu, tuntutan pada sistem chiller berkapasitas besar jauh lebih ketat. Untuk water-cooled chiller dengan kapasitas 1.055 kW atau lebih yang digunakan antara lain untuk menghasilkan chilled water bagi sistem pendingin udara, batas GWP refrigeran ditetapkan sebesar 15 sejak 1 Oktober 2022.
Karena itu, pada sistem HVAC skala bangunan, pilihan refrigeran dapat mengarah pada jenis dengan GWP yang jauh lebih rendah, seperti R1234ze(E). Refrigeran HFO ini memiliki GWP kurang dari 1 dan telah digunakan pada berbagai teknologi chiller, termasuk magnetic-bearing centrifugal chiller. Midea sendiri menawarkan teknologi chiller dengan R1234ze(E), termasuk untuk kebutuhan pendinginan pusat data.
Namun, rendahnya GWP bukan berarti aspek keselamatan dapat diabaikan. R1234ze(E) termasuk refrigeran kelas A2L, sehingga karakteristik mudah terbakar tingkat rendahnya perlu diperhitungkan dalam desain ruang mesin, termasuk sistem deteksi kebocoran, ventilasi, dan perlindungan kebakaran.
Dengan demikian, pemilihan refrigeran pada HVAC modern bukan sekadar persoalan memilih bahan dengan GWP rendah. Jenis peralatan, kapasitas sistem, efisiensi, karakteristik refrigeran, serta persyaratan keselamatan perlu dipertimbangkan sebagai satu kesatuan.
Baca Juga: Teknologi R32 dan Masa Depan AC Ramah Lingkungan
Teknologi Magnetic-Bearing untuk Meningkatkan Efisiensi Chiller
Untuk mendukung kebutuhan efisiensi tinggi, teknologi magnetic-bearing chiller menjadi salah satu solusi yang dibahas dalam seminar.
Midea menyoroti kombinasi motor sinkron magnet permanen, sistem direct-drive, dan bantalan magnetik yang memungkinkan rotor bekerja tanpa kontak mekanis. Teknologi ini juga memungkinkan sistem tetap menjaga posisi rotor ketika terjadi gangguan atau pemadaman listrik mendadak.
Keuntungan lainnya adalah sistem bebas oli. Tidak adanya oli pada kompresor mengurangi kebutuhan perawatan seperti penggantian oli, filter, dan pompa. Pada saat yang sama, tidak adanya migrasi oli ke heat exchanger membantu menjaga performa perpindahan panas dalam jangka panjang.
Bagi fasilitas dengan kebutuhan operasi kontinu seperti pusat data, efisiensi sekaligus keandalan ini menjadi semakin penting karena gangguan sistem pendinginan dapat berdampak langsung pada operasional fasilitas.
Baca Juga: Mengapa AC Tidak Menggunakan Filter HEPA? Mengenal Perbedaan HEPA dan MERV
Dari Eksportir Produk Menjadi Penyedia Solusi Teknis Lokal
Perubahan kebutuhan pasar juga mendorong Midea memperluas perannya di Singapura. Dalam seminar tersebut, Dr. Pan Heng, Manajer Proyek Global Switch, melihat adanya pergeseran Midea dari sekadar eksportir produk menjadi penyedia solusi teknis yang disesuaikan dengan standar dan kebutuhan lokal.
Kapabilitas tersebut terutama terlihat pada proyek pusat data, melalui integrasi pengendalian suhu, teknologi magnetic-bearing, liquid cooling, dan building management system (BMS), mulai dari factory acceptance test (FAT) hingga proses komisioning di lokasi.
Sementara itu, Toh Boo Hor, Direktur Senior Asia Infrastructure Solutions, menyoroti kebutuhan terhadap dukungan vendor yang andal seiring pertumbuhan permintaan pusat data. Dalam proyek dengan tuntutan operasi yang tinggi, dukungan teknis dan kolaborasi menjadi sama pentingnya dengan efisiensi peralatan.
Midea juga memperkuat dukungan lokal melalui ketersediaan suku cadang, tenaga lapangan bersertifikat, serta jajaran produk yang disesuaikan dengan kebutuhan bangunan di Singapura, termasuk seri VC Max dan platform VRF satu fase ATOM B.
Baca Juga: 6 Tolok Ukur Menilai Bangunan Hijau menurut GBCI
Kompetisi Desain HVAC Hadir di Singapura
Selain membahas teknologi dan perkembangan regulasi, seminar ini menjadi momentum bagi Midea untuk memperkenalkan Kompetisi Desain HVAC kepada komunitas konsultan dan kontraktor Singapura.
Kompetisi yang pertama kali digelar pada 2002 dan diperluas menjadi kompetisi global pada 2021 ini mengusung tema Ensoul Buildings. Berbeda dari kompetisi desain yang semata-mata menilai gagasan konseptual, kategori Profesional dan Distributor dalam kompetisi ini mengedepankan proyek yang telah selesai, beroperasi secara stabil, dan memiliki data kinerja yang dapat diverifikasi.
Kompetisi juga bersifat netral terhadap merek. Proyek yang menggunakan peralatan dari produsen HVAC mana pun dapat berpartisipasi. Penilaian dilakukan oleh panel ahli independen, mulai dari tahap lokal hingga penjurian internasional.
Kehadiran kompetisi ini di Singapura melengkapi langkah Midea dalam membangun hubungan yang lebih dekat dengan komunitas desain dan teknik setempat. Bukan hanya sebagai pemasok peralatan HVAC, tetapi sebagai mitra yang terlibat dalam pengembangan solusi bangunan yang semakin efisien, aman, dan sesuai dengan tuntutan standar masa kini. (*)
Catatan Ranahrumah
Mendengar istilah refrigeran rendah GWP, pembaca mungkin langsung teringat R32 yang kini banyak digunakan pada AC rumah. Namun, refrigeran untuk AC ruang tidak selalu sama dengan yang digunakan pada sistem HVAC berskala bangunan.
R32 relevan untuk banyak sistem AC split dan aplikasi ruang, sementara R1234ze(E) dapat digunakan pada sistem chiller untuk kebutuhan pendinginan bangunan berskala besar, termasuk fasilitas dengan kebutuhan pendinginan tinggi seperti pusat data. Perbedaannya bukan semata-mata soal mana refrigeran yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga menyangkut jenis peralatan, kapasitas sistem, karakteristik refrigeran, efisiensi, dan persyaratan keselamatan.
Karena itu, perkembangan HVAC modern perlu dilihat sebagai sebuah sistem yang utuh. Pilihan refrigeran, teknologi pendingin, desain instalasi, hingga regulasi yang berlaku perlu berjalan bersama untuk mencapai bangunan yang lebih efisien dan rendah karbon. (RR)
Cek berita terbaru dari Industri, ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom



