
Ranahrumah.com – GAYA HIDUP | Hutan di kawasan Batukaru bukan sekadar bentang hijau di lereng pegunungan. Kawasan ini memiliki peran penting sebagai daerah tangkapan air yang mendukung kehidupan masyarakat, pertanian, serta keberlangsungan berbagai aktivitas di wilayah Bali.
Karena itu, upaya reforestasi di kawasan ini tidak berhenti pada menanam pohon. Pemulihan tutupan vegetasi perlu dilihat sebagai proses jangka panjang untuk mengembalikan fungsi ekologis hutan, menjaga kemampuan tanah menyimpan air, sekaligus mengurangi risiko erosi yang dapat berdampak hingga wilayah pertanian di bagian hilir.
Mengapa Reforestasi Batukaru Penting?
Lereng Gunung Batukaru merupakan bagian dari salah satu kawasan tangkapan air penting di Bali. Kawasan ini menopang 20 sistem irigasi subak di wilayah Catur Angga Batukaru serta tujuh desa, yaitu Jatiluwih, Tengkudak, Penatahan, Tegalinggah, Rejasa, Sangketan, dan Wongaya Gede.
Hubungan antara hutan di dataran tinggi dan kehidupan masyarakat di bawahnya sangat erat. Ketika tutupan vegetasi berkurang, kemampuan tanah dalam menyimpan air ikut menurun. Struktur tanah juga menjadi lebih rentan terhadap erosi, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kawasan pertanian berundak dan sumber daya air yang digunakan masyarakat.
Dalam konteks yang lebih luas, menjaga kawasan hutan dan daerah tangkapan air merupakan bagian dari upaya mempertahankan ketahanan lingkungan. Hutan yang sehat membantu menjaga siklus air, tanah, dan keanekaragaman hayati—fungsi ekologis yang menjadi bagian penting dari keberlanjutan kehidupan dan pembangunan, tidak hanya di Bali tetapi juga dalam agenda pelestarian lingkungan di Indonesia.
“Reforestasi tidak cukup hanya dengan menghitung berapa banyak pohon yang ditanam. Yang lebih penting adalah memastikan kawasan kembali memiliki fungsi ekologis yang baik. Karena itu, arah, target, dan jangka waktu pemulihan harus ditentukan berdasarkan kondisi ekologis masing-masing kawasan, sehingga upaya yang dilakukan benar-benar memberikan dampak bagi lingkungan dan masyarakat,” ujar I Ketut Subandi, S.Hut., M.Si., Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Pemberdayaan Masyarakat, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali.
Baca Juga: 1.000 Pohon Lokal Ditanam di Nuanu Bali, Apa Manfaatnya bagi Lingkungan dan Pengunjung?
100 Pohon, Bukan Sekadar Penanaman
Program reforestasi ini berlangsung di kawasan hutan seluas 1.000 m² di sekitar Pura Luhur Batukaru. Tahap persiapan lahan telah dilakukan sejak pertengahan Agustus, sementara penanaman dijadwalkan berlangsung hingga 2 September 2026.
Sebanyak 100 pohon ditanam, terdiri atas 30 pohon beringin, 50 pohon mahoni, dan 20 pohon cempaka (Magnolia champaca).
Pemilihan jenis pohon dilakukan bersama Dinas Kehutanan Provinsi Bali dan tenaga teknis setempat dengan mempertimbangkan kondisi hutan dan tanah di Batukaru. Beringin juga memiliki nilai khusus dalam konteks kawasan pura di Bali, sehingga penanaman tidak hanya berkaitan dengan pemulihan ekologis, tetapi juga dengan karakter lanskap budaya di sekitarnya.
Yang menarik, program ini memberi perhatian pada tahap setelah pohon ditanam. Dukungan yang diberikan mencakup penyediaan bibit, penanaman, penyiraman, penggantian bibit yang tidak bertahan hidup, perlindungan area tanam, hingga pemantauan tingkat keberhasilan hidup pohon.
Tingkat keberhasilan hidup, pertumbuhan, dan pemeliharaan pohon akan dipantau selama 12 bulan. Hasil pemantauan tersebut akan dipublikasikan pada September 2027.
Pendekatan ini menjadi penting karena keberhasilan reforestasi tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah pohon yang masuk ke tanah, tetapi juga oleh kemampuannya untuk bertahan dan tumbuh dalam kondisi ekologis setempat.
Baca Juga: Peluang Investasi Eksklusif untuk Komersial dan Residensial di Bali
Masyarakat Menjadi Bagian dari Pemulihan Hutan
Reforestasi Batukaru juga melibatkan masyarakat yang selama ini memiliki hubungan langsung dengan kawasan hutan tersebut.
Pelaksanaan kegiatan dikoordinasikan bersama Jero Bendesa Adat, pengempon dan pengurus Pura Luhur Batukaru, serta pemerintah desa setempat. Masyarakat di kawasan Batukaru telah menjaga hutan secara lintas generasi dan akan dilibatkan dalam pemeliharaan, pemantauan, penyediaan tenaga kerja, hingga pengambilan keputusan dalam pelaksanaan program.
Keterlibatan ini memperlihatkan bahwa pemulihan hutan tidak hanya membutuhkan intervensi teknis, tetapi juga pengetahuan lokal dan keterlibatan mereka yang hidup berdampingan dengan lanskap tersebut.
“Reforestasi tidak selesai ketika pohon selesai ditanam. Justru sebagian besar kebutuhan pemeliharaan dan risikonya berada pada saat setelah penanaman,” ujar Auditya Sari, Head of Nuanu Social Fund.
“Karena itu, kami mendanai proses selama satu tahun dan akan mempublikasikan tingkat keberhasilan hidup pohon setelah 12 bulan, apapun hasilnya. Peran kami adalah mendukung agenda reforestasi yang dipimpin oleh Dinas Kehutanan Provinsi Bali, sekaligus menghormati pengetahuan dan pengalaman masyarakat yang telah menjaga lanskap ini jauh sebelum kami hadir di sini.”
Baca Juga: Nuanu di Tahun 2027 Jadi Kota Kreatif Bertenaga Listrik Pertama di Bali
Dukungan Sektor Pariwisata untuk Menjaga Sumber Air
Program reforestasi ini merupakan bagian dari agenda Dinas Kehutanan Provinsi Bali, dengan dukungan Nuanu Social Fund dan Bali Tourism Board sebagai mitra dari sektor pariwisata.
Bagi Bali Tourism Board, keterlibatan sektor pariwisata dalam menjaga kawasan tangkapan air memiliki hubungan langsung dengan keberlangsungan industri. Hotel, restoran, vila, dan berbagai aktivitas pariwisata membutuhkan air sebagai salah satu sumber daya utama.
“Setiap hotel, restoran, dan vila di pulau ini menggunakan air yang pada awalnya berasal dari curah hujan yang ditampung oleh kawasan lereng seperti Batukaru,” ujar Ida Bagus Agung Partha Adnyana, Chairman of the Bali Tourism Board.
“Industri pariwisata memiliki kepentingan langsung terhadap kemampuan kawasan tangkapan air ini untuk tetap berfungsi. Ini bukan sekadar kegiatan amal dari sektor pariwisata — ini merupakan bagian dari menjaga sumber daya yang menopang keberlangsungan usaha kita.”
Keterlibatan Bali Tourism Board sekaligus membuka peluang bagi pelaku industri pariwisata dan mitra sektor swasta lainnya untuk ikut mendukung agenda serupa. Dengan demikian, pelestarian lingkungan dapat ditempatkan sebagai bagian dari keberlanjutan industri, bukan hanya kegiatan sosial yang berdiri sendiri.
Dari 100 Pohon Menuju Model Kolaborasi
Penanaman 100 pohon di Batukaru menjadi langkah awal dari pendekatan kolaboratif yang mempertemukan pemerintah, masyarakat, sektor pariwisata, dan sektor swasta.
Yang menjadi perhatian bukan hanya berapa banyak pohon yang ditanam, tetapi bagaimana pohon-pohon tersebut dipelihara, dipantau, dan mampu tumbuh dalam jangka panjang. Publikasi hasil pemantauan setelah 12 bulan juga memberi gambaran yang lebih terukur mengenai keberhasilan program.
Bila pendekatan ini dapat diterapkan pada kawasan lain sesuai kebutuhan ekologisnya, kolaborasi serupa berpotensi memperluas dukungan terhadap program reforestasi yang dipimpin pemerintah.
Pada akhirnya, menjaga Batukaru berarti menjaga lebih dari sekadar hutan. Di dalamnya terdapat sumber air, lahan pertanian, kehidupan masyarakat, lanskap budaya, serta keberlanjutan berbagai aktivitas yang bergantung pada ekosistem tersebut. (*)
Baca Juga: Lebih Dekat dengan Ecoverse di Nuanu Bali, Hunian yang Dirancang sebagai Bagian dari Kota
Catatan Ranahrumah
Menanam pohon adalah awal, bukan akhir dari reforestasi. Keberhasilan pemulihan hutan justru sangat ditentukan oleh apa yang dilakukan setelah penanaman: apakah pohon mampu bertahan, tumbuh, dan kembali menjalankan fungsi ekologisnya.
Karena itu, keterlibatan pemerintah, masyarakat, dan industri menjadi penting. Pemerintah memiliki peran dalam menentukan kebutuhan ekologis kawasan, masyarakat membawa pengetahuan dan pengalaman menjaga lanskap, sementara sektor swasta dan industri dapat membantu menyediakan dukungan serta sumber daya untuk keberlanjutan program.
Reforestasi Batukaru memperlihatkan bahwa menjaga lingkungan dapat menjadi kepentingan bersama. Ketika hutan, sumber air, masyarakat, dan aktivitas ekonomi saling terhubung, merawat satu bagian berarti ikut menjaga keberlangsungan bagian lainnya. (RR)
Cek berita atau ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook Ranah Rumah, Instagram @ranahrumahcom


