Ranahrumah.com – INSIGHT | Di tengah cepatnya pertumbuhan Serpong dan Gading Serpong sebagai kawasan kota baru, Situ Cihuni tetap bertahan sebagai salah satu lanskap alami yang tersisa. Danau kecil yang berada di wilayah Pagedangan, Kabupaten Tangerang ini kini berada di persimpangan penting: antara kebutuhan pembangunan kota modern dan tuntutan menjaga ekosistem yang semakin langka.
Di satu sisi, kawasan sekitar Situ Cihuni berkembang menjadi pusat hunian, komersial, dan gaya hidup urban. Namun di sisi lain, keberadaan badan air, vegetasi rawa, dan habitat alami di kawasan ini justru semakin bernilai di tengah padatnya urbanisasi Jabodetabek.
Pertanyaannya kemudian menjadi relevan: bisakah pembangunan properti dan konservasi hidup berdampingan?

Tentang Situ Cihuni
Situ Cihuni atau sering juga disebut Danau Cihuni, merupakan salah satu kawasan danau/situ alami yang masih tersisa di wilayah perkembangan Serpong–Gading Serpong, Kabupaten Tangerang. Lokasinya berada di Desa Cihuni, Kecamatan Pagedangan, dekat kawasan kota mandiri. Kawasan ini cukup unik karena di tengah perkembangan properti modern, Situ Cihuni masih mempertahankan karakter lanskap alami berupa perairan, rawa, ilalang, pepohonan, dan habitat satwa air.
Secara historis, Situ Cihuni merupakan bagian dari sistem situ/danau penampungan air alami di Tangerang yang sudah ada sejak masa kolonial. Beberapa sumber menyebutkan kawasan ini mulai dibentuk dan dimanfaatkan sebagai tampungan air sejak era 1930-an. Fungsi utamanya adalah sebagai: penampung air hujan, pengendali banjir, irigasi, serta cadangan air kawasan sekitar.
Dalam peta lama Tangerang tahun 1942, luas Situ Cihuni disebut mencapai sekitar 32,34 hektare dan masuk kawasan lindung/aset negara.
Seiring perkembangan Serpong dan Gading Serpong sejak tahun 1990-an hingga sekarang, area di sekitar situ berubah sangat cepat menjadi kawasan perumahan, komersial, dan infrastruktur kota baru. Namun Situ Cihuni tetap dipertahankan karena memiliki fungsi ekologis penting sebagai daerah resapan air.
Situ Cihuni mulai dikenal sebagai kawasan eco wisata karena memiliki suasana alam yang cukup berbeda dibanding area urban di sekitarnya. Beberapa karakter utamanya: habitat capung dan serangga air, area vegetasi alami, jalur sepeda dan gowes, lokasi memancing, area fotografi alam, pengamatan burung dan ekosistem rawa.
Bahkan beberapa pengunjung menyebut Situ Cihuni seperti “laboratorium alam” karena masih banyak ditemukan capung dan damselfly yang menjadi indikator kualitas lingkungan yang relatif baik.
Kawasan ini juga populer di komunitas pesepeda karena menjadi bagian dari jalur gowes “Jalur Naga”, rute sepeda alam yang melewati kampung, persawahan, dan tepian situ.
Saat ini status Situ Cihuni cukup kompleks karena berada di tengah tekanan pembangunan kawasan urban dan proyek properti besar. Pemerintah melalui: Kementerian PUPR, BBWS Ciliwung Cisadane, serta Pemprov Banten, telah beberapa kali menyatakan bahwa Situ Cihuni merupakan kawasan konservasi air dan aset negara yang harus dipulihkan fungsinya.
Beberapa program yang pernah diumumkan: revitalisasi situ, normalisasi danau, pengembalian fungsi tampungan air, penataan kawasan wisata alam, pengendalian banjir, penguatan ekowisata berbasis lingkungan.
Pemerintah juga berharap Situ Cihuni dapat berkembang menjadi ikon wisata ekologis baru di Tangerang Selatan–Kabupaten Tangerang.
Baca Juga: Banjir Perkotaan dan Masa Depan Infrastruktur Kota Hijau

Ketika Danau Kota Tidak Lagi Menjadi Ruang Sisa
Selama bertahun-tahun, banyak danau dan situ di kota-kota Indonesia dipandang sebagai “lahan belakang”. Sebagian menyusut karena pembangunan, sebagian lain kehilangan fungsi ekologis akibat sedimentasi dan okupasi liar.
Namun cara pandang itu perlahan berubah. Danau kota hari ini bukan lagi ruang sisa, melainkan infrastruktur ekologis yang menentukan kualitas hidup urban
Dalam konsep urbanisme modern, badan air dan ruang hijau kini diposisikan sebagai bagian penting dari green infrastructure — infrastruktur ekologis kota yang berfungsi menjaga kualitas lingkungan, mengendalikan air, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat urban.
Situ Cihuni menjadi contoh menarik dari perubahan cara pandang tersebut. Di tengah ekspansi kawasan Serpong, danau alami seperti ini justru mulai memiliki nilai baru: sebagai ruang hijau, kawasan resapan, koridor ekologis, hingga destinasi rekreasi berbasis alam.
Dalam urban development modern, developer besar bisa punya dua wajah: bisa menjadi ancaman ekologis, tapi juga bisa menjadi penyelamat lanskap alam yang tersisa.
Dalam konteks Situ Cihuni, ada beberapa kemungkinan peran positif developer besar yang cukup relevan. Di antaranya adalah:
- Menjaga Green Buffer yang Sulit Dilakukan Pemerintah Sendiri
Realitasnya, banyak situ di Jabodetabek justru hilang karena: okupasi liar, sampah, sedimentasi, tidak ada dana perawatan,
lemahnya pengawasan. Di sisi lain, developer besar kadang justru punya: kapasitas finansial, pengelolaan lanskap, sistem estate management, keamanan, kontrol tata ruang, yang membuat kawasan sekitar situ bisa lebih tertata.
Jika dulu situ dianggap belakang kota. Sekarang justru waterfront dan ecological landscape menjadi nilai jual tinggi.
Developer seperti Paramount memahami bahwa: view danau, jalur pedestrian hijau, area sepeda, outdoor recreation, biodiversity, akan menaikkan kualitas kawasan dan harga properti. Jadi secara ekonomi, menjaga situ justru menguntungkan dalam jangka panjang.
Di kota modern, air dan lanskap hijau sekarang bukan “sisa lahan”, tapi menjadi premium urban asset.
- Menjadikan Situ Cihuni sebagai Potensi Eco Urbanism
Kalau pengembangan dilakukan hati-hati, Situ Cihuni sebenarnya bisa menjadi contoh: “urban ecological integration”.
Dia bukan merupakan taman buatan sepenuhnya, tetapi lanskap alami yang: direstorasi, dibuka untuk publik, diberi boardwalk, menjadi jalur sepeda dan pedestrian, wetland education, bird habitat, stormwater management, dan eco tourism ringan.



