Ranahrumah.com – GAYA HIDUP | Rumah yang nyaman bukan selalu rumah dengan barang paling sedikit, melainkan rumah yang mampu memberi tempat bagi apa yang penting dalam kehidupan penghuninya. Karena hidup terus berubah, ruang dan perabot pun semestinya bisa mengikutinya.
Ada masa ketika kamar tidur anak hanya berisi tempat tidur dan beberapa mainan. Beberapa tahun kemudian, kamar yang sama berubah menjadi tempat belajar, bermain, menyimpan koleksi, bahkan ruang untuk menekuni hobi.
Begitu pula kamar orang dewasa. Lemari yang dulu terasa cukup, perlahan dipenuhi pakaian, tas, aksesori, buku, dan berbagai benda pribadi. Bukan karena penghuni rumah tiba-tiba tidak pandai merapikan, tetapi karena kehidupan memang terus bertambah dan berubah.
Di sinilah kita sering berhadapan dengan satu persoalan yang tidak selalu disadari: apakah rumah dan perabot di dalamnya sudah mengikuti kehidupan kita, atau justru kita yang terus-menerus menyesuaikan diri dengan apa yang sudah ada di rumah?
Baca Juga: Rumah yang Bertumbuh Mengikuti Perubahan Kehidupan Penghuni
Ruang yang Berubah Seiring Kehidupan
Dalam pengamatan IKEA melalui IKEA Home Visit dan Life at Home, cara keluarga menggunakan ruang ternyata tidak selalu sama dengan fungsi yang sejak awal dibayangkan untuk ruang tersebut.
Kamar anak, misalnya. Pada sebagian keluarga, anak sudah memiliki kamar sendiri sejak sekitar usia lima tahun. Namun kamar itu belum tentu menjadi tempat tidur. Anak masih tidur bersama orang tua, sementara kamar miliknya digunakan untuk bermain, belajar, sekaligus menyimpan berbagai barang.
Artinya, sebuah ruang tidak selalu berhenti pada fungsi yang tertulis di denah rumah.
Ruang dapat berubah mengikuti usia, aktivitas, kebiasaan, bahkan perubahan kebutuhan keluarga.
Hal serupa terjadi di ruang tidur orang dewasa. Area di sekitar tempat tidur atau lemari bisa menjadi tempat menumpuk pakaian, tas, buku, dan berbagai barang pribadi ketika tidak tersedia tempat penyimpanan yang sesuai.
Sering kali kita kemudian menyalahkan barang.
Padahal, persoalannya bisa jadi bukan semata-mata terlalu banyak barang, melainkan tidak tersedianya sistem penyimpanan yang mengikuti cara penghuni menggunakan barang-barang tersebut.
Bukan Harus Lebih Sedikit Barang
Ada anggapan bahwa rumah yang nyaman adalah rumah yang rapi dan memiliki sedikit barang. Padahal, kehidupan setiap keluarga tidak sesederhana itu.
Barang yang tersimpan di rumah bisa memiliki fungsi yang masih dibutuhkan, menyimpan kenangan, berkaitan dengan pekerjaan, hobi, atau menjadi bagian dari keseharian penghuninya.
Karena itu, mengurangi barang bukan selalu menjadi satu-satunya jawaban.
Yang lebih penting adalah membuat barang yang memang dibutuhkan memiliki tempat yang tepat—mudah ditemukan ketika diperlukan dan mudah dikembalikan setelah digunakan.
Perspektif inilah yang dibawa IKEA dalam melihat kebutuhan penyimpanan. Bagi IKEA, rumah yang baik bukan rumah yang memaksa penghuninya hidup dengan semakin sedikit barang, tetapi rumah yang membantu penghuninya menggunakan ruang dengan lebih baik.
Dengan cara pandang tersebut, penyimpanan bukan sekadar soal berapa banyak barang yang bisa masuk ke dalam lemari, melainkan bagaimana sistem penyimpanan tersebut sesuai dengan kebiasaan orang yang menggunakannya.
Baca Juga: Terlaris di IKEA: Lemari Pakaian dengan Sistem PAX, Kenali Yuk!
Perabot Seharusnya Mengikuti Kehidupan
Gagasan ini sebenarnya sederhana, tetapi sering terbalik dalam kehidupan sehari-hari.
Kita membeli lemari karena membutuhkan lemari. Kemudian barang-barang yang kita miliki dipaksa masuk ke dalam ukuran dan pembagian ruang lemari tersebut.
Padahal, seharusnya prosesnya bisa dimulai dari pertanyaan yang berbeda: apa saja yang kita simpan, bagaimana kita menggunakannya, dan seberapa sering kita membutuhkannya?
Dari sanalah kebutuhan perabot seharusnya ditentukan.
Pakaian yang sering digunakan mungkin membutuhkan ruang gantung yang mudah dijangkau. Barang kecil membutuhkan laci atau kompartemen agar tidak bercampur. Buku membutuhkan tempat yang berbeda dari aksesori atau perlengkapan rumah tangga.
Dengan kata lain, perabot yang baik bukan hanya yang terlihat menarik, tetapi yang bekerja sesuai dengan kehidupan penggunanya.
Prinsip tersebut juga membuat furnitur menjadi lebih relevan ketika kebutuhan berubah. Sistem penyimpanan seperti PAX, misalnya, memungkinkan kombinasi ruang gantung, rak, laci, dan aksesori disesuaikan dengan barang yang dimiliki. Pilihan penyimpanan seperti LASTARE juga dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan di rumah.
Bahkan ruang yang selama ini sering terabaikan—seperti area vertikal pada dinding atau ruang di bawah tempat tidur—dapat menjadi bagian dari strategi penyimpanan.
Bukan untuk memenuhi rumah dengan semakin banyak perabot, melainkan untuk menggunakan ruang yang sudah ada dengan lebih cerdas.
Rumah yang Nyaman Adalah Rumah yang Bisa Beradaptasi
Kenyamanan rumah pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh ukuran ruang, mahalnya furnitur, atau seberapa rapi tampilannya.
Rumah terasa nyaman ketika kehidupan di dalamnya dapat berlangsung tanpa terlalu banyak hambatan.
Anak bisa bermain tanpa harus terus membereskan barang agar ruang kembali seperti semula. Orang tua dapat menyimpan barang yang memang dibutuhkan tanpa membuat kamar terasa penuh. Barang sehari-hari dapat ditemukan tanpa harus membongkar seluruh isi lemari.
Dan ketika kehidupan berubah, rumah memiliki cukup keluwesan untuk ikut berubah.
Inilah yang membuat gagasan tentang rumah yang adaptif menjadi semakin penting. Sama seperti kehidupan keluarga yang bergerak dari satu fase ke fase berikutnya, ruang pun tidak seharusnya dianggap sebagai sesuatu yang selesai begitu furnitur ditempatkan.
Kebutuhan pasangan muda berbeda dengan keluarga yang memiliki anak kecil. Kebutuhan anak sekolah berbeda dengan remaja. Bahkan kebutuhan seseorang yang bekerja dari rumah dapat berubah ketika pola kerjanya berubah.
Karena itu, rumah yang nyaman bukan rumah yang selamanya tampak sama. Rumah yang nyaman adalah rumah yang mampu mengikuti penghuninya.
Baca Juga: Inspirasi Penyimpanan Tambahan yang Tak Butuh Banyak Ruang
Dari Cara Menyimpan, Menuju Kehidupan yang Lebih Baik
Percakapan IKEA Indonesia bersama Wonderwhy SEA melalui Clean Sleeper berangkat dari perhatian yang lebih luas terhadap kehidupan sehari-hari keluarga Asia Tenggara, termasuk kebiasaan beristirahat yang dipengaruhi lingkungan, aktivitas, tuntutan pekerjaan, kehidupan sosial, hingga penggunaan layar.
Di balik pembahasan tersebut terdapat satu benang merah: cara kita menggunakan rumah tidak bisa dipisahkan dari cara kita menjalani kehidupan.
Karena itu, ketika IKEA berbicara mengenai penyimpanan, persoalannya sebenarnya bukan hanya tentang lemari, rak, atau laci.
Ada upaya untuk memahami bagaimana orang menjalani hari, apa yang mereka simpan, bagaimana mereka menggunakan barang, dan apa yang membuat sebuah benda tetap memiliki tempat di rumah.
Pendekatan tersebut sejalan dengan visi IKEA untuk menciptakan kehidupan sehari-hari yang lebih baik bagi banyak orang. Bukan dengan menentukan seperti apa rumah yang ideal bagi semua orang, tetapi dengan menghadirkan solusi yang dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan penghuninya.
Sebab pada akhirnya, rumah bukanlah ruang yang harus kita taklukkan agar selalu rapi dan sesuai aturan. Rumah adalah tempat kehidupan berlangsung. Dan karena kehidupan terus berubah, rumah pun semestinya diberi kesempatan untuk ikut bertumbuh.
Insight Ranahrumah
Rumah bukan sekadar tempat menyimpan barang, tetapi tempat kehidupan berlangsung. Karena itu, yang seharusnya mengikuti perubahan hidup adalah rumah dan perabotnya—bukan penghuninya. (RR)
Cek berita atau ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom


