
| Tanaman yang tumbuh subur belum tentu rajin berbunga. Selain cahaya matahari dan penyiraman, pemilihan pupuk dengan kandungan unsur hara yang sesuai turut memengaruhi pembentukan bunga.
Ranahrumah.com -TIPS & TRIK | Memiliki taman yang dipenuhi bunga berwarna-warni tentu menyenangkan. Namun, bagaimana jika tanaman yang sudah dirawat dan diberi pupuk namun tidak kunjung berbunga?
Salah satu hal yang perlu diperiksa adalah kecukupan nutrisinya. Seperti makhluk hidup lainnya, tanaman membutuhkan unsur hara untuk tumbuh, membentuk daun dan akar, serta menghasilkan bunga.
Meski demikian, kebutuhan nutrisi setiap tanaman tidak sama. Tanaman hias yang mengandalkan keindahan daunnya, misalnya, memiliki kebutuhan yang berbeda dari tanaman berbunga yang dipelihara untuk menikmati bunganya.
Anthurium merupakan salah satu contoh tanaman hias daun yang membutuhkan nitrogen untuk mendukung pertumbuhan vegetatifnya. Sementara itu, tanaman berbunga juga memerlukan fosfor dan kalium dalam jumlah yang sesuai untuk menunjang pertumbuhan akar, pembentukan bunga, dan kesehatan tanaman.
Karena itu, jika tanaman tidak kunjung berbunga, jangan buru-buru menambah dosis pupuk. Periksa lebih dahulu jenis pupuk yang digunakan, kondisi tanaman, serta kebutuhan tumbuhnya.
3 Unsur Hara Penting dalam Pupuk Tanaman
Nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) merupakan tiga unsur hara makro yang umum dikenal dalam pemupukan tanaman. Ketiganya memiliki peran berbeda, tetapi saling melengkapi.
Kandungan tersebut biasanya dicantumkan dalam bentuk angka pada kemasan pupuk NPK. Sebagai contoh, pupuk NPK 15-15-15 mengandung nitrogen, fosfat, dan kalium dengan kadar yang masing-masing dinyatakan sebesar 15 persen menurut konvensi pelabelan pupuk.
Lantas, apa fungsi ketiga unsur tersebut?
1. Nitrogen (N), mendukung pertumbuhan daun dan batang
Nitrogen berperan penting dalam pembentukan klorofil dan protein yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh.
Unsur ini membantu pertumbuhan vegetatif, termasuk perkembangan daun dan batang. Karena itu, pupuk dengan kandungan nitrogen relatif tinggi sering digunakan ketika tanaman sedang berada dalam fase pertumbuhan vegetatif.
Kekurangan nitrogen dapat ditandai dengan daun yang menguning, pertumbuhan melambat, dan pada kondisi tertentu daun menjadi kering atau rontok.
Namun, pemberian nitrogen berlebihan juga tidak tepat. Tanaman bisa lebih banyak menghasilkan daun dan batang, sementara pembentukan bunga tidak berjalan optimal.
2. Fosfor (P), menunjang pertumbuhan akar dan pembentukan bunga
Fosfor berperan dalam proses metabolisme energi dan berbagai fungsi penting di dalam tanaman. Unsur ini juga mendukung perkembangan akar serta proses reproduksi tanaman, termasuk pembentukan bunga dan biji.
Ketersediaan fosfor yang memadai dibutuhkan agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Akan tetapi, menambahkan fosfor dalam jumlah berlebihan bukan berarti bunga akan semakin cepat muncul. Pemupukan tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan kondisi media tanam.
3. Kalium (K), membantu menjaga kesehatan tanaman
Kalium berperan dalam pengaturan air, aktivitas enzim, dan berbagai proses metabolisme tanaman. Unsur ini turut membantu tanaman menghadapi tekanan lingkungan serta mendukung perkembangan bunga dan buah.
Kekurangan kalium dapat menimbulkan gejala seperti perubahan warna pada tepi daun, jaringan daun yang mengering, atau pertumbuhan yang kurang optimal.
Pada tanaman berbunga, kecukupan kalium juga penting untuk mendukung kualitas pertumbuhan dan perkembangan bunga.
Baca Juga; Membuat Taman Dalam Ruang, Tips Memilih Jenis Tanaman dan Merawatnya
Pilih Pupuk dengan Kandungan yang Sesuai
Menurut Ira Puspa, arsitek lanskap dari Coctus Garden, pemilihan pupuk untuk tanaman berbunga perlu memperhatikan proporsi unsur hara di dalamnya. Pupuk dengan kandungan fosfor dan kalium relatif lebih tinggi dibandingkan nitrogen dapat menjadi pilihan pada fase pembungaan, bergantung pada jenis tanaman dan kebutuhan nutrisinya.
Namun, jangan hanya terpaku pada angka NPK. Perhatikan pula petunjuk penggunaan pada kemasan, kondisi tanaman, dan tujuan pemupukan.
Tanaman yang belum cukup umur, kekurangan cahaya matahari, atau mengalami masalah pada akar belum tentu akan berbunga meskipun sudah diberi pupuk khusus pembungaan.
Dengan kata lain, pupuk merupakan salah satu bagian dari perawatan, bukan satu-satunya penentu munculnya bunga.
Pupuk Slow Release, Pilihan untuk Perawatan Lebih Praktis
Salah satu jenis pupuk yang dapat digunakan untuk tanaman hias adalah pupuk slow release atau pupuk dengan pelepasan unsur hara terkendali. Pupuk ini dirancang untuk melepaskan unsur hara secara bertahap sehingga tanaman mendapatkan pasokan nutrisi dalam periode tertentu. Beberapa produk menggunakan lapisan khusus yang membantu mengatur pelepasan unsur hara.
Keunggulannya, pemupukan tidak harus dilakukan sesering pupuk yang seluruh unsur haranya lebih cepat tersedia. Meski begitu, lama pelepasan nutrisi bergantung pada formulasi produk dan kondisi lingkungan.
Ira menyarankan penggunaan pupuk slow release untuk tanaman hias. Ia menyebutkan bahwa sejumlah produk dapat bertahan sekitar tiga hingga empat bulan, dengan jumlah butiran yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.
Beberapa merek yang dikenal di pasaran antara lain Dekastar dan produk pupuk NPK dengan formulasi pelepasan terkendali. Namun, tidak semua pupuk NPK termasuk jenis slow release.
Sebelum membeli, periksa tiga hal berikut:
- Komposisi NPK. Sesuaikan dengan fase pertumbuhan dan kebutuhan tanaman.
- Petunjuk dosis. Jumlah pupuk bergantung pada jenis produk, ukuran pot, dan kondisi tanaman.
- Durasi pelepasan unsur hara. Perhatikan keterangan pada kemasan agar jadwal pemupukan tidak terlalu sering.
Hindari menambahkan pupuk hanya karena tanaman belum menunjukkan pertumbuhan yang diharapkan. Dosis berlebihan justru dapat meningkatkan kadar garam di media tanam dan merusak akar.
Baca Juga: Merawat Kaktus agar Tidak Mati
Pupuk Kompos dan Pupuk Kandang, Mana yang Lebih Baik?
Selain pupuk anorganik, tanaman berbunga juga dapat memperoleh manfaat dari bahan organik seperti kompos dan pupuk kandang yang telah matang.
Kompos membantu memperbaiki struktur media tanam dan mendukung aktivitas organisme tanah. Sementara itu, pupuk kandang menyediakan bahan organik dan unsur hara dengan kandungan yang bervariasi, bergantung pada jenis hewan serta proses pengolahannya.
Ira menyarankan agar penggunaan pupuk organik memperhatikan tingkat kematangannya.
Pupuk kandang yang belum matang sebaiknya tidak langsung digunakan pada tanaman. Bahan organik yang masih mengalami proses penguraian dapat menghasilkan panas atau senyawa yang merugikan akar. Kondisinya juga berpotensi mendukung pertumbuhan mikroorganisme yang tidak diinginkan.
Pupuk kandang yang telah matang dapat menjadi pilihan untuk memperbaiki media tanam. Pupuk kandang kambing, misalnya, bisa digunakan sebagai sumber bahan organik dan unsur hara. Namun, kandungan kaliumnya tidak selalu sama pada setiap produk.
Karena itu, jangan menganggap satu jenis pupuk kandang pasti lebih unggul untuk semua tanaman berbunga. Kualitas bahan, tingkat kematangan, dan cara penggunaannya tetap perlu diperhatikan.
Sesuaikan Pemupukan dengan Tahap Pertumbuhan
Tanaman memiliki kebutuhan nutrisi yang berubah seiring pertumbuhannya. Karena itu, jenis pupuk yang digunakan pada awal penanaman belum tentu sama dengan pupuk yang dibutuhkan ketika tanaman mulai berbunga.
Berikut gambaran umum tahapan pemupukan yang bisa dijadikan acuan.
1. Tahap awal penanaman
Pada tahap ini, perkembangan akar menjadi perhatian utama. Gunakan media tanam yang sesuai dan pupuk yang mendukung pertumbuhan akar, dengan memperhatikan kebutuhan tanaman serta petunjuk produk.
Fosfor berperan dalam perkembangan akar, tetapi bukan berarti semua tanaman baru harus langsung diberi pupuk fosfor berkadar tinggi. Media tanam yang sudah mengandung unsur hara cukup mungkin tidak membutuhkan tambahan pupuk dalam jumlah besar.
2. Tahap pertumbuhan vegetatif
Ketika tanaman mulai mengembangkan daun dan batang, nitrogen dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan vegetatif.
Pupuk dengan komposisi NPK seimbang dapat digunakan jika sesuai dengan kebutuhan tanaman. Perhatikan respons tanaman setelah pemupukan, termasuk pertumbuhan daun, warna daun, dan kondisi akar.
3. Tahap pembungaan
Saat tanaman telah mencapai fase siap berbunga, kebutuhan nutrisinya perlu disesuaikan dengan karakter tanaman tersebut.
Pupuk dengan kandungan fosfor dan kalium yang sesuai dapat mendukung pembentukan serta perkembangan bunga. Namun, waktu berbunga juga dipengaruhi oleh faktor lain, seperti intensitas cahaya, suhu, umur tanaman, dan karakter varietasnya.
Jadi, jangan mengandalkan pupuk saja untuk merangsang pembungaan. Pastikan tanaman memperoleh cahaya yang cukup, penyiraman yang tepat, dan media tanam dengan drainase baik.
Baca Juga: 5 Tanaman Rambat Berbunga Indah Cocok untuk Taman Vertikal
Sebelum Menambah Pupuk, Periksa Kondisi Tanaman
Tanaman yang tidak berbunga belum tentu mengalami kekurangan unsur hara. Bisa jadi tanaman belum cukup umur, terlalu sedikit mendapat cahaya, terlalu sering disiram, atau mengalami gangguan pada akar.
Jika tanaman tampak sehat tetapi belum berbunga, periksa kembali kebutuhan cahaya dan karakter pertumbuhannya. Sebaliknya, jika daun menguning atau pertumbuhan melambat, cari tahu penyebabnya sebelum memberikan pupuk tambahan.
Kunci merawat tanaman berbunga bukan sekadar memilih pupuk dengan kandungan tertentu, melainkan memberikan nutrisi yang tepat sesuai kebutuhan tanaman. Dengan begitu, tanaman dapat tumbuh sehat dan memiliki kondisi yang lebih baik untuk menghasilkan bunga.
(RR)
Cek berita atau ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook Ranah Rumah, Instagram @ranahrumahcom. (RR)


