Tak Sekadar Pelapis, Mengenal Lamitak dan The Intelligence of Surfaces di Jia CURATED 2026

Dalam interior, permukaan sering menjadi bagian yang pertama kali kita lihat sekaligus yang paling sering kita sentuh. Kayu, batu, kain, hingga warna dan tekstur pada sebuah furnitur ikut menentukan bagaimana sebuah ruang terasa. Namun, bagaimana jika laminate tidak lagi dilihat sekadar sebagai pelapis, melainkan sebagai material yang memiliki karakter dan pendekatan desainnya sendiri?

Kekuatan laminate Lamitak adalah kemampuannya menerjemahkan karakter material dalam bentuk yang konsisten dan fleksibel, juga memiliki ketahanan terhadap abrasi dan benturan dalam penggunaan normal. Kombinasi estetika dan performa inilah yang membuatnya sangat penting dalam desain interior.

Mengapa Laminate Menarik dalam Desain Interior?

Salah satu kekuatan laminate adalah kemampuannya menerjemahkan karakter material ke dalam bentuk yang lebih konsisten dan fleksibel.

Lamitak, misalnya, mengembangkan banyak desain yang terinspirasi dari kayu, batu, kain, metal, hingga berbagai tekstur dan warna. Koleksinya juga hadir dalam beragam karakter permukaan, mulai dari matt, supermatt, tekstur, leather, suede, hingga high gloss.

Artinya, ketika desainer memilih sebuah laminate, yang dipilih sebenarnya bukan hanya “warna cokelat seperti kayu” atau “motif seperti marmer”. Ada pertimbangan mengenai bagaimana permukaan itu akan dilihat, disentuh, dipadukan, dan hadir dalam keseluruhan suasana ruang.

Keunggulan lainnya adalah aspek performa. Lamitak menyebut produk laminatenya memiliki ketahanan terhadap abrasi dan benturan dalam penggunaan normal. Sejumlah produknya juga memiliki fitur antimikroba, sementara Lamitak memiliki berbagai sertifikasi yang berkaitan dengan kualitas udara dalam ruang, standar produk, ketahanan api, serta aspek lingkungan.

Bagi desain interior, kombinasi antara estetika dan performa inilah yang membuat material permukaan menjadi penting. Sebab material yang bagus bukan hanya yang indah ketika baru dipasang, tetapi juga yang tetap relevan ketika ruang tersebut benar-benar digunakan sehari-hari.

Baca Juga: Tren Terkini Material Dapur

Dari Inspirasi Alam Menjadi Material Permukaan

Menariknya, pendekatan Lamitak tidak berhenti pada usaha membuat material yang “mirip” dengan material alami.

Kayu tetaplah kayu. Batu tetap memiliki karakter alami yang tidak sepenuhnya bisa direplikasi. Yang dilakukan material seperti laminate justru menarik untuk dilihat dari sudut pandang desain: bagaimana karakter alam dipelajari, diterjemahkan, kemudian diolah menjadi sesuatu yang baru.

Pendekatan inilah yang menjadi salah satu gagasan penting yang akan dibawa Lamitak dalam Jia CURATED 2026.

Melalui tema Nature Weave, Jia CURATED 2026 sendiri mengeksplorasi hubungan antara manusia, alam, desain, material, serta cara hidup yang lebih terhubung dan bertanggung jawab. Lamitak hadir sebagai salah satu partner utama melalui sebuah instalasi khusus yang dikembangkan bersama DDAP Architect, studio arsitektur berbasis Bali.

Di JIA Curated 2026, lewat The Intelligence of Surfaces Lamitak ditampilkan tidak lagi hanya tertuju pada hasil akhirnya, tetapi juga pada asal inspirasi, proses pembentukan, detail, aplikasi, dan bagaimana material tersebut akhirnya dialami manusia dalam ruang. (Foto: Lamitak)

The Intelligence of Surfaces, Ketika Material Diajak “Bercerita”

Di sinilah perjalanan mengenal Lamitak menjadi lebih menarik.

Lewat The Intelligence of Surfaces, Lamitak tidak ingin sekadar menampilkan deretan sampel laminate. Instalasi ini justru dirancang sebagai pengalaman ruang yang mengajak pengunjung melihat lebih dekat apa yang berada di balik sebuah permukaan.

Konsep yang diusung adalah Reframing Material Truth—mengajak kita melihat kembali anggapan bahwa laminate hanya merupakan alternatif dari material alami.

Inspirasi dapat datang dari kayu, batu, tekstil, maupun benda-benda sehari-hari. Dari sana, karakter seperti warna, struktur, tekstur, dan sentuhan diamati kemudian diterjemahkan kembali melalui proses desain dan pengembangan material.

Dengan cara ini, perhatian tidak lagi hanya tertuju pada hasil akhirnya, tetapi juga pada asal inspirasi, proses pembentukan, detail, aplikasi, dan bagaimana material tersebut akhirnya dialami manusia dalam ruang.

Bukan Cuma Dilihat, Material Bisa Dieksplorasi

Salah satu bagian yang menarik dari instalasi ini adalah adanya area eksplorasi material interaktif.

Pengunjung nantinya dapat melihat lebih dekat bagaimana laminate dipotong, dipasang, hingga diselesaikan bagian akhirnya. Permukaan juga dapat disentuh secara langsung sehingga karakter material tidak berhenti sebagai sesuatu yang dilihat dari katalog.

Pendekatan ini terasa relevan bagi arsitek dan desainer karena pemilihan material pada akhirnya memang tidak cukup dilakukan hanya berdasarkan gambar.

Tekstur, skala, warna, pantulan cahaya, detail tepi, hingga bagaimana sebuah material bertemu dengan material lainnya dapat mengubah hasil akhir desain.

Lamitak juga akan menghadirkan interactive surface visualiser, yang memperlihatkan berbagai pilihan permukaan dalam konteks interior. Dengan demikian, material dapat dipahami bukan sebagai lembaran yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian dari ruang—dengan skala, pencahayaan, suasana, dan penerapan yang berbeda.

Ada Apa di Jia CURATED 2026?

The Intelligence of Surfaces menjadi salah satu instalasi yang menarik untuk dicermati dalam Jia CURATED 2026, sebuah event yang mempertemukan craft, desain, dan budaya melalui pameran, instalasi, talk, serta berbagai pengalaman imersif.

Edisi tahun ini membawa tema Nature Weave dan berlangsung selama lima hari, 13–17 Agustus 2026, di Pengembak Beach, Sanur, Bali. Jia CURATED 2026 menghadirkan lebih dari 150 exhibitor lokal dan internasional dengan lebih dari 250 brand yang bergerak di berbagai bidang, mulai dari arsitektur, interior, material, konstruksi, product design, craft, hingga landscape.

Karena itu, kedatangan ke The Intelligence of Surfaces juga dapat menjadi kesempatan untuk melihat Lamitak dalam konteks yang lebih luas: bukan sekadar sebagai produk laminate, tetapi sebagai salah satu cara memahami bagaimana material membentuk pengalaman ruang.

Terlebih bagi kamu yang berkecimpung di dunia arsitektur, interior, furniture, maupun sekadar tertarik melihat bagaimana sebuah material bekerja di balik ruang yang kita huni, pendekatan seperti ini menawarkan pengalaman yang berbeda dari sekadar melihat katalog produk.

Selanjutnya: Dari Permukaan ke Pengalaman Ruang (Halaman 3)