Sharp Hadirkan Rice Cooker Halal, Inovasi Produk Sekaligus Strategi Membaca Pasar Muslim Indonesia

Sertifikat halal untuk dua produk rice cooker Sharp tipe KS-B18MG dan KS-C18MH
Perwakilan Sharp Indonesia dan Informa menunjukkan sertifikat halal untuk dua produk rice cooker Sharp tipe KS-B18MG dan KS-C18MH pada 27/10. (Foto: Sharp Electronics Indonesia)

| Sharp menghadirkan rice cooker bersertifikat halal untuk menjawab kebutuhan sebagian konsumen Muslim. Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi perusahaan memperkuat pasar peralatan rumah tangga melalui inovasi yang disesuaikan dengan karakter konsumen Indonesia.

Ranahrumah.com – PRODUK | Rice cooker sudah menjadi bagian dari keseharian banyak keluarga Indonesia. Fungsinya sederhana: memasak nasi, menghangatkannya, dan pada model tertentu membantu menyiapkan makanan lain dengan cara dikukus.

Namun, bagi sebagian konsumen Muslim, pertimbangan saat memilih peralatan memasak tidak berhenti pada fungsi, desain, konsumsi listrik, atau harga. Informasi mengenai status halal produk juga dapat menjadi bagian dari keputusan mereka.

Kebutuhan inilah yang dibaca PT Sharp Electronics Indonesia melalui peluncuran dua model rice cooker bersertifikat halal, KS-B18MG dan KS-C18MH, pada 27 Oktober 2026.

Langkah tersebut menarik karena sertifikasi halal selama ini lebih sering dibicarakan dalam konteks makanan dan minuman. Pada peralatan elektronik rumah tangga, konsumen mungkin masih bertanya-tanya: apa yang membuat sebuah rice cooker perlu memiliki sertifikat halal?

Bagi Sharp, jawabannya berkaitan dengan upaya memahami konsumen sekaligus mencari peluang baru di pasar peralatan rumah tangga Indonesia.

Baca Juga: Rice Cooker Bersertifikat Halal, Apa yang Diperiksa dan Apakah Semua Produk Wajib Memilikinya?

Membaca Kebutuhan Konsumen Muslim

Indonesia memiliki populasi Muslim yang besar. Dalam sesi tanya jawab peluncuran, Andry Adi Utomo, National Sales Senior General Manager PT Sharp Electronics Indonesia, menyebut proporsi masyarakat Muslim di Indonesia berada di kisaran 88 persen.

Besarnya populasi tersebut menjadi salah satu pertimbangan Sharp dalam melihat peluang pasar. Perusahaan menilai bahwa kebutuhan konsumen berkembang, termasuk dalam cara mereka memandang dan menentukan pilihan produk rumah tangga.

Menurut Andry, inovasi tidak selalu harus berupa perubahan desain, fitur, konektivitas, atau harga. Inovasi juga dapat hadir dalam bentuk lain yang memberi nilai tambah bagi konsumen, termasuk sertifikasi halal.

Bagi perusahaan yang telah beroperasi di Indonesia selama lima dekade, memahami perubahan kebutuhan konsumen menjadi bagian dari upaya mempertahankan relevansi produk.

Dalam konteks ini, sertifikasi halal bukan sekadar informasi tambahan pada produk. Sharp melihatnya sebagai salah satu cara untuk memberikan kenyamanan kepada konsumen yang memang mempertimbangkan aspek tersebut saat memilih peralatan rumah tangga.

Di sisi lain, keputusan ini juga memiliki kepentingan bisnis yang jelas. Pasar Muslim yang besar membuka peluang bagi Sharp untuk menawarkan nilai pembeda di tengah persaingan produk elektronik.

Kedua kepentingan tersebut berjalan beriringan: konsumen memperoleh pilihan berdasarkan pertimbangan yang mereka anggap penting, sementara perusahaan berupaya menjangkau segmen pasar yang lebih spesifik.

Baca Juga: Ketika Pelanggan Menjadi Pusat, Sharp Menerjemahkannya Lewat Inovasi dan Layanan

Bukan Kali Pertama Sharp Menghadirkan Produk Elektronik Halal

Rice cooker bukan produk elektronik pertama Sharp di Indonesia yang memperoleh sertifikasi halal.

Andry menjelaskan bahwa Sharp sebelumnya telah menghadirkan kulkas bersertifikat halal pada 2018, kemudian melanjutkannya dengan microwave oven. Rice cooker menjadi kategori produk ketiga dalam langkah tersebut.

Pengalaman pada produk kulkas turut memengaruhi keyakinan perusahaan untuk meneruskan pendekatan ini.

Menurut Andry, ketika sertifikasi halal diperkenalkan pada produk kulkas pada 2018, penjualan mengalami peningkatan sekitar 30–40 persen. Namun, peningkatan tersebut tidak terjadi seketika. Sharp memperkirakan dibutuhkan waktu sekitar enam bulan hingga satu tahun agar dampaknya terlihat.

Angka tersebut merupakan pengalaman yang disampaikan perusahaan, bukan jaminan bahwa sertifikasi halal akan menghasilkan kenaikan penjualan serupa pada kategori produk lain.

Andry juga mengingat bahwa inisiatif sertifikasi halal pada masa itu memunculkan beragam respons. Sebagian konsumen menyambut baik, sementara sebagian lainnya mempertanyakan relevansi sertifikasi tersebut pada peralatan elektronik.

Bagi Sharp, pengalaman itu memperlihatkan bahwa peluncuran produk saja tidak cukup. Perusahaan perlu menjelaskan alasan dan makna sertifikasi kepada masyarakat agar konsumen dapat memahami informasi yang diberikan sebelum menentukan pilihan.

Kini, pendekatan serupa kembali diterapkan pada rice cooker. Sharp berencana memperluas edukasi melalui pameran produk di berbagai kota, serta melibatkan media dan influencer untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Salah satu kegiatan yang menyertai peluncuran berlangsung di Living World Alam Sutera hingga 2 November 2026.

Sharp juga menargetkan penguatan penjualan menjelang Ramadan dan Lebaran melalui kegiatan edukasi dalam beberapa bulan ke depan. Dengan demikian, sertifikasi halal menjadi bagian dari strategi pengembangan pasar, bukan hanya penanda pada kemasan produk.

| Selanjutnya: Sertifikasi Halal Tidak Mengubah Fungsi Rice Cooker (Halaman 2)