Bukan Studio Musik, Ini Ruang yang “Danilla Banget”: Ketika Karakter Diterjemahkan Menjadi Ruang

Kalau karakter seseorang diterjemahkan menjadi sebuah ruang, seperti apa hasilnya? Ruang Candramawa mencoba menjawabnya lewat kebiasaan dan cara Danilla berkarya.

Danilla bersama sang produser Lafa Pratomo (kiri) dan Otta Tarrega (kanan).

Dari Cerita Menjadi Mood Board

Sebelum furnitur dan elemen interior dipilih, IKEA terlebih dahulu menerjemahkan cerita Danilla dan tim ke dalam sebuah mood board.

Di tahap inilah karakter Candramawa dan pribadi Danilla mulai diterjemahkan secara visual.

Bukan berarti album tersebut harus diwujudkan menjadi ruang dengan warna tertentu. Yang dicari adalah suasana dan karakter yang muncul dari cerita di balik proses pembuatannya.

Muncul kesan strong, natural, tetapi tetap elegan. Ada nuansa monokrom dengan hitam dan abu-abu, material bertekstur, pencahayaan yang lebih berlapis dan remang, serta elemen dekorasi yang terasa personal.

Palet tersebut juga memiliki kedekatan dengan rumah asli Danilla dan warna yang ia sukai.

Hasilnya bukan ruang yang ingin terlihat mencolok, melainkan ruang yang terasa tenang, intimate, dan tidak membuat penghuninya merasa tertekan.

Karena bagi Danilla, justru dalam ruang yang tenang seseorang bisa lebih mudah tenggelam ke dalam dirinya sendiri. Dan dari sanalah ide bisa muncul.

Baca Juga: Perabot Rumah yang Mengikuti Kebutuhan Penghuni

Ruang yang Bisa Membuat Betah

Memasuki ruang 4 x 4 meter tersebut, kesan pertama yang muncul bukan tentang banyaknya fungsi yang berhasil dimasukkan ke dalam ruang kecil.

Justru sebaliknya, ruang terasa cukup lapang karena setiap elemen memiliki ruang untuk bernapas.

Area kerja dibuat menyerupai suasana studio, lengkap dengan komputer berukuran besar. Namun, bekerja tidak berhenti di meja tersebut. Ada laptop di coffee table yang memungkinkan siapa pun bekerja dari tempat duduk yang lebih santai. Sofa dapat digunakan untuk duduk, berbincang, atau sekadar rebahan.

Karena bagi Danilla dan tim, inspirasi tidak selalu datang dalam posisi duduk tegak di depan meja. Bahkan rebahan pun bisa menjadi bagian dari proses kreatif.

Cara menempatkan furnitur seperti ini membuat ruang terasa lebih bebas. Seseorang tidak dipaksa bekerja hanya karena sedang berada di dekat meja kerja.

Ia bisa berpindah. Bisa duduk di sofa. Bisa bekerja di coffee table. Bisa berbincang. Bisa berhenti.

Dan semua aktivitas tersebut tetap terasa sebagai bagian dari ruang yang sama.

Detail personal yang dekat dengan keseharan Danilla dihadirkan dalam Ruang Candramawa di IKEA.

Detail Kecil yang Membuatnya Terasa Personal

Salah satu kekuatan Ruang Candramawa justru terletak pada detail-detail yang mungkin tidak akan muncul jika desain hanya dibuat berdasarkan fungsi ruang.

Ada sudut aromatherapy. Ada foto dan poster album Danilla. Ada elemen-elemen yang mengingatkan pada aktivitasnya sebagai musisi.

Bahkan ada tempat untuk kucing dan kebutuhan urinenya.

Bagi orang lain, mungkin detail tersebut bukan sesuatu yang perlu ada dalam sebuah room set. Tetapi bagi Danilla, keberadaan kucing merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Dan ketika tujuan desain adalah membuat ruang yang terasa personal, hal-hal semacam ini justru menjadi penting.

Ruang tidak hanya menceritakan siapa penghuninya lewat apa yang terlihat indah, tetapi juga lewat apa yang benar-benar dibutuhkan dalam kesehariannya.

Monokrom yang Tidak Sekadar Soal Warna

Hitam dan abu-abu menjadi warna yang cukup dominan dalam ruang ini. Namun, kesan yang muncul bukan dingin atau kaku.

Perpaduan material, tekstur, pencahayaan, dan furnitur membuat ruang tetap terasa hangat dan nyaman.

Pencahayaan yang lebih remang memberikan suasana intimate. Sofa yang nyaman mengundang untuk berlama-lama. Material dengan tekstur memberikan kedalaman pada palet monokrom.

Semua elemen tersebut bekerja bersama untuk menciptakan suasana yang menurut Danilla terasa dekat dengan dirinya.

Ia bahkan mengatakan ruang tersebut membuatnya dan tim merasa betah.

“Hitam dan abu bikin mager,” begitu kesan yang muncul dari tim—dalam arti positif: suasana yang membuat ingin berlama-lama di dalamnya.

Pada akhirnya, warna bukan lagi sekadar dekorasi. Ia menjadi bagian dari suasana yang ingin dibangun.

Selanjutnya: Ketika Ruang Tidak Harus Terlihat seperti Ruang Kerja (Halaman 3)