
Dari 4 x 4 Meter, Belajar tentang Ruang yang Fleksibel
Ruang Candramawa yang dibuat IKEA memiliki luas sekitar 4 x 4 meter. Ukurannya mungkin tidak besar, tetapi justru di sinilah menariknya.
Ruang kecil tersebut tidak dipaksa menampung banyak fungsi dengan cara membuat semuanya terasa penuh. Sebaliknya, berbagai aktivitas ditempatkan berdampingan sehingga setiap sudut memiliki kemungkinan untuk digunakan dengan cara berbeda.
Ada meja kerja untuk aktivitas yang membutuhkan fokus. Ada coffee table yang bisa menjadi tempat bekerja. Sofa yang nyaman untuk duduk atau rebahan. Ada pula elemen-elemen personal yang membuat ruang terasa lebih dekat dengan karakter Danilla.
Bahkan keberadaan kucing dan tempat urinenya menjadi bagian dari cerita ruang tersebut.
Detail seperti ini mungkin tidak akan muncul jika desain hanya berangkat dari fungsi ruang secara umum. Tetapi ketika yang menjadi titik awal adalah kehidupan penghuninya, hal-hal kecil justru bisa menjadi bagian penting dari desain.
Hasilnya membuktikan bahwa ruang fungsional tidak selalu identik dengan ruang yang besar.
Yang lebih penting adalah bagaimana setiap bagian di dalamnya dapat merespons kebutuhan orang yang menggunakannya.
Ketika Karakter Penghuni Ikut Membentuk Ruang
Warna monokrom hitam dan abu-abu, pencahayaan yang lebih remang, material bertekstur, elemen natural, serta dekorasi personal menjadi bagian dari Ruang Candramawa.
Namun, pilihan tersebut bukan sekadar keputusan estetika.
IKEA terlebih dahulu membuat mood board untuk menangkap karakter yang muncul dari cerita Danilla dan tim selama proses pembuatan album Candramawa. Dari sanalah kemudian diterjemahkan berbagai elemen visual, material, pencahayaan, hingga suasana ruang.
Artinya, warna hitam dan abu-abu bukan dimaksudkan sebagai pedoman bahwa ruang kreatif harus selalu gelap atau monokrom.
Yang diterjemahkan adalah karakter di baliknya: suasana yang tenang, intimate, tidak terlalu ramai, tetapi tetap memiliki kekuatan.
Danilla sendiri menyukai ruang yang tidak membuatnya merasa tertekan. Ruang yang adem, nyaman, tidak terlalu banyak warna, dan cukup remang untuk menciptakan suasana yang lebih personal.
Ketika masuk ke ruang 4 x 4 meter tersebut, ia bahkan menyebutnya sebagai ruang yang “ganteng banget”.
Bukan hanya karena tampilannya, tetapi karena menurut Danilla ruang tersebut terasa kuat, natural, elegan, sekaligus memiliki makna.
Di sinilah desain interior menjadi lebih dari sekadar soal tampilan.
Karakter penghuni ikut memberi karakter pada ruang.
Cara Ini Bisa Diterapkan pada Siapa Saja
Yang menarik dari pendekatan IKEA melalui Ruang Candramawa adalah bahwa Danilla tidak harus menjadi contoh yang ditiru mentah-mentah.
Tidak semua orang membutuhkan ruang monokrom. Tidak semua orang membutuhkan meja kerja seperti studio musik. Tidak semua orang nyaman dengan pencahayaan remang.
Yang bisa diterapkan justru adalah cara berpikir di balik desainnya.
Sebelum menentukan furnitur atau warna, coba lihat kembali bagaimana kamu menjalani hari di rumah.
Di mana biasanya kamu bekerja? Di mana kamu paling nyaman membaca? Apakah kamu lebih mudah mendapatkan ide ketika duduk sendiri, sambil berjalan, atau justru ketika mengobrol? Apakah sofa lebih sering digunakan untuk duduk atau malah menjadi tempat rebahan? Apakah ada hobi atau kebiasaan tertentu yang selama ini belum mendapatkan tempat?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut bisa menjadi titik awal untuk menata ruang.
Dengan cara ini, ruang kerja tidak harus selalu terlihat seperti ruang kerja. Ruang tidur tidak harus hanya menjadi tempat tidur. Bahkan ruang keluarga pun bisa berubah mengikuti kebutuhan penghuninya.
Sebab pada akhirnya, yang membuat sebuah ruang hidup bukan hanya furnitur yang ada di dalamnya, tetapi aktivitas dan kehidupan yang berlangsung di sana.
Ruang Candramawa merupakan kolaborasi IKEA Indonesia dan Danilla yang terinspirasi dari proses kreatif di balik album Candramawa. Roomset ini dapat ditemukan di IKEA Alam Sutera, IKEA Kota Baru Parahyangan, dan IKEA Ciputra World Surabaya.
Baca Juga: Rumah yang Mengikuti Fase Kehidupan Penghuninya
Catatan Ranahrumah
Rumah yang nyaman bukan selalu rumah dengan ruang yang paling banyak atau memiliki furnitur paling lengkap. Barangkali yang lebih penting adalah apakah ruang tersebut memahami cara penghuninya hidup.
Danilla menunjukkan bahwa proses kreatif membutuhkan lebih dari sekadar studio. Ada waktu untuk fokus, berdiskusi, mencoba, diam, beristirahat, bahkan bengong. Semua itu adalah bagian dari proses yang sama.
Begitu pula dengan kehidupan kita di rumah. Karena itu, sebelum bertanya “ruang ini seharusnya untuk apa?”, mungkin ada pertanyaan lain yang lebih penting: “Aku sebenarnya ingin menjalani hidup seperti apa di ruang ini?”
Dari sanalah desain bisa dimulai. Bukan untuk membuat rumah mengikuti aturan ruang, tetapi membuat ruang mengikuti kehidupan penghuninya. (RR)
Baca Juga: Rahasia Menata Rumah 25 M2 seluas Apartemen Studia agar Tetap Terasa Lega
Cek berita atau ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom


