
Ranahrumah.com – GAYA HIDUP | Pernah merasa rumah sudah dirapikan, tapi tak lama kemudian kembali berantakan?
Bukan berantakan besar yang mencolok, melainkan hal-hal kecil yang diam-diam mengganggu. Charger yang tiba-tiba “menghilang”, skincare yang tak lagi di tempatnya, atau nampan yang entah sejak kapan berpindah ke sudut sofa. Tanpa disadari, waktu habis hanya untuk mencari barang yang sebenarnya kita miliki.
Kondisi ini sering membuat kita menyalahkan diri sendiri—merasa kurang rapi, kurang disiplin. Padahal, masalahnya sering kali bukan di situ. Yang keliru bisa jadi adalah sistemnya.
Baca Juga: Mengenal Decluttering Ala IKEA: Cara Mudah Bikin Rumah Rapi
Rumah yang Tidak Mengikuti Kebiasaan
Setiap rumah punya ritme kehidupan yang berbeda. Ada yang sibuk di pagi hari, ada yang lebih aktif di malam hari. Namun sering kali, cara kita menata rumah justru tidak mengikuti kebiasaan tersebut.
Akibatnya, barang-barang “berpindah” ke tempat yang terasa paling praktis—bukan tempat yang sudah disediakan.
Di sinilah awal dari siklus yang terasa familiar: dirapikan, rapi sesaat, lalu kembali seperti semula.
Padahal, solusi yang lebih efektif bukan menambah tenaga untuk merapikan, melainkan menyesuaikan sistem penyimpanan dengan kebiasaan sehari-hari. Barang yang sering digunakan seharusnya berada di titik yang paling mudah dijangkau—di meja rias, dekat pintu masuk, atau area aktivitas utama.
Ketika rumah mulai “mengerti” penghuninya, merapikan tidak lagi terasa sebagai pekerjaan tambahan.
Baca Juga: Mengenal Montessori: Cara Menata Rumah yang iIkin Anak Mandiri
Kebiasaan Kecil Dibentuk dari Cara Menyimpan
Ada satu hal yang sering luput dari perhatian: tempat penyimpanan bukan sekadar wadah.
Ia adalah pembentuk kebiasaan.
Tray kecil di meja, kotak khusus untuk kategori barang, atau pembagian zona berdasarkan aktivitas—semua itu membantu menciptakan pola yang berulang. Tanpa disadari, tangan kita akan terbiasa mengembalikan barang ke tempatnya, karena memang mudah dilakukan.
Sebaliknya, ketika tempat penyimpanan atau storage terlalu rumit atau tidak intuitif, kebiasaan “menaruh sementara” akan terus terjadi—dan perlahan berubah menjadi permanen.

Baca Juga: 7 Cara Optimalkan Rumah Mungil agar Anak Nyaman Bermain
Bukan Soal Besar Rumah atau Banyaknya Storage
Menariknya, rumah yang terasa berantakan tidak selalu berarti kekurangan ruang atau tempat penyimpanan.
Rumah besar pun bisa terasa kacau. Begitu juga rumah kecil yang justru bisa sangat tertata dan rapi.
Perbedaannya sering terletak pada satu hal sederhana: kesadaran dan konsistensi dalam menempatkan barang.
Sistem penyimpanan yang tepat akan memudahkan disiplin itu terbentuk. Tanpa sistem, bahkan niat terbaik pun sulit bertahan lama.
“Solusi yang dibuat bukan hanya rapi secara visual, tapi juga terasa lebih mudah dijalani setiap hari,” ujar Muhammad Yusuf Attorik, Interior Design Leader IKEA Indonesia.
Mulai dari Hal Sederhana
Menata rumah tidak harus dimulai dari perubahan besar. Justru solusi paling efektif sering kali datang dari hal-hal kecil:
- Menyediakan tray untuk barang harian
- Mengelompokkan barang berdasarkan fungsi
- Membuat zona aktivitas di dalam ruang
- Menempatkan barang sesuai frekuensi penggunaan
Langkah sederhana ini bisa menghemat waktu secara signifikan. Waktu yang biasanya habis untuk mencari barang, kini bisa digunakan untuk hal yang lebih berarti.
“Waktu terlalu berharga untuk dihabiskan dengan hal-hal kecil seperti itu. Kami ingin mengajak masyarakat melihat bahwa menata rumah cukup dimulai dari hal sederhana yang membuat setiap barang punya tempatnya, sehingga hidup sehari-hari terasa lebih ringan,” ujar Ririn Basuki, Public Relations Manager IKEA Indonesia.
Baca Juga: IKEA Beri Konsultasi Desain Interior untuk IKEA Family Malang
Baca Juga: Ukuran Standar Furnitur Ruang Kerja yang Bikin Kerja Lebih Nyaman
Ketika Rumah Membutuhkan Pendekatan yang Lebih Tepat
Bagi sebagian orang, menemukan sistem yang benar-benar cocok memang tidak selalu mudah. Di sinilah peran layanan seperti IKEA Indonesia Interior Design Service (IDS) menjadi relevan.
Melalui pendekatan yang dipersonalisasi, IDS membantu merancang ruang berdasarkan kebiasaan nyata penghuninya—bukan sekadar tampilan visual. Hasilnya, rumah tidak hanya terlihat rapi, tetapi juga terasa lebih nyaman untuk dijalani setiap hari.
Hal serupa juga berlaku untuk ruang usaha. Lewat IKEA for Business, perencanaan ruang dapat disesuaikan agar mendukung alur kerja yang efisien dan berkembang sesuai kebutuhan.
Lebih dari Sekadar Rapi
Pada akhirnya, rumah bukan tentang terlihat sempurna. Rumah adalah tempat yang seharusnya memudahkan hidup.
Ketika setiap barang punya tempat yang jelas, dan sistemnya selaras dengan kebiasaan penghuninya, rumah tidak lagi terasa sebagai beban yang harus terus dibereskan. Ia berubah menjadi ruang yang bekerja bersama kita—bukan melawan.
Dan mungkin, di situlah kita mulai menyadari: selama ini, bukan kita yang kurang rapi. Kita hanya belum menemukan cara yang tepat. (RR)
Baca Juga: Koleksi Perabot Kantor Terbaru IKEA: Fungsional dan Bergaya
Cek berita atau ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom


