
Ranahrumah.com – GAYA HIDUP | Tidak banyak kawasan perkotaan yang masih memiliki danau alami di tengah pesatnya pembangunan. Di wilayah Serpong dan Pagedangan, Danau Cihuni menjadi salah satu yang tersisa. Selama puluhan tahun danau ini berfungsi sebagai kawasan resapan air dan penyangga lingkungan. Namun seiring berkembangnya kota baru di sekitarnya, keberadaan Danau Cihuni mulai menghadirkan makna yang lebih luas.
Selain fungsi ekologisnya, lanskap alami di sekitar danau kini turut membentuk cara baru dalam merancang kawasan hunian. Kedekatan dengan ruang hijau, jalur pedestrian, dan pemandangan alam semakin dipandang sebagai bagian dari kualitas hidup masyarakat perkotaan.
Fenomena ini terlihat pada pengembangan kawasan di sekitar Danau Cihuni, termasuk hadirnya Matera Lakeside Paramount Gading Serpong yang mengusung konsep luxury resort living— living by the lakeside.
Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana pembangunan dan lingkungan tidak selalu harus berada pada dua kutub yang berlawanan. Dengan perencanaan yang tepat, keduanya justru dapat saling mendukung dalam menciptakan kawasan yang lebih nyaman dan berkelanjutan.
Kedekatan dengan Alam Menjadi Kebutuhan Baru Kota Modern
Kota-kota besar terus berkembang dengan kepadatan yang semakin tinggi. Di sisi lain, masyarakat urban mulai mencari lingkungan yang menawarkan keseimbangan antara aktivitas perkotaan dan suasana yang lebih tenang.
Tidak heran jika kawasan dengan akses ke ruang terbuka hijau, jalur pedestrian, taman, maupun badan air alami kini semakin diminati.
Adjie Negara, arsitek dan urban desainer dari KIND Architects mengatakan, “Sejatinya, peradaban manusia menetap selalu berdekatan dengan sumber kehidupan yaitu sumber air. Kota-kota besar dunia dimulai dari budaya tinggal dekat dengan air, apakah itu pantai, muara, danau, maupun sepanjang aliran sungai. Salah satu daerah termahal di dunia adalah properti di sekitar Central Park New York, yang menunjukkan kebutuhan hunian terhadap kelestarian lingkungan hidup sekitarnya.”
“Kunci dari suksesnya simbiosis ini adalah cara membangun, regulasi, dan juga pola hidup masyarakat yang berada di sekitarnya memastikan kelestarian dan keberlangsungan kualitas lingkungan hidup yang baik,” tambahnya.
Berbagai penelitian tentang kualitas hidup perkotaan menunjukkan bahwa keberadaan lanskap alami dapat memberikan manfaat mulai dari kenyamanan visual hingga mendukung kesehatan fisik dan mental penghuni. Lanskap hijau (green space) dan danau alami (blue space) dapat menjadi immersive experience atau pengalaman hidup yang melibatkan seluruh panca indera, membantu menurunkan stres, meningkatkan produktivitas, sekaligus meningkatkan kualitas hidup.
Dalam konteks inilah keberadaan Danau Cihuni memiliki nilai yang semakin penting.

Danau Cihuni, Aset Ekologis di Tengah Pertumbuhan Serpong
Dengan luas sekitar 32 hektare, Danau Cihuni merupakan salah satu kawasan danau alami yang masih bertahan di tengah perkembangan Serpong dan Pagedangan.
Selain berfungsi sebagai kawasan konservasi air, area resapan, dan pengendali banjir, danau ini juga memiliki potensi sebagai ruang hijau dan kawasan ekowisata yang memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
Di tengah semakin terbatasnya ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan, keberadaan danau seperti Situ Cihuni menjadi aset ekologis yang tidak hanya penting bagi lingkungan, tetapi juga bagi kualitas hidup masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Ketika Hunian Mulai Berorientasi pada Lanskap
Perubahan cara pandang terhadap lingkungan turut memengaruhi bagaimana kawasan hunian dirancang.
Jika dahulu orientasi pengembangan perumahan lebih banyak bertumpu pada akses jalan dan fasilitas komersial, kini faktor seperti pemandangan alam, akses ke ruang hijau, hingga konektivitas dengan kawasan konservasi mulai menjadi pertimbangan utama.
Fenomena yang terlihat pada pengembangan Matera Lakeside, kawasan hunian dekat danau, terbaru di area Matera, Gading Serpong, yang memanfaatkan kedekatannya dengan Danau Cihuni sebagai bagian dari konsep living by the lakeside.
Mengusung konsep resort living, kawasan ini menawarkan perpaduan antara kenyamanan hunian dan kedekatan dengan lingkungan alami yang menjadi karakter utama kawasan.
Keberadaan danau tidak hanya menjadi elemen visual, tetapi juga membentuk karakter lingkungan melalui ruang terbuka hijau, jalur pedestrian, area olahraga luar ruang, dan akses menuju kawasan sempadan danau yang ditata sebagai ruang terbuka bagi penghuni.
Menariknya, kedekatan dengan Danau Cihuni tidak diterjemahkan melalui pembangunan yang mendekati badan air secara masif. Kawasan ini tetap mengikuti ketentuan garis sempadan danau yang berlaku, sementara area di antara hunian dan danau dimanfaatkan sebagai koridor lanskap dan ruang terbuka hijau. Pendekatan tersebut memungkinkan fungsi ekologis kawasan tetap terjaga sekaligus menghadirkan pengalaman tinggal yang lebih dekat dengan alam.

Faktor Lingkungan yang Makin Diperhitungkan
Jumlah unit yang relatif terbatas juga menjadi bagian dari perencanaan kawasan. Dengan kepadatan yang lebih rendah dibanding kawasan hunian pada umumnya, orientasi lingkungan lebih diarahkan untuk memaksimalkan hubungan visual dengan danau, pepohonan, dan ruang terbuka hijau di sekitarnya.
Keistimewaan utama kawasan ini terletak pada lokasinya yang berada di sisi Situ Cihuni, danau alami yang tengah direvitalisasi sebagai kawasan konservasi air, area resapan, pengendali banjir, sekaligus memiliki potensi sebagai destinasi ekowisata.
Berbagai studi properti global menunjukkan bahwa kawasan hunian yang memiliki akses langsung ke ruang hijau dan badan air cenderung memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding kawasan serupa yang tidak memiliki kualitas lingkungan yang sama. Fenomena ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan kini semakin diperhitungkan dalam pengembangan kawasan perkotaan.
Keberadaan Matera Lakeside menjadi salah satu contoh bagaimana kawasan hunian modern mulai memanfaatkan lanskap alami sebagai bagian dari kualitas hidup.
Pendekatan ini juga sejalan dengan pembahasan mengenai hubungan antara pembangunan properti dan konservasi yang semakin relevan di kota-kota baru.
Baca Juga: 6 Tolok Ukur Menilai Bangunan Hijau Menurut GBC

Lebih dari Sekadar Pemandangan
Dalam perencanaan kota modern, badan air tidak lagi dipandang sekadar elemen dekoratif.
Danau, sungai, maupun kawasan resapan memiliki fungsi penting sebagai bagian dari sistem ekologis kota. Karena itu, berbagai konsep urban design saat ini mendorong integrasi antara pembangunan dan pelestarian lanskap alami.
Pendekatan seperti ini memungkinkan kawasan hunian memperoleh manfaat dari lingkungan yang lebih hijau sekaligus mendukung upaya menjaga fungsi ekologis kawasan.
Di sekitar Danau Cihuni, pendekatan tersebut mulai terlihat melalui pengembangan ruang terbuka hijau, jalur pejalan kaki, dan area rekreasi yang tetap mempertahankan hubungan dengan lanskap alami yang ada.
Harmoni antara Pembangunan dan Konservasi
Perdebatan mengenai hubungan antara pembangunan dan konservasi sering kali menempatkan keduanya pada posisi yang berlawanan. Namun perkembangan kota-kota modern menunjukkan bahwa keduanya dapat berjalan beriringan apabila direncanakan dengan baik.
Baca Juga: Bisakah Properti dan Konservasi Berjalan Berdampingan? Belajar dari Situ Cihuni di Serpong
Keberadaan Danau Cihuni dan pengembangan kawasan di sekitarnya menjadi contoh bagaimana lanskap alami tidak harus dipisahkan dari kehidupan perkotaan. Sebaliknya, kawasan konservasi justru dapat menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat, nyaman, dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, nilai sebuah hunian tidak lagi hanya ditentukan oleh bangunan atau lokasinya semata. Kemampuan sebuah kawasan menghadirkan hubungan yang lebih dekat dengan alam kini menjadi salah satu ukuran baru kualitas hidup di kota modern. (RR)
Baca Juga: Banjir Perkotaan dan Masa Depan Infrastruktur Hijau Kota
Baca Juga: Rumah Mewah Viral di Makassar: Interior Unik dengan Teras Belakang Hadap ke Laut
Cek berita keberlanjutan, ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook Ranah Rumah, Instagram @ranahrumahcom.


