Bukan Studio Musik, Ini Ruang yang “Danilla Banget”: Ketika Karakter Diterjemahkan Menjadi Ruang

Kalau karakter seseorang diterjemahkan menjadi sebuah ruang, seperti apa hasilnya? Ruang Candramawa mencoba menjawabnya lewat kebiasaan dan cara Danilla berkarya.

Ruang Candramawa di IKEA Alam Sutera terinspirasi dari karakter dan proses kreatif Danilla dalam berkarya.
Detail personal Danilla dalam ruang Candramawa di IKEA Alam Sutera. (Foto: Erly/Ranahrumah.com)

Ranahrumah.com – INSPIRASI | Bagaimana rupa sebuah ruang yang benar-benar terasa seperti penghuninya?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak selalu bisa ditemukan dari warna kesukaan atau furnitur yang biasa digunakan. Sebab karakter seseorang juga hadir lewat kebiasaan-kebiasaan kecil: tempat ia merasa nyaman, cara bekerja, suasana yang membuatnya mudah berpikir, sampai hal-hal yang mungkin terlihat sepele tetapi selalu ada dalam kesehariannya.

Hal-hal semacam itulah yang coba dibaca IKEA Indonesia ketika berkolaborasi dengan Danilla untuk menghadirkan Ruang Candramawa.

Bukan membuat replika kamar atau studio musik Danilla, IKEA justru menggali lebih jauh bagaimana Danilla dan tim menjalani proses kreatif selama menggarap album Candramawa.

Hasilnya adalah sebuah room set berukuran sekitar 4 x 4 meter yang tidak terasa seperti studio musik konvensional. Ada area kerja, tempat duduk untuk berbincang, sofa untuk rebahan, coffee table yang bisa menjadi tempat bekerja, hingga berbagai elemen personal yang membuat ruang tersebut terasa dekat dengan sosok yang menginspirasinya.

Dan ketika Danilla pertama kali melihatnya, komentarnya sederhana: “Ini ruang ganteng banget.”

Baca Juga: Ruang yang Mengikuti Cara Penghuninya Hidup

Roomset Ruang Candramawa Danilla di IKEA Alam Sutera
Ruang Candramawa by IKEA yang dirancang mengikuti gaya hidup dan proses kreatif Danilla. (Foto: IKEA Indonesia)

Bukan Membuat Studio Danilla, tetapi Memahami Danilla

Bagi IKEA, kolaborasi ini merupakan pendekatan yang berbeda.

Mereka tidak datang dengan gambaran tentang seperti apa ruang seorang musisi seharusnya. Tidak pula menjadikan studio musik sebagai acuan utama.

Yang ingin dipahami adalah orang di balik karya tersebut.

Bagaimana Danilla bekerja bersama Lafa Pratomo dan Otta Tarrega? Apa yang mereka lakukan sebelum mulai membuat lagu? Bagaimana mereka berinteraksi ketika sedang mengembangkan musik? Di mana mereka merasa nyaman untuk fokus, berdiskusi, atau justru berhenti sejenak?

Dari percakapan dan pengamatan tersebut, IKEA menemukan bahwa proses kreatif mereka sangat fleksibel.

Ada waktu untuk bekerja serius, tetapi ada pula waktu untuk minum kopi, mengobrol, mendengarkan, mencoba sesuatu, lalu mengubahnya kembali.

Inspirasi pun tidak selalu muncul ketika mereka sedang berada di depan alat musik.

Bagi Danilla, inspirasi bisa datang secara random. Karena itu, ruang yang dibutuhkan bukan ruang yang hanya mendukung satu aktivitas. Ruang harus mampu merespons penggunanya.

Selanjutnya: Dari Cerita menjadi Mood Board (Halaman 2)