Saturday, October 24, 2026
Home Blog Page 6

Memilih Pencahayaan Jadi Lebih Mudah, Philips Lighting Store Hadir di Bali

0

Ranahrumah.com – TREN | Bagi kamu yang sedang membangun atau menata rumah, memilih lampu mungkin terlihat sederhana. Namun, ketika cahaya sudah terpasang, perbedaannya bisa sangat terasa. Cahaya yang terlalu putih dapat membuat ruang terasa berbeda dari yang dibayangkan, sementara pencahayaan yang tepat justru dapat membuat material, furnitur, dan detail arsitektur tampil lebih menarik.

Di Bali, kebutuhan tersebut menjadi semakin beragam. Karakter arsitektur yang kuat, perpaduan ruang indoor dan outdoor, serta banyaknya hunian dan properti hospitality membuat pencahayaan perlu dipertimbangkan bersama konsep ruang dan aktivitas di dalamnya.

Melihat Langsung sebelum Menentukan Pencahayaan

Salah satu tantangan ketika memilih lampu adalah membayangkan hasil akhirnya hanya dari katalog atau gambar produk. Padahal, satu jenis lampu dapat memberikan suasana berbeda ketika digunakan pada ruang, material, dan kebutuhan yang berbeda.

Kebutuhan untuk melihat dan mencoba langsung inilah yang coba dijawab melalui kehadiran Philips Lighting Store Denpasar di Atika Galeria. Dibuka oleh Signify melalui brand Philips, toko ini menjadi Philips Lighting Store pertama Signify di luar Pulau Jawa, setelah sebelumnya hadir di Surabaya.

Di dalamnya terdapat hingga 200 solusi pencahayaan yang mencakup kategori dekoratif, fungsional, dan smart lighting untuk kebutuhan indoor maupun outdoor.

Pengunjung tidak hanya melihat produk, tetapi juga dapat mengeksplorasi berbagai aplikasi pencahayaan melalui room settings. Perbedaan tingkat kecerahan dan temperatur warna pun dapat dilihat secara langsung sebelum menentukan pilihan.

Cara seperti ini tentu lebih membantu ketika seseorang belum benar-benar tahu lampu seperti apa yang sesuai untuk ruangnya.

Baca Juga: Bukan Sekadar Menerangi, Begini Cara Lampu Membentuk Pengalaman Ruang

Pencahayaan Ikut Menentukan Karakter Ruang

Dalam sebuah hunian, lampu tidak selalu harus menjadi elemen yang paling terlihat. Justru, pencahayaan yang dirancang dengan baik sering kali bekerja lebih halus—membantu aktivitas, membangun suasana, sekaligus memperkuat karakter ruang.

“Dalam desain sebuah ruang, pencahayaan bukan hanya elemen pelengkap, tetapi bagian dari bagaimana sebuah ruang dirasakan. Pemilihan intensitas, temperatur warna, dan arah cahaya dapat memengaruhi ambience sekaligus menonjolkan material dan detail arsitektur,” ujar Andri Saputra, Arsitek & Founder Lumbung Architect.

Hal tersebut menjadi semakin relevan di Bali, ketika ruang dalam dan luar sering kali saling terhubung. Teras, taman, area kolam, hingga area komunal membutuhkan pendekatan pencahayaan yang berbeda dengan kamar tidur, ruang keluarga, atau area kerja.

Karena itu, memilih pencahayaan sejak awal proses desain dapat membantu menciptakan ruang yang tidak hanya terlihat menarik, tetapi juga nyaman digunakan.

Baca Juga: AI hingga Pencahayaan Sehat, Ini Tren yang Akan Mendominasi Industri Lighting 2026

Konsultasi untuk Kebutuhan Ruang yang Berbeda

Kehadiran toko pencahayaan juga memberi kesempatan untuk mendapatkan masukan sebelum membeli. Arsitek, desainer interior, kontraktor, villa developer, property manager, maupun pemilik rumah dapat mendiskusikan kebutuhan ruang secara lebih spesifik.

Mulai dari jenis aktivitas, konsep desain, area yang akan diterangi, hingga anggaran dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan solusi pencahayaan.

Pendekatan ini membuat pilihan lampu tidak berhenti pada pertanyaan “lampu mana yang bagus?”, tetapi bergeser menjadi “cahaya seperti apa yang dibutuhkan ruang ini?”

Bagi pemilik rumah, cara tersebut dapat membantu menghindari keputusan yang hanya didasarkan pada bentuk lampu atau tingkat terang di kemasan. Sementara bagi profesional di bidang desain dan properti, pengalaman langsung dapat menjadi bagian dari proses mengeksplorasi kemungkinan pencahayaan sejak awal.

Dari Pencahayaan Fungsional hingga Smart Lighting

Pilihan yang tersedia di Philips Lighting Store Denpasar juga menunjukkan bahwa kebutuhan pencahayaan rumah semakin luas.

Lampu dekoratif dapat menjadi bagian dari tampilan ruang, pencahayaan fungsional membantu aktivitas sehari-hari, sementara smart lighting menawarkan kemungkinan pengaturan cahaya yang lebih fleksibel sesuai kebutuhan dan suasana.

Dengan melihat berbagai pilihan dalam satu tempat, konsumen dapat membandingkan solusi berdasarkan fungsi dan aplikasinya, bukan sekadar spesifikasi produk.

Pencahayaan yang tepat bukan selalu yang paling terang atau paling mencolok. Yang lebih penting adalah bagaimana cahaya tersebut bekerja bersama ruang—membantu aktivitas, menciptakan kenyamanan, dan membuat karakter hunian terasa lebih personal.

Baca Juga: Pencahayaan Menentukan Performa Bisnis, Enlightened Bali 2026 Mengungkap Alasannya

| Philips Lighting Store Denpasar berada di Atika Galeria, Jl. Gatot Subroto Tengah No. 309, Dauh Puri Kaja, Denpasar Utara, Bali.

(RR)

Cek berita terbaru dan ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom 

Monitor Gaming Premium FHD Native 1000Hz Pertama di Dunia Resmi Masuk Indonesia, LG Buka Pre-Order

0

Ranahrumah.com – TREN | LG Electronics Indonesia (LG) resmi membuka periode pre-order eksklusif untuk LG UltraGear 25G590 di LG.com/id. Terhitung mulai 7 hingga 25 September 2026 setiap pembelian LG UltraGear 25G590B akan mendapatkan 1 unit Gaming Chair senilai Rp2.500.000

Dimulainya pre-order ini menjadi kelanjutan dari antusiasme yang terbentuk sejak pengenalan resmi LG UltraGear 25G590B di tingkat global pada Mei 2026. Dalam waktu yang relatif singkat sejak peluncuran global tersebut, kehadiran monitor LG ini di Indonesia mencerminkan perhatian besar LG terhadap pasar dalam negeri sekaligus melihat Indonesia sebagai pasar yang penting dan terus menunjukkan potensi kuat, khususnya pada kategori gaming dan esports.

Untuk Kebutuhan Gaming Kompetitif

Sebagai Monitor Gaming FHD Native 1000Hz Pertama di Dunia, monitor ini dirancang untuk kebutuhan gaming kompetitif dengan menghadirkan refresh rate native 1000Hz pada resolusi Full HD, untuk memberikan kejernihan gerakan yang tetap konsisten pada game dengan tempo cepat, terutama genre first-person shooter (FPS) yang menuntut respons visual presisi.

Berbeda dari monitor dual-mode yang mengharuskan pengguna menurunkan resolusi atau mengubah ukuran layar untuk mencapai refresh rate tertinggi, LG UltraGear 25G590B menghadirkan performa 1000Hz native secara default pada resolusi FHD. Dengan pendekatan ini, pengguna dapat menikmati pengalaman visual yang konsisten, baik saat berlatih, scrim, maupun bertanding.

“Pembukaan pre-order LG UltraGear 25G590B menjadi penanda komitmen kami untuk menghadirkan inovasi global LG ke Indonesia dalam waktu yang semakin cepat,” ujar Prema Dipta, Head of Product Marketing Monitor MS in LG Electronics Indonesia. “Kehadiran monitor ini tidak lama setelah peluncuran globalnya pada Mei lalu juga mencerminkan pandangan LG terhadap Indonesia sebagai pasar yang penting, dinamis, dan memiliki potensi besar bagi pertumbuhan ekosistem gaming premium.”

Baca Juga: Monitor Gaming 5K dengan AI UltraGear Evo untuk Konten yang Lebih Lengkap

Monitor dengan Fitur Berbasis AI

Kinerja visual monitor ini diperkuat dengan Motion Blur Reduction Pro, panel IPS berlapis anti-silau, serta berbagai fitur berbasis AI yang dirancang untuk meningkatkan pengalaman bermain. AI Scene Optimization membantu menyesuaikan tampilan visual secara otomatis sesuai genre permainan, sementara AI Sound dirancang untuk menghadirkan pengalaman audio yang lebih imersif dan komunikasi dalam game yang lebih jernih saat digunakan dengan headset yang kompatibel.

LG UltraGear 25G590B menggunakan layar 24,5 inci, ukuran yang banyak dipilih dalam skenario esports karena memungkinkan pemain menangkap elemen penting di layar dengan lebih nyaman tanpa perpindahan pandangan yang berlebihan. Dukungan stand ringkas dan ergonomis juga memberikan fleksibilitas pengaturan untuk berbagai kebutuhan bermain, dari sesi harian hingga kompetisi.

Melalui program pre-order ini, LG memperluas akses konsumen terhadap perangkat gaming yang dirancang mengikuti ritme permainan kompetitif. Kehadiran LG UltraGear 25G590B di Indonesia diharapkan dapat menjawab kebutuhan komunitas esports yang terus berkembang, sekaligus memperkuat posisi LG dalam menghadirkan inovasi monitor gaming premium di pasar nasional.

Baca Juga: 7 Inovasi Home Aplliances LG di IFA 2026: Membawa Teknologi yang Lebih Dekat dengan Keseharian

(RR)

Cek berita terbaru dari Industri, ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom 

    Sagrada Família, Ketika Arsitektur Menyampaikan Iman melalui Batu, Cahaya, dan Ruang

    Ranahrumah.com – INSPIRASI | Sagrada Família bukan sekadar gereja dengan bentuk yang unik dan ukuran yang monumental. Hampir setiap bagian bangunan memiliki cerita dan makna yang berkaitan dengan iman Katolik—mulai dari bentuk, patung, tulisan, menara, cahaya hingga susunan ruangnya.

    Di dalam bangunan, kolom-kolom yang bercabang seperti pepohonan membuat ruang terasa seperti berada di dalam hutan. Cahaya yang masuk melalui kaca patri warna-warni juga tidak sekadar membuat interior menjadi terang. Arah dan karakter cahaya berkaitan dengan kisah yang disampaikan pada masing-masing fasad.

    Itulah yang membuat Sagrada Família menarik bukan hanya sebagai bangunan ikonik di Barcelona, tetapi juga sebagai karya arsitektur yang sarat makna simbolis tentang iman Katolik.

    Dari Persembahan bagi Keluarga Kudus di Nazaret hingga Bangunan Monumental

    Awal mula Sagrada Família berhubungan dengan sebuah gagasan keagamaan. Pada 1866, Josep Maria Bocabella mendirikan Spiritual Association of Devotees of Saint Joseph. Beberapa tahun kemudian, pada 1874, organisasi ini mulai menggalang dukungan untuk membangun sebuah gereja Katolik yang didedikasikan kepada Keluarga Kudus atau Holy Family: Yesus, Maria, dan Yusuf.

    Lokasi gereja kemudian dipilih di kawasan yang saat itu merupakan bagian dari Sant Martí de Provençals, yang kini menjadi kawasan Eixample di Barcelona. Lahan seluas sekitar 12.800 meter persegi diperoleh pada 1881.

    Peletakan batu pertama dilakukan pada 19 Maret 1882, bertepatan dengan Hari Santo Yusuf. Rancangan awal dibuat oleh Francisco de Paula del Villar y Lozano dengan gaya Neo-Gotik.

    Namun, setahun kemudian, Antoni Gaudí mengambil alih proyek tersebut.

    Ketika Gaudí mulai mengerjakannya, ia tidak sekadar meneruskan rancangan gereja yang sudah dibuat. Ia mengembangkan gagasan tersebut menjadi proyek yang jauh lebih besar dan kompleks, dengan bentuk, struktur, geometri, dan simbolisme yang kemudian menjadi ciri khas Sagrada Família.

    Sejak saat itu, Sagrada Família berkembang menjadi sebuah karya yang sangat berbeda dari gereja pada umumnya. Bentuk, struktur, alam, cahaya, dan simbol keagamaan dirancang saling berkaitan untuk menyampaikan makna yang lebih dalam.

    Bentuk-bentuk organik, geometri, struktur yang terinspirasi alam, permainan cahaya, serta simbol-simbol keagamaan berpadu dalam satu bangunan Sagrada Familia. (Foto: Brigita/Dok. Ranahrumah.com)

    Antoni Gaudí dan Karya yang Melampaui Satu Generasi

    Bagi Antoni Gaudí, Sagrada Família bukan sekadar salah satu proyek dalam perjalanan kariernya. Ia menghabiskan sekitar 43 tahun untuk mengerjakan gereja ini, dan sejak 1914 bahkan bekerja secara eksklusif untuk Sagrada Família.

    Gaudí mengembangkan rancangan melalui gambar, model skala, eksperimen struktur, dan berbagai studi yang dapat membantu pembangunan dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

    Ia menyadari bahwa proyek sebesar ini tidak akan selesai dalam satu masa hidup.

    Gaudí sendiri tidak pernah melihat Sagrada Família selesai. Pada 10 Juni 1926, ia meninggal setelah mengalami kecelakaan tertabrak trem di Barcelona. Ia kemudian dimakamkan di kapel Our Lady of Carmel, di ruang bawah tanah Sagrada Família.

    Namun, pekerjaannya tidak berhenti bersama dirinya. Gambar, model, dan gagasan yang ditinggalkannya menjadi dasar bagi generasi berikutnya untuk meneruskan pembangunan.

    Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan Sagrada Família. Sebuah gereja yang dimulai sebagai persembahan kepada Keluarga Kudus itu terus dikerjakan melampaui satu generasi, bahkan jauh setelah penciptanya meninggal.

    Mungkin di sinilah kisah Sagrada Família menjadi lebih dari sekadar kisah tentang seorang arsitek. Manusia dapat merancang dan membangun, tetapi sebuah karya besar dapat terus berjalan melampaui batas satu kehidupan.

    Gaya Sagrada Famila, bukan Neo-Gotik, Bukan juga sejadar modernisme. (Foto: Brigita/ Dok. Ranahrumah.com)

    Bukan Neo-Gotik, Bukan Sekadar Modernisme

    Jika dilihat dari luar, Sagrada Família sulit dimasukkan ke dalam satu gaya arsitektur saja.

    Rancangan awalnya memang menggunakan gaya Neo-Gotik. Namun, setelah Gaudí mengambil alih, ia mengembangkan bahasa arsitektur yang jauh lebih personal. Bentuk-bentuk organik, geometri, struktur yang terinspirasi alam, permainan cahaya, serta simbol-simbol keagamaan berpadu dalam satu bangunan.

    Karena itu, Sagrada Família sering dikaitkan dengan Catalan Modernisme atau Modernisme Català, gerakan arsitektur yang berkembang di Catalonia pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

    Yang membuatnya menarik adalah cara Gaudí tidak memisahkan keindahan dari fungsi struktur. Bentuk yang terlihat rumit sering kali memiliki alasan konstruktif, sementara struktur bangunan sekaligus menjadi bagian dari ekspresi arsitekturnya.

    Gaudí menggunakan berbagai pendekatan geometri dan struktur, termasuk kolom miring serta bentuk lengkung yang membantu mendistribusikan beban secara lebih efisien. Dengan cara ini, ia dapat menciptakan ruang yang tinggi dan terasa lebih ringan tanpa terlalu bergantung pada sistem penopang seperti yang banyak ditemukan pada arsitektur Gotik.

    Baca Juga: Tren Arsitektur Rumah Tropis Modern

    | Selanjutnya – Ketika Alam menjadi Inspirasi dan Struktur

    Saat Abu Vulkanik Mengganggu Udara Rumah, Apa yang Perlu Dilakukan?

    Ranahrumah.com – KESEHATAN | Erupsi Gunung Anak Krakatau beberapa hari terakhir mengingatkan kita pada satu hal yang sering luput diperhatikan: udara di dalam rumah tidak selalu otomatis lebih bersih daripada udara di luar.

    Erupsi yang berlangsung sejak akhir pekan lalu sempat menyebabkan sebaran abu vulkanik hingga sejumlah wilayah dan mengganggu aktivitas penerbangan. Meski kondisi mulai membaik, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau. Kementerian Kesehatan juga melaporkan bahwa pada 9 September, konsentrasi PM2.5 di sejumlah area luar ruangan di sekitar Bandara Soekarno-Hatta masih berada di atas batas aman.

    Bagi penghuni rumah, situasi seperti ini membuat perlindungan terhadap kualitas udara menjadi bagian dari kesiapan menghadapi kondisi darurat—bukan hanya ketika abu sudah terlihat menempel di halaman atau kendaraan.

    Baca Juga: Abu Vulkanik Jangan Remehkan Efek Buruknya

    Ketika Udara Luar Tidak Bersahabat

    Abu vulkanik terdiri atas partikel sangat halus yang dapat mengganggu mata dan saluran pernapasan. Selain abu, aktivitas vulkanik juga dapat menghasilkan sejumlah gas yang berdampak pada kesehatan.

    Karena itu, ketika terjadi hujan abu atau kualitas udara memburuk, langkah pertama adalah mengurangi paparan.

    Jika tidak ada kebutuhan mendesak untuk keluar, tetap berada di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup. Jika harus keluar, gunakan respirator yang sesuai, seperti N95, serta pelindung mata. CDC juga menganjurkan penggunaan pakaian yang menutupi kulit untuk mengurangi iritasi akibat abu.

    Membersihkan rumah pun sebaiknya tidak dilakukan dengan cara yang membuat abu kembali beterbangan. Permukaan yang terkena abu dapat dibasahi terlebih dahulu sebelum dibersihkan. Untuk debu di dalam rumah, metode pembersihan yang tidak mengangkat kembali partikulat ke udara lebih disarankan.

    Namun ada satu persoalan lain: bagaimana dengan partikel yang sudah telanjur berada di dalam rumah?

    Baca Juga: 5 Bahan Beracun Berbahaya Penyebab Indoor Pollution

    Rumah Tertutup Bukan Berarti Udara Otomatis Bersih

    Menutup pintu dan jendela memang membantu mengurangi masuknya udara dari luar. Tetapi, udara di dalam rumah tetap dapat mengandung partikulat dari berbagai sumber—baik yang terbawa dari luar maupun yang muncul dari aktivitas penghuni.

    Dalam kondisi kualitas udara luar sedang buruk, rumah memang sebaiknya menjadi tempat perlindungan. Tetapi perlindungan tersebut dapat dibantu dengan pengelolaan kualitas udara di dalam ruangan.

    Di sinilah perangkat seperti air purifier dapat memiliki peran sebagai salah satu lapisan perlindungan tambahan.

    Air purifier bekerja dengan menarik udara ruangan melewati sistem filtrasi sehingga sebagian partikulat dan polutan yang dapat disaring oleh perangkat tersebut tertahan pada filter. Teknologi, jenis filter, kapasitas ruangan, serta kemampuan masing-masing produk tentu berbeda.

    Karena itu, air purifier sebaiknya tidak dipandang sebagai pengganti masker ketika harus berada di luar, apalagi sebagai pengganti instruksi evakuasi atau arahan dari pihak berwenang. Fungsinya lebih tepat ditempatkan sebagai alat bantu untuk mengelola kualitas udara di dalam rumah.

    Baca Juga: Xiaomi Perluas Ekosistem AIoT Kenalkan 5 Produk Pendukung Gaya Hidup Modern

    Memilih Air Purifier saat Kualitas Udara Memburuk

    Kondisi seperti erupsi gunung api juga bisa menjadi momentum untuk kembali melihat kebutuhan air purifier di rumah.

    Tidak harus selalu memilih produk dengan spesifikasi tertinggi. Yang lebih penting adalah menyesuaikan perangkat dengan kebutuhan ruangan dan memperhatikan beberapa hal, seperti kemampuan filtrasi partikulat, cakupan ruangan, ketersediaan filter pengganti, pemantauan kualitas udara, serta kemudahan penggunaannya.

    Saat ini pilihan air purifier di pasar cukup beragam, dari produk berukuran compact untuk kamar hingga perangkat berkapasitas besar untuk ruang keluarga. Beberapa merek yang memiliki lini air purifier antara lain Xiaomi, Sharp, LG, dan sejumlah produsen lainnya.

    Dengan kata lain, teknologi pemurni udara bukan hanya relevan ketika terjadi erupsi atau polusi ekstrem. Dalam kehidupan sehari-hari, perangkat ini dapat menjadi salah satu cara membantu menjaga kualitas udara di ruang yang paling sering kita tempa

    Mijia Smart Air Purifier 6 Plus, Salah Satu Pilihan Berkapasitas Besar

    Salah satu perangkat yang diperkenalkan Xiaomi Indonesia adalah Mijia Smart Air Purifier 6 Plus.

    Produk ini memiliki cakupan pemurnian yang diklaim mencapai hingga 91 m² dan menggunakan sistem filtrasi lima lapis. Xiaomi juga membekalinya dengan pemantauan kualitas udara secara real-time yang dapat dipantau melalui aplikasi Xiaomi Home.

    Ada pula fitur UVC yang diklaim Xiaomi sebagai bagian dari sistem perlindungan perangkat terhadap mikroorganisme, serta sertifikasi SGS terkait kemampuan penyaringan alergen.

    Untuk kondisi seperti polusi partikulat, kemampuan penyaringan menjadi salah satu aspek yang menarik diperhatikan. Namun, seperti perangkat air purifier lainnya, efektivitas nyata tetap bergantung pada kondisi ruangan, penggunaan, perawatan, dan spesifikasi partikulat yang memang dapat ditangani oleh filter.

    Mijia Smart Air Purifier 6 Plus mulai dijual di Indonesia sejak 9 September 2026. Pada periode promosi hingga 10 Oktober 2026, harganya Rp5.499.000 dari harga normal Rp5.899.000.

    Xiaomi juga memiliki beberapa pilihan air purifier lain dengan kapasitas dan harga berbeda, sehingga kebutuhan pengguna tidak selalu harus diarahkan pada model tertinggi.

    Jangan Menunggu Udara Terlihat Buruk

    Erupsi Anak Krakatau menjadi pengingat bahwa kualitas udara dapat berubah dalam waktu singkat. Dan yang perlu diwaspadai bukan hanya abu yang terlihat menempel di permukaan.

    Memantau informasi dari pihak berwenang, mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kondisi tidak mendukung, menggunakan perlindungan pernapasan yang tepat, menjaga rumah tetap tertutup ketika terjadi sebaran abu, serta membersihkan rumah dengan cara yang tidak membuat partikulat kembali beterbangan adalah langkah dasar yang tetap penting.

    Air purifier kemudian dapat menjadi salah satu alat bantu tambahan untuk menjaga udara di dalam rumah.

    Sebab pada akhirnya, menjaga kualitas udara bukan semata soal memilih perangkat paling canggih. Yang lebih penting adalah memahami kapan udara membutuhkan perhatian lebih—dan membuat rumah menjadi tempat yang benar-benar membantu kita bernapas dengan lebih nyaman.

    (RR)

    Cek berita dan ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom 

      Indonesia Makin Diperhitungkan sebagai Basis Produksi, Midea Perkuat Manufaktur Lokal

      Ranahrumah.com – TREN | Bagi industri peralatan rumah tangga, sebuah pabrik bukan sekadar tempat produk dirakit sebelum sampai ke rumah konsumen. Di baliknya ada rantai pemasok, tenaga kerja, teknologi, distribusi, hingga peluang bagi sebuah negara untuk mengambil peran lebih besar dalam jaringan produksi global.

      Hal itulah yang menarik dari langkah Midea di Indonesia. Pada 9 September 2026, Midea Electronics Indonesia merayakan pencapaian produksi 3 juta unit sekaligus meresmikan fasilitas manufaktur barunya di Cikarang, Jawa Barat.

      Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana investasi manufaktur produk rumah tangga di Indonesia terus berkembang. Midea tidak hanya memperbesar kapasitas produksi AC, tetapi juga membangun dan mengembangkan fasilitas untuk kulkas serta mesin cuci.

      Dari Pasar Konsumen Menjadi Basis Produksi

      Sejak mulai hadir di Indonesia pada 2010, Midea berkembang dari perusahaan yang menghadirkan produk elektronik rumah tangga menjadi perusahaan yang juga memperkuat kegiatan produksinya di dalam negeri.

      Fasilitas Residential Air Conditioner Midea Electronics Indonesia di Cikarang berdiri di atas lahan seluas 51.405 meter persegi. Luas bangunannya direncanakan berkembang dari sekitar 13.000 meter persegi menjadi 43.000 meter persegi.

      Pada 2024, Midea juga mengembangkan produksi Twin Tub Washing Machine melalui pabrik seluas 17.000 meter persegi. Fasilitas tersebut ke depan akan dikembangkan untuk kategori mesin cuci Top Loading.

      Sementara itu, fasilitas refrigerator Midea di Karawang berdiri di atas lahan lebih dari 150.000 meter persegi. Pabrik ini akan memproduksi sejumlah kategori kulkas, mulai dari side-by-side, double door, single door, hingga chest freezer.

      Jika dilihat sebagai satu kesatuan, pengembangan tersebut menunjukkan arah yang lebih besar: Indonesia diposisikan bukan hanya sebagai pasar bagi produk Midea, tetapi sebagai bagian dari jaringan manufakturnya.

      Hal ini sejalan dengan target perusahaan untuk semakin memperkuat peran Indonesia sebagai basis produksi guna melayani kebutuhan pasar domestik sekaligus pasar global.

      Baca Juga: AC Celest Inverter Midea dengan Teknoligi Ai Pertama di Kelasnya

      Pencapaian produksi 3 juta unit merupakan milestone penting dalam perjalanan manufaktur Midea di Indonesia. (Foto: Dok. Midea Indonesia)

      Produksi Lokal yang Menjangkau Pasar Global

      Dalam acara yang berlangsung di fasilitas Residential Air Conditioner Midea Electronics Indonesia di Cikarang, pencapaian produksi 3 juta unit menjadi salah satu penanda perkembangan manufaktur Midea di Indonesia.

      Jack Ding, President Director Midea Electronics Indonesia, mengatakan pencapaian tersebut merupakan milestone penting dalam perjalanan manufaktur perusahaan di Indonesia.

      “Pencapaian 3 juta unit merupakan milestone penting dalam perjalanan manufaktur Midea di Indonesia. Kami akan terus berinvestasi, memperkuat produksi lokal, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan industri manufaktur Indonesia,” ujar Jack Ding.

      Skala produksi tersebut kemudian diperkuat dengan aktivitas ekspor. Menurut Faisol Riza, Wakil Menteri Perindustrian Republik Indonesia, hingga 2026 ekspor Midea Electronics Indonesia telah mencapai sekitar 2 juta unit produk ke berbagai negara di kawasan ASEAN dan Amerika Utara.

      Fakta ini memberi konteks yang lebih luas terhadap pembangunan fasilitas manufaktur di Indonesia. Produk yang dibuat di dalam negeri tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen Indonesia, tetapi juga memiliki peran dalam memasok pasar di luar negeri.

      Faisol Riza mengapresiasi perkembangan investasi dan produksi Midea di Indonesia.

      “Capaian ini menunjukkan semakin kuatnya kapasitas manufaktur elektronika di Indonesia dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun internasional,” ujar Faisol Riza.

      Ia juga menegaskan harapan pemerintah agar Indonesia semakin kuat posisinya dalam jaringan produksi dan bisnis global Midea.

      “Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga menjadi mitra strategis dalam pengembangan manufaktur dan salah satu basis produksi penting Midea untuk melayani kebutuhan pasar regional maupun global.”

      Baca Juga: Midea Resmikan Pabrik Kulkas Terbesar di Indonesia

      Seremonial peresmian fasilitas manufaktur baru Midea di Cikarang, Jawa Barat pada 9/9/26. (Foto: Dok. Midea Indonesia)

      Ketika Pabrik Ikut Membentuk Ekosistem Industri

      Penguatan manufaktur lokal tidak berhenti pada bangunan pabrik. Di dalamnya terdapat kebutuhan terhadap pemasok, tenaga kerja, logistik, teknologi, serta berbagai layanan pendukung yang membentuk ekosistem industri.

      Ma Kai, President Residential Air Conditioner PT Jaya Refrigeration Equipment, menegaskan komitmen perusahaan untuk memperkuat aspek tersebut.

      “Kami akan terus memperkuat investasi dan produksi lokal, meningkatkan penggunaan pemasok dalam negeri, serta menjalankan operasional yang aman, patuh terhadap regulasi, dan berkelanjutan untuk memberikan kontribusi positif bagi Indonesia,” ujar Ma Kai.

      Dari sisi pemerintah, perkembangan seperti ini juga dipandang penting untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

      Darmadi Durianto, Anggota Komisi VI DPR RI, menilai investasi manufaktur memiliki peran dalam memperkuat ekosistem industri nasional.

      “Ekspansi investasi seperti ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing produk yang diproduksi di dalam negeri,” ujarnya.

      Sementara itu, Rifqi Ansari, Plt. Direktur Industri Elektronika dan Telematika (IET), turut hadir dalam peresmian tersebut bersama sejumlah jajaran Midea dan PT Jaya Refrigeration Equipment, termasuk Jack Ding, Ma Kai, Wang Lei selaku President Washing Machine PT Jaya Refrigeration Equipment, serta Ye Tao selaku President Refrigerator PT Jaya Refrigeration Equipment.

      Rangkaian acara juga mencakup tur fasilitas produksi AC untuk melihat secara langsung proses manufaktur Midea di Indonesia, serta prosesi simbolis pencapaian produksi dan penguatan kapasitas manufaktur.

      Apa Artinya bagi Konsumen Indonesia?

      Bagi konsumen, pembangunan pabrik memang tidak serta-merta berarti harga produk menjadi lebih murah atau seluruh produk Midea akan diproduksi di Indonesia. Namun, semakin kuatnya produksi lokal dapat menjadi bagian penting dari rantai pasok yang lebih dekat dengan pasar tempat produk tersebut digunakan.

      Dalam jangka panjang, penguatan manufaktur juga berpotensi mendukung ketersediaan produk, komponen, serta layanan yang dibutuhkan konsumen—tergantung pada bagaimana perusahaan mengembangkan kapasitas produksi dan rantai pasoknya.

      Midea sendiri menyebut pada 2026 telah memiliki fasilitas produksi elektronik dengan luas total 218.405 meter persegi yang mencakup fasilitas AC, kulkas, dan mesin cuci.

      Dengan investasi yang terus berkembang sejak 2023, cerita Midea di Indonesia akhirnya tidak lagi semata-mata tentang berapa banyak produk yang berhasil dibuat.

      Yang lebih menarik adalah perubahan perannya: dari perusahaan yang menjual produk rumah tangga di Indonesia menjadi salah satu pemain yang ikut menempatkan Indonesia dalam rantai produksi peralatan rumah tangga untuk pasar regional dan global.

      Baca Juga: Midea Perkuat Kapabilitas Teknik Lokal di Singapura Dorong Perkembangan HVAC Berstandar Green Mark

      (RR)

      Cek berita terbaru dari Industri, ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom 

      TV Besar Bukan Sekadar Soal Ukuran, Sharp Hadirkan Platinum Service untuk Pengalaman Setelah Membeli

      Ranahrumah.com – TREN | Membeli televisi berukuran besar kini bukan lagi sekadar memilih layar dengan ukuran yang lebih luas. Ketika teknologi di dalamnya semakin canggih, pengalaman setelah TV sampai di rumah juga ikut menentukan apakah perangkat tersebut benar-benar dapat dinikmati secara maksimal.

      Penempatan unit, proses pemasangan, pengaturan awal hingga pemahaman terhadap fitur menjadi bagian dari pengalaman tersebut. Terlebih untuk TV berukuran besar yang membutuhkan penanganan lebih hati-hati sejak dikeluarkan dari kemasan hingga siap digunakan.

      Kebutuhan inilah yang kemudian menjadi salah satu perhatian Sharp Indonesia melalui Platinum Service, layanan khusus untuk sejumlah TV premium dan SuperSize TV Sharp.

      TV Semakin Besar, Pengalaman Setelah Membeli Ikut Berubah

      Perkembangan televisi membuat ukuran layar semakin besar, sementara kemampuan teknologinya juga semakin beragam. Bagi konsumen, kondisi ini menawarkan pengalaman menonton yang lebih imersif, tetapi sekaligus menghadirkan kebutuhan yang berbeda ketika perangkat tiba di rumah.

      TV berukuran besar membutuhkan pertimbangan mengenai lokasi penempatan, proses instalasi, hingga pengaturan unit. Pada perangkat dengan teknologi yang semakin lengkap, memastikan seluruh fungsi dapat digunakan dengan tepat sejak awal juga menjadi bagian penting dari pengalaman memiliki TV.

      Karena itu, pengalaman membeli TV tidak berhenti ketika transaksi selesai dan unit dibawa pulang.

      Baca Juga: TV 4K Sharp Bisa Dipakai Foto dan Video, Hadirkan JL5500I dan JJ5000I dengan Fitur Canggih

      Mengapa TV Besar Membutuhkan Perhatian Lebih?

      Semakin besar ukuran TV, semakin besar pula perhatian yang dibutuhkan dalam proses pemasangan dan penempatannya. Penanganan unit, kesiapan lokasi, pemasangan pada dinding maupun penggunaan dudukan harus dilakukan dengan tepat.

      Di sisi lain, TV premium saat ini tidak hanya menawarkan layar berukuran besar. Berbagai teknologi dan fitur di dalamnya juga membuat proses pengaturan awal menjadi bagian yang tidak kalah penting.

      Bagi konsumen, dukungan pada tahap ini dapat memberikan rasa lebih nyaman. Bukan hanya karena TV terpasang dengan benar, tetapi juga karena perangkat dapat langsung dipersiapkan untuk digunakan sesuai kemampuannya.

      Sharp melihat kebutuhan tersebut sebagai bagian dari upaya memberikan pengalaman yang lebih lengkap bagi konsumen TV berukuran besar.

      Baca Juga: Every Costumer Matters Sharp, Jadikan Pelanggan sebagai Pusat

      | Selanjutnya → Platinum Service Membawa Omotenashi setelah Transaksi

      Ketika Pelanggan Menjadi Pusat, Sharp Menerjemahkannya lewat Inovasi dan Layanan

      0

      Ranahrumah.com – TREN | Selama bertahun-tahun, produk elektronik telah menjadi bagian dari kehidupan di rumah. Kulkas menyimpan kebutuhan keluarga sehari-hari, mesin cuci membantu menyelesaikan rutinitas, pendingin udara menjaga kenyamanan ruang, sementara televisi tidak hanya menjadi perangkat hiburan, tetapi juga bagian dari momen bersama keluarga.

      Karena itu, hubungan antara produsen elektronik dan penggunanya sebenarnya tidak berakhir ketika transaksi selesai. Justru setelah sebuah produk masuk ke rumah, hubungan itu mulai menemukan bentuknya melalui pengalaman menggunakan, layanan ketika dibutuhkan, dan seberapa jauh teknologi tersebut benar-benar memberikan manfaat.

      Pemahaman inilah yang menjadi dasar kampanye “Every Customer Matters” yang diperkenalkan Sharp Indonesia dalam rangka Hari Pelanggan Nasional 2026. Kampanye ini sekaligus menjadi bagian dari perjalanan 56 tahun Sharp di Indonesia, yang dimulai sejak 1969.

      Bagi Sharp, perjalanan tersebut bukan semata tentang berapa banyak produk yang telah dihadirkan ke pasar, tetapi tentang bagaimana produk dan teknologi tumbuh bersama perubahan kehidupan masyarakat Indonesia.

      Dari Produk ke Hubungan yang Lebih Panjang

      Perubahan kebutuhan masyarakat membuat produsen elektronik tidak lagi cukup hanya menciptakan produk dengan teknologi baru. Yang semakin penting adalah memahami bagaimana teknologi tersebut digunakan dan apa yang dibutuhkan manusia di balik penggunaannya.

      Melalui Every Customer Matters, Sharp menerjemahkan slogan global “In Step With Your Future” ke dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia. Fokusnya bukan hanya pada produk, tetapi pada upaya memahami kebutuhan manusia, menciptakan pengalaman yang relevan, dan terus berjalan bersama pelanggan menghadapi perubahan di masa depan.

      “Bagi Sharp, perjalanan 56 tahun bukan semata-mata tentang berapa banyak produk yang telah dihadirkan ke pasar. Lebih dari itu, perjalanan tersebut merupakan kumpulan pengalaman yang tercipta bersama masyarakat, produk yang hadir di ruang keluarga, menemani rutinitas, menyaksikan berbagai perubahan dalam rumah tangga, hingga menjadi bagian dari kenangan keluarga Indonesia,” ungkap Shinji Teraoka, Presiden Direktur PT Sharp Electronics Indonesia.

      Dari pemikiran tersebut muncul gagasan sederhana yang menjadi inti kampanye: setiap produk memiliki cerita, dan setiap cerita dimulai dari pelanggan.

      Artinya, pelanggan tidak hanya dipandang sebagai seseorang yang membeli produk. Ia adalah manusia yang menggunakan, merasakan manfaat, menghadapi kebutuhan baru, dan pada akhirnya menentukan apakah sebuah teknologi benar-benar relevan dalam kehidupan sehari-hari.

      Baca Juga: Platinum Serice Berikan Pengalaman Setelah Membeli TV Premium Sharp

      Andry Adi Utomo – National Sales Senior General Manager PT Sharp Electronics Indonesia memaparkan kampanye Every Costumer Matters yang terdiri dari tiga pengalaman: Emosi, Keterlibatan, dan Komitmen yang diberikan Sharp untuk pelanggannya. (Foto: Sharp Indonesia)

      Every Customer Matters dalam Tiga Pengalaman

      Untuk menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam pengalaman yang lebih nyata, Sharp merangkai kampanye Every Customer Matters melalui tiga pendekatan yang saling terhubung: Emotion, Engagement, dan Commitment.

      Ketiganya memperlihatkan bahwa hubungan dengan pelanggan dapat dibangun melalui pengalaman emosional, keterlibatan langsung, sekaligus komitmen yang terus berjalan setelah pembelian.

      Emotion: Ketika teknologi memiliki makna

      Tahap pertama hadir melalui Emotion, yang diwujudkan lewat peluncuran brand manifesto “In Step With Your Future”.

      Alih-alih menempatkan produk sebagai pusat cerita, manifesto tersebut mengangkat hubungan antarmanusia dalam keseharian dan bagaimana teknologi hadir di dalam berbagai momen tersebut.

      Pendekatan ini menarik karena teknologi pada akhirnya tidak berdiri sendiri. Sebuah televisi memiliki arti ketika digunakan untuk menikmati tayangan bersama keluarga. Peralatan rumah tangga menjadi bernilai ketika membantu membuat rutinitas lebih mudah. Teknologi baru memperoleh maknanya ketika berhubungan dengan kehidupan manusia.

      Dengan cara pandang tersebut, Sharp mencoba mengajak masyarakat melihat teknologi bukan sekadar dari kecanggihannya, tetapi dari pengalaman yang tercipta ketika teknologi menjadi bagian dari keseharian.

      Engagement: Dari melihat menjadi berbagi

      Hubungan tersebut kemudian dilanjutkan melalui Engagement lewat program “Cerita Aku & SHARP”.

      Konsumen diajak membagikan pengalaman dan kenangan mereka bersama produk Sharp melalui media sosial. Cerita yang bermula di ruang digital kemudian dihubungkan dengan pengalaman nyata melalui berbagai titik interaksi Sharp.

      Salah satunya melalui Walk-in Customer Service Outlet, termasuk penawaran bagi konsumen yang datang untuk melakukan servis maupun perawatan produk.

      Pendekatan online-to-offline atau O2O ini membuat keterlibatan konsumen tidak berhenti pada komunikasi di media sosial. Dari sekadar melihat dan mengingat, konsumen diajak untuk berbagi cerita sekaligus mengalami kembali hubungan tersebut melalui layanan secara langsung.

      Commitment: Hubungan tidak berakhir setelah pembelian

      Bagian ketiga adalah Commitment, yang diwujudkan melalui penguatan layanan purna jual, termasuk pengenalan Platinum Service untuk produk TV premium dan SuperSize TV.

      Program tersebut menjadi salah satu bentuk upaya Sharp memberikan pengalaman layanan yang lebih personal setelah produk dibeli.

      Namun, yang menarik dari pendekatan ini bukan semata fasilitas layanan premiumnya. Ada pemahaman bahwa semakin kompleks sebuah produk, semakin penting pula memastikan konsumen dapat menggunakan teknologi tersebut dengan baik dan memperoleh pengalaman yang sesuai dengan yang dijanjikan produk.

      Platinum Service menjadi salah satu contoh bagaimana gagasan Every Customer Matters mulai diterjemahkan ke dalam pengalaman setelah transaksi.

      National Sales Senior General Manager PT Sharp Electronics Indonesia Andry Adi Utomo mengatakan, untuk saat ini, layanan tersebut diperkenalkan sebagai pilot project dan akan dievaluasi setelah berjalan selama enam bulan. Jika pelaksanaannya dinilai berjalan baik, model layanan serupa berpotensi dikembangkan untuk produk premium lainnya.

      Sementara bagi pelanggan yang telah memiliki produk Sharp sebelumnya, perusahaan menyatakan akan terus mengoptimalkan layanan after-sales service melalui jaringan pusat layanan yang dimilikinya.

      Dengan demikian, Commitment tidak hanya berbicara tentang satu layanan baru, tetapi tentang upaya menjaga hubungan dengan pelanggan sepanjang masa penggunaan produk.

      Baca Juga: Mengenal TV AQUOS XLED dan AQUOS TRU Sharp

      | Selanjutnya: Takumi dan Omotenashi: Ketika Kualitas Bertemu Perhatian

      Bukan Sekadar Menerangi, Begini Cara Lampu Membentuk Pengalaman Ruang

      Ranahrumah.com – PRODUK | Lampu di taman bisa membuat jalur pedestrian terasa lebih aman. Cahaya pada fasad dapat mengubah karakter sebuah bangunan setelah matahari terbenam. Di kantor, pencahayaan dapat menyesuaikan diri dengan keberadaan orang dan cahaya alami. Sementara di stadion, lampu harus mampu mengikuti kebutuhan pertandingan hingga siaran televisi.

      Dari contoh-contoh tersebut terlihat bahwa satu hal sederhana—cahaya—sebenarnya memiliki begitu banyak pekerjaan.

      Hal itu terlihat dalam rangkaian Signify Innovation Day – Light the Future di Jakarta. Selain membahas masa depan kota dan bangunan, Signify memperlihatkan berbagai teknologi pencahayaan profesional yang digunakan pada beragam ruang dan infrastruktur.

      Yang menarik, inovasinya bukan hanya terletak pada lampunya, tetapi pada bagaimana cahaya dapat dirancang, dikendalikan, dan digunakan sesuai kebutuhan ruang.

      Baca Juga: Ketika Cahaya Ikut Membentuk Masa Depan Kota

      Fasad yang Hidup setelah Matahari Terbenam

      Sebuah bangunan memiliki wajah yang berbeda pada siang dan malam hari.

      Pada malam hari, pencahayaan fasad dapat mempertegas garis arsitektur, tekstur dinding, kontur jembatan, atau karakter sebuah landmark. Signify memiliki berbagai solusi LED untuk kebutuhan tersebut, mulai dari lampu sorot hingga pencahayaan linier dan titik yang dapat membentuk garis maupun pola pada permukaan bangunan.

      Beberapa solusi bahkan dapat dikendalikan secara dinamis untuk menghadirkan perubahan warna dan pola.

      Dengan demikian, lampu tidak lagi sekadar ditempatkan untuk “membuat fasad terlihat”. Cahaya menjadi bagian dari desain arsitektur itu sendiri.

      Baca Juga: Teknologi Lampu LED Signify di JPO Senen, Jakarta

      Ketika Lampu Jalan Ikut menjadi Bagian dari Kota Pintar

      Di jalan raya, kebutuhan tentu berbeda.

      Yang dibutuhkan bukan sekadar lampu terang, melainkan pencahayaan yang efisien, tepat arah, mudah dikelola, dan dapat mendukung keselamatan pengguna jalan.

      Signify memperlihatkan solusi PJU LED, termasuk sistem lampu tenaga surya all-in-one dan pencahayaan terkoneksi. Pada sistem all-in-one, panel surya, baterai, lampu, dan pengendali dirancang menjadi satu kesatuan sehingga pemasangannya lebih sederhana dibanding sistem yang komponennya terpisah.

      Sementara melalui sistem pencahayaan terkoneksi seperti Interact, pengelola dapat memantau dan mengatur lampu dari jarak jauh.

      Bayangkan jika pengelola jalan tidak harus menunggu laporan untuk mengetahui ada lampu yang mati. Kondisi lampu dapat dipantau melalui sistem, sementara tingkat pencahayaan dapat diatur berdasarkan waktu atau kebutuhan.

      Di sinilah lampu berubah menjadi bagian dari infrastruktur digital kota.

      Inovasi lampu untuk taman dari Signify terdiri dari lampu sorot, lampu tanam, hingga lampu untuk pencahayaan up and down pada dinding. (Foto: Signify)

      Taman Bukan Hanya Membutuhkan Lampu, tetapi Juga Suasana

      Pada taman kota maupun area luar bangunan, pencahayaan memiliki pekerjaan yang lebih halus.

      Lampu dapat diarahkan ke pepohonan, semak, dinding, pilar, atau jalur pedestrian untuk menciptakan kedalaman visual. Ada lampu sorot berukuran kecil untuk tanaman, lampu yang dapat ditanam pada permukaan, hingga pencahayaan up and down pada dinding.

      Hasilnya bukan hanya taman yang lebih terang. Dengan penempatan yang tepat, cahaya membantu orang membaca arah, mengenali batas ruang, sekaligus menikmati lanskap pada malam hari.

      Ini memperlihatkan satu prinsip penting dalam desain pencahayaan: tidak semua bagian ruang harus dibuat sama terang.

      Justru perbedaan antara area terang dan gelap yang terkontrol dapat membuat ruang terasa lebih nyaman dan memiliki karakter.

      Di Kantor, Lampu Mulai Mengenali Cara Ruang Digunakan

      Masuk ke dalam kantor, kebutuhan cahaya kembali berubah.

      Area kerja membutuhkan pencahayaan yang nyaman untuk bekerja dalam waktu lama. Koridor, ruang rapat, lobi, dan area servis memiliki kebutuhan berbeda.

      Karena itu, sistem pencahayaan profesional kini dapat dipadukan dengan sensor dan platform pengelolaan gedung.

      Ketika sebuah ruang kosong, pencahayaan dapat diredupkan atau dimatikan. Di area yang mendapatkan banyak cahaya matahari, tingkat terang lampu dapat disesuaikan. Sensor juga dapat memberikan informasi mengenai penggunaan ruang.

      Bagi pengelola gedung, manfaatnya bukan hanya kenyamanan pengguna, tetapi juga cara yang lebih cerdas untuk mengelola energi dan ruang.

      Cahaya pun menjadi bagian dari sistem kerja sebuah bangunan.

      Baca Juga: Mengenal Uplight: Teknik Cahaya yang Membuat Rumah Lebih Dramatis

      Pencahayaan dengan lampu pintar Signify untuk hospitality menciptakan suasana nyaman dan pengalaman bagi tamu sekaligus bagi pengelola hotel, di belakangnya terdapat sistem yang dapat membantu efisiensi operasional.(Foto: Signify)

      Hotel: Cahaya yang Membangun Suasana

      Pada hospitality, fungsi pencahayaan bergerak lebih jauh lagi.

      Hotel, restoran, dan resort tidak hanya membutuhkan cahaya yang cukup. Mereka membutuhkan suasana.

      Cahaya yang hangat dapat membuat restoran terasa intim. Sorotan yang tepat dapat membuat tekstur material dan dekorasi terlihat lebih menarik. Reproduksi warna yang baik membuat makanan, kain, kayu, maupun karya seni tampil lebih alami.

      Signify juga memperlihatkan pendekatan yang lebih personal melalui solusi pencahayaan dekoratif dan teknologi seperti NatureConnect, yang menghadirkan pengalaman cahaya yang terinspirasi dari perubahan cahaya alami.

      Ada pula sistem pencahayaan pintar yang memungkinkan pencahayaan kamar dan area hotel dikelola bersama sistem bangunan.

      Jadi, bagi tamu, lampu mungkin hanya terasa sebagai bagian dari suasana. Bagi pengelola hotel, di belakangnya terdapat sistem yang dapat membantu menciptakan pengalaman sekaligus efisiensi operasional.

      Baca Juga: Signify Menjadi Penyedia Lampu Sorot Pilihan FIFA

      Signify memiliki berbagai floodlight profesional dengan optik yang dapat mengarahkan cahaya sesuai kebutuhan area.stadion. (Foto: Signify)

      Untuk Olahraga dan Area yang Membutuhkan Cahaya dalam Skala Besar

      Semakin besar ruangnya, semakin kompleks kebutuhan pencahayaannya.

      Lapangan tenis, basket, stadion, pelabuhan, hingga area apron bandara membutuhkan pencahayaan dengan tingkat keluaran cahaya tinggi serta distribusi cahaya yang sangat terarah.

      Pada stadion, misalnya, pencahayaan harus memenuhi kebutuhan pemain sekaligus penonton dan kamera. Pada pelabuhan atau area logistik, cahaya harus menjangkau area luas tanpa membuang cahaya ke tempat yang tidak diperlukan.

      Karena itu, Signify memiliki berbagai floodlight profesional dengan optik yang dapat mengarahkan cahaya sesuai kebutuhan area.

      Yang juga menarik adalah kemampuan sistem pencahayaan untuk dikendalikan secara terpusat maupun terkoneksi. Pada fasilitas olahraga, tingkat pencahayaan dapat disesuaikan untuk latihan atau pertandingan. Pada area luas seperti infrastruktur dan fasilitas industri, pengelolaan cahaya dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan operasional.

      Sekali lagi, prinsipnya bukan membuat seluruh area selalu terang. Tetapi membuat cahaya bekerja ketika dan di mana ia dibutuhkan.

      Baca Juga: Solusi Kekinian Mendekorasi Ruang Tanpa Ribet Hanya dengan Lampu Pintar

      Di Masa Depan Lampu Justru Semakin Tidak Terlihat

      Dari fasad, taman, jalan, kantor, hotel hingga stadion, inovasi pencahayaan yang diperlihatkan Signify menunjukkan perubahan cara kita memandang lampu.

      Di masa depan, kecanggihan lampu mungkin justru tidak lagi terasa sebagai teknologi. Lampu menyala ketika dibutuhkan, meredup saat ruang kosong, menyesuaikan cahaya alami, atau mengikuti aktivitas sebuah tempat—sementara pengguna cukup merasakan ruang yang lebih nyaman.

      Lampu semakin jarang berdiri sendiri. Ia terhubung dengan sensor, sistem kontrol, data, arsitektur, bahkan sistem pengelolaan sebuah bangunan atau kota.

      Bagi pengguna, teknologi tersebut mungkin justru tidak terasa. Kita hanya merasakan jalan yang lebih nyaman, taman yang lebih aman, kantor yang lebih menyenangkan, hotel yang suasananya pas, atau stadion yang pencahayaannya sempurna.

      Dan mungkin memang di situlah masa depan pencahayaan berada. Teknologi bekerja di belakang layar, sementara manusia cukup merasakan manfaatnya.

      Baca Juga: Menguak Keajaiban Lampu Wiz, Fitur Pintar dan Jenis Produknya

      CATATAN RANAHRUMAH

      Dalam arsitektur dan interior, lampu sering dianggap sebagai elemen terakhir setelah ruang selesai dirancang. Padahal, pencahayaan seharusnya ikut dipikirkan sejak awal karena ia dapat mengubah cara kita melihat sekaligus menggunakan ruang.

      Teknologi membuat kemungkinan itu semakin luas. Bukan berarti semua ruang membutuhkan lampu pintar atau sistem yang kompleks, tetapi kita dapat mulai melihat pencahayaan sebagai bagian dari desain: apa yang ingin ditonjolkan, apa yang perlu diterangi, apa yang cukup dibiarkan lebih redup, dan bagaimana cahaya mendukung aktivitas manusia di dalamnya.

      (RR)

      Cek berita dan ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook Ranah Rumah, Instagram @ranahrumahcom.