Saturday, October 24, 2026
Home Blog Page 9

Ketika Rumah Harus Mengikuti Kehidupan, Bukan Sebaliknya

Ranahrumah.com – GAYA HIDUP | Rumah yang nyaman bukan selalu rumah dengan barang paling sedikit, melainkan rumah yang mampu memberi tempat bagi apa yang penting dalam kehidupan penghuninya. Karena hidup terus berubah, ruang dan perabot pun semestinya bisa mengikutinya.

Ada masa ketika kamar tidur anak hanya berisi tempat tidur dan beberapa mainan. Beberapa tahun kemudian, kamar yang sama berubah menjadi tempat belajar, bermain, menyimpan koleksi, bahkan ruang untuk menekuni hobi.

Begitu pula kamar orang dewasa. Lemari yang dulu terasa cukup, perlahan dipenuhi pakaian, tas, aksesori, buku, dan berbagai benda pribadi. Bukan karena penghuni rumah tiba-tiba tidak pandai merapikan, tetapi karena kehidupan memang terus bertambah dan berubah.

Di sinilah kita sering berhadapan dengan satu persoalan yang tidak selalu disadari: apakah rumah dan perabot di dalamnya sudah mengikuti kehidupan kita, atau justru kita yang terus-menerus menyesuaikan diri dengan apa yang sudah ada di rumah?

Baca Juga: Rumah yang Bertumbuh Mengikuti Perubahan Kehidupan Penghuni

Ruang yang Berubah Seiring Kehidupan

Dalam pengamatan IKEA melalui IKEA Home Visit dan Life at Home, cara keluarga menggunakan ruang ternyata tidak selalu sama dengan fungsi yang sejak awal dibayangkan untuk ruang tersebut.

Kamar anak, misalnya. Pada sebagian keluarga, anak sudah memiliki kamar sendiri sejak sekitar usia lima tahun. Namun kamar itu belum tentu menjadi tempat tidur. Anak masih tidur bersama orang tua, sementara kamar miliknya digunakan untuk bermain, belajar, sekaligus menyimpan berbagai barang.

Artinya, sebuah ruang tidak selalu berhenti pada fungsi yang tertulis di denah rumah.

Ruang dapat berubah mengikuti usia, aktivitas, kebiasaan, bahkan perubahan kebutuhan keluarga.

Hal serupa terjadi di ruang tidur orang dewasa. Area di sekitar tempat tidur atau lemari bisa menjadi tempat menumpuk pakaian, tas, buku, dan berbagai barang pribadi ketika tidak tersedia tempat penyimpanan yang sesuai.

Sering kali kita kemudian menyalahkan barang.

Padahal, persoalannya bisa jadi bukan semata-mata terlalu banyak barang, melainkan tidak tersedianya sistem penyimpanan yang mengikuti cara penghuni menggunakan barang-barang tersebut.

Bukan Harus Lebih Sedikit Barang

Ada anggapan bahwa rumah yang nyaman adalah rumah yang rapi dan memiliki sedikit barang. Padahal, kehidupan setiap keluarga tidak sesederhana itu.

Barang yang tersimpan di rumah bisa memiliki fungsi yang masih dibutuhkan, menyimpan kenangan, berkaitan dengan pekerjaan, hobi, atau menjadi bagian dari keseharian penghuninya.

Karena itu, mengurangi barang bukan selalu menjadi satu-satunya jawaban.

Yang lebih penting adalah membuat barang yang memang dibutuhkan memiliki tempat yang tepat—mudah ditemukan ketika diperlukan dan mudah dikembalikan setelah digunakan.

Perspektif inilah yang dibawa IKEA dalam melihat kebutuhan penyimpanan. Bagi IKEA, rumah yang baik bukan rumah yang memaksa penghuninya hidup dengan semakin sedikit barang, tetapi rumah yang membantu penghuninya menggunakan ruang dengan lebih baik.

Dengan cara pandang tersebut, penyimpanan bukan sekadar soal berapa banyak barang yang bisa masuk ke dalam lemari, melainkan bagaimana sistem penyimpanan tersebut sesuai dengan kebiasaan orang yang menggunakannya.

Baca Juga: Terlaris di IKEA: Lemari Pakaian dengan Sistem PAX, Kenali Yuk!

Perabot Seharusnya Mengikuti Kehidupan

Gagasan ini sebenarnya sederhana, tetapi sering terbalik dalam kehidupan sehari-hari.

Kita membeli lemari karena membutuhkan lemari. Kemudian barang-barang yang kita miliki dipaksa masuk ke dalam ukuran dan pembagian ruang lemari tersebut.

Padahal, seharusnya prosesnya bisa dimulai dari pertanyaan yang berbeda: apa saja yang kita simpan, bagaimana kita menggunakannya, dan seberapa sering kita membutuhkannya?

Dari sanalah kebutuhan perabot seharusnya ditentukan.

Pakaian yang sering digunakan mungkin membutuhkan ruang gantung yang mudah dijangkau. Barang kecil membutuhkan laci atau kompartemen agar tidak bercampur. Buku membutuhkan tempat yang berbeda dari aksesori atau perlengkapan rumah tangga.

Dengan kata lain, perabot yang baik bukan hanya yang terlihat menarik, tetapi yang bekerja sesuai dengan kehidupan penggunanya.

Prinsip tersebut juga membuat furnitur menjadi lebih relevan ketika kebutuhan berubah. Sistem penyimpanan seperti PAX, misalnya, memungkinkan kombinasi ruang gantung, rak, laci, dan aksesori disesuaikan dengan barang yang dimiliki. Pilihan penyimpanan seperti LASTARE juga dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan di rumah.

Bahkan ruang yang selama ini sering terabaikan—seperti area vertikal pada dinding atau ruang di bawah tempat tidur—dapat menjadi bagian dari strategi penyimpanan.

Bukan untuk memenuhi rumah dengan semakin banyak perabot, melainkan untuk menggunakan ruang yang sudah ada dengan lebih cerdas.

Rumah yang Nyaman Adalah Rumah yang Bisa Beradaptasi

Kenyamanan rumah pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh ukuran ruang, mahalnya furnitur, atau seberapa rapi tampilannya.

Rumah terasa nyaman ketika kehidupan di dalamnya dapat berlangsung tanpa terlalu banyak hambatan.

Anak bisa bermain tanpa harus terus membereskan barang agar ruang kembali seperti semula. Orang tua dapat menyimpan barang yang memang dibutuhkan tanpa membuat kamar terasa penuh. Barang sehari-hari dapat ditemukan tanpa harus membongkar seluruh isi lemari.

Dan ketika kehidupan berubah, rumah memiliki cukup keluwesan untuk ikut berubah.

Inilah yang membuat gagasan tentang rumah yang adaptif menjadi semakin penting. Sama seperti kehidupan keluarga yang bergerak dari satu fase ke fase berikutnya, ruang pun tidak seharusnya dianggap sebagai sesuatu yang selesai begitu furnitur ditempatkan.

Kebutuhan pasangan muda berbeda dengan keluarga yang memiliki anak kecil. Kebutuhan anak sekolah berbeda dengan remaja. Bahkan kebutuhan seseorang yang bekerja dari rumah dapat berubah ketika pola kerjanya berubah.

Karena itu, rumah yang nyaman bukan rumah yang selamanya tampak sama. Rumah yang nyaman adalah rumah yang mampu mengikuti penghuninya.

Baca Juga: Inspirasi Penyimpanan Tambahan yang Tak Butuh Banyak Ruang

Dari Cara Menyimpan, Menuju Kehidupan yang Lebih Baik

Percakapan IKEA Indonesia bersama Wonderwhy SEA melalui Clean Sleeper berangkat dari perhatian yang lebih luas terhadap kehidupan sehari-hari keluarga Asia Tenggara, termasuk kebiasaan beristirahat yang dipengaruhi lingkungan, aktivitas, tuntutan pekerjaan, kehidupan sosial, hingga penggunaan layar.

Di balik pembahasan tersebut terdapat satu benang merah: cara kita menggunakan rumah tidak bisa dipisahkan dari cara kita menjalani kehidupan.

Karena itu, ketika IKEA berbicara mengenai penyimpanan, persoalannya sebenarnya bukan hanya tentang lemari, rak, atau laci.

Ada upaya untuk memahami bagaimana orang menjalani hari, apa yang mereka simpan, bagaimana mereka menggunakan barang, dan apa yang membuat sebuah benda tetap memiliki tempat di rumah.

Pendekatan tersebut sejalan dengan visi IKEA untuk menciptakan kehidupan sehari-hari yang lebih baik bagi banyak orang. Bukan dengan menentukan seperti apa rumah yang ideal bagi semua orang, tetapi dengan menghadirkan solusi yang dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan penghuninya.

Sebab pada akhirnya, rumah bukanlah ruang yang harus kita taklukkan agar selalu rapi dan sesuai aturan. Rumah adalah tempat kehidupan berlangsung. Dan karena kehidupan terus berubah, rumah pun semestinya diberi kesempatan untuk ikut bertumbuh.

INSIGHT RANAHRUMAH

Rumah bukan sekadar tempat menyimpan barang, tetapi tempat kehidupan berlangsung. Karena itu, yang seharusnya mengikuti perubahan hidup adalah rumah dan perabotnya—bukan penghuninya.

(RR)

Cek berita atau ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom 

    Bantal yang Tepat Bukan Sekadar Empuk, Ini Cara Memilihnya agar Leher Tetap Nyaman Saat Tidur

    Ranahrumah.com – GAYA HIDUP | Bantal mungkin hanya benda kecil di atas tempat tidur. Namun, setiap malam kepala dan leher kita menghabiskan berjam-jam di atasnya. Karena itu, ketika bangun tidur leher terasa kaku atau pegal, bantal sebenarnya layak menjadi salah satu hal pertama yang diperiksa.

    “Kayaknya salah bantal”. Kalimat ini memang sering kita dengar. Tetapi, di balik ungkapan sederhana itu ada hal yang menarik: bantal yang tidak sesuai dengan tubuh dan posisi tidur bisa membuat kepala dan leher berada dalam posisi yang kurang nyaman selama tidur.

    Bantal, Benda Kecil yang Menopang Leher Semalaman

    Saat tidur, bantal menjadi penopang kepala sekaligus membantu mempertahankan posisi leher. Karena itu, memilih bantal seharusnya tidak hanya berdasarkan rasa empuk atau tidaknya ketika disentuh.

    Bantal yang terasa sangat empuk belum tentu paling nyaman untuk tubuh. Sebaliknya, bantal yang terasa lebih padat pun belum tentu cocok untuk semua orang.

    Yang dicari sebenarnya adalah dukungan yang sesuai dengan tubuh dan posisi tidur.

    Baca Juga: Inspirasi Rangka Tempat Tidur Adjustable Dilengkapi Storage

    Posisi Leher yang Perlu Dipertahankan Saat Tidur

    Ketika berdiri, tulang belakang dan leher berada dalam posisi alaminya. Saat berbaring, posisi tersebut berubah karena tubuh berada dalam bidang horizontal.

    Di sinilah bantal tidur berperan.

    Bantal yang terlalu tinggi dapat membuat kepala terdorong ke depan, sedangkan bantal yang terlalu rendah dapat membuat kepala terlalu menengadah. Dalam kedua kondisi tersebut, leher bisa berada dalam posisi yang kurang ideal selama berjam-jam.

    Posisi tidur juga ikut menentukan.

    Saat tidur telentang, bantal sebaiknya menopang kepala dan lekukan alami leher tanpa membuat dagu terlalu menunduk atau mendongak. Sementara ketika tidur menyamping, bantal perlu mengisi ruang antara kepala dan kasur agar leher tetap berada dalam posisi relatif lurus.

    Jadi, bantal yang tepat bukan berarti bantal yang paling empuk, melainkan bantal yang mampu memberikan dukungan sesuai posisi tubuh untuk memberikan kualitas tidur yang maksimal.

    Apakah Tidur Tanpa Bantal Lebih Baik?

    Belum tentu.

    Tidak semua orang membutuhkan bantal dengan karakter yang sama, tetapi menghilangkan bantal bukan otomatis membuat posisi leher menjadi netral.

    Kebutuhan penopang juga dipengaruhi oleh posisi tidur dan bentuk tubuh. Karena itu, yang lebih penting bukan apakah seseorang menggunakan bantal atau tidak, melainkan apakah posisi kepala dan leher terasa nyaman dan tidak tertekuk secara berlebihan.

    Selanjutnya: Bentuk Tubuh Ikut Menentukan Bantal yang Cocok (Halaman 2)

    Benarkah Atap Asbes Menyebabkan Kanker Paru? Kenali Bahayanya bagi Penghuni Rumah

    Ranahrumah.com – KESEHATAN | Ketika berbicara tentang atap asbes, sering muncul pertanyaan sederhana: apakah tinggal di rumah dengan atap asbes berarti penghuni berisiko terkena kanker paru?

    Jawabannya tidak sesederhana itu.

    Yang menjadi persoalan kesehatan bukan semata-mata keberadaan lembaran atap yang mengandung asbestos, tetapi paparan serat asbestos yang terlepas ke udara dan kemudian terhirup.

    World Health Organization (WHO) menyebut seluruh jenis asbestos dapat menyebabkan kanker paru, mesothelioma, kanker laring dan ovarium, serta asbestosis atau fibrosis paru. Paparan terjadi terutama melalui inhalasi serat asbestos di udara, termasuk dari material asbestos yang rapuh atau mudah melepaskan serat di dalam bangunan.

    Karena itu, kondisi material menjadi penting.

    Atap asbes yang masih utuh dan tidak terganggu memiliki kemungkinan pelepasan serat yang berbeda dibandingkan material yang rusak, lapuk, dipotong, dibor, dipecahkan, diamplas, atau dibongkar.

    Namun, bukan berarti asbestos dapat disebut aman. WHO menyatakan tidak terdapat tingkat paparan asbestos yang diketahui benar-benar aman, sehingga paparan perlu ditekan serendah mungkin.

    Baca Juga: Timbal di Rumah; Ancaman Sunyi dari Cat, Plastik, hingga Peralatan Masak

    Mengapa Serat Asbestos Berbahaya bagi Paru-paru?

    Asbestos merupakan kelompok mineral berserat. Ketika material yang mengandung asbestos terganggu, serat yang sangat kecil dapat terlepas ke udara.

    Serat tersebut dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan. Sebagian dapat menetap di jaringan paru dan dalam jangka panjang berkontribusi terhadap proses peradangan serta kerusakan jaringan yang berkaitan dengan penyakit akibat asbestos.

    Bukti ilmiahnya sudah sangat kuat. WHO menggolongkan asbestos sebagai karsinogen bagi manusia dan menyatakan seluruh jenis asbestos dapat menyebabkan kanker paru.

    International Agency for Research on Cancer (IARC) juga menempatkan seluruh jenis asbestos dalam Group 1, karsinogen bagi manusia.

    Yang perlu diperhatikan, dampak paparan asbestos tidak selalu muncul segera. Penyakit terkait asbestos memiliki masa laten yang panjang sehingga gangguan kesehatan dapat baru terdiagnosis bertahun-tahun setelah paparan terjadi.

    Baca Juga: Cat Mengelupas Bisa Jadi Ancaman Kesehatan yang Tak Terlihat

    Kapan Atap Asbes Lebih Berisiko?

    Salah satu hal penting yang perlu diketahui penghuni rumah adalah jangan mengganggu material asbes tanpa alasan dan tanpa prosedur yang tepat.

    Risiko pelepasan serat dapat meningkat ketika material:

    • rusak atau lapuk;
    • dipotong;
    • dibor;
    • diamplas;
    • dipecahkan;
    • dibongkar; atau
    • dikerjakan dengan cara yang menghasilkan debu.

    Karena itu, jika rumah masih menggunakan atap yang diduga mengandung asbestos dan kondisinya masih baik, tidak berarti penghuni harus panik atau langsung membongkarnya sendiri.

    Justru, pembongkaran sembarangan dapat menjadi persoalan baru karena aktivitas tersebut berpotensi melepaskan serat ke udara.

    Baca Juga: Fakta tentang Jamur di Rumah dan Cara Membasminya

    Selanjutnya: Indonesia Sudah Mengatur Pemakaian Asbes Sejak 1985 (Halaman 2)

    No Space, No Problem! Simak Trik untuk Memaksimalkan Setiap Sudut Rumah

    Ranahrumah.com – TIPS & TRIK | Satu meja bisa memiliki banyak peran, mulai dari menjadi area bekerja pada pagi hari, tempat makan pada sore hari, lalu beralih fungsi menjadi spot untuk menjalankan hobi di malam hari.

    Gambaran ini semakin dekat dengan keseharian generasi muda, baik yang tinggal di kamar kos, apartemen studio, maupun rumah dengan ruang terbatas. Saat berbagai aktivitas berlangsung di tempat yang sama, setiap sudut pun perlu ditata dengan lebih cermat agar tetap nyaman digunakan.

    Ukuran ruang yang compact tidak selalu membatasi kenyamanan maupun kreativitas. Sebaliknya, kondisi tersebut mendorong penghuninya untuk lebih selektif dalam memilih barang, mengatur alur aktivitas, serta memanfaatkan furnitur yang dapat menjalankan beberapa fungsi sekaligus. Penataan yang tepat bukan sekadar membuat ruangan terlihat lebih rapi, tetapi juga membantu menciptakan tempat tinggal yang benar-benar mendukung rutinitas sehari-hari.

    Bagi generasi muda, rumah juga menjadi bagian dari cara mengekspresikan diri. Pilihan warna, pencahayaan, koleksi pribadi, hingga benda-benda kecil yang memiliki nilai sentimental dapat membuat sebuah ruang terasa lebih hidup dan dekat dengan karakter pemiliknya. Inilah yang membuat konsep small space, big personality semakin relevan, dimana ruang boleh terbatas, tetapi fungsi, kenyamanan, dan identitasnya tetap bisa berkembang.

    Adi Rahardja, Senior Director of Business Development Shopee Indonesia mengungkapkan, “Generasi muda semakin memahami bahwa kenyamanan rumah tidak selalu ditentukan oleh luas ruangan. Mereka lebih cermat memilih produk yang sesuai dengan rutinitas, mudah digunakan untuk berbagai kebutuhan, dan tetap merepresentasikan selera pribadi. Melalui Shopee, kami ingin memudahkan pengguna menemukan beragam furnitur, perlengkapan rumah, solusi penyimpanan, dan dekorasi untuk mengoptimalkan ruang yang dimiliki. Puncak kampanye Shopee 8.8 Home & Living Sale menjadi momentum tepat untuk menjelajahi berbagai kebutuhan rumah sekaligus menikmati beragam penawaran menarik.

    Baca Juga: Rumah 25 M2 Pun Bisa Terasa Lega, Ini Rahasia Menata Apartemen Studio

    Empat Cara Menata Ruang Kecil Terasa Lebih Maksimal

    Memaksimalkan ruang tidak selalu harus dimulai dengan renovasi besar atau mengganti seluruh isi rumah. Perubahan sederhana, seperti memilih furnitur yang lebih adaptif, memanfaatkan area yang sebelumnya terabaikan, hingga mengatur ulang fungsi setiap sudut, dapat memberikan perbedaan yang terasa.

    Berikut empat cara ala Shopee yang bisa diterapkan untuk membuat ruang kecil terasa lebih nyaman, tertata, dan personal.

    Think Multifunctional: Pilih Furnitur yang Bisa Diajak Beradaptasi

    Untuk ruang yang digunakan sebagai tempat bekerja, makan, sekaligus beristirahat, pilih furnitur multifungsi yang dapat menjalankan lebih dari satu fungsi. Beberapa rekomendasi produk yang bisa digunakan untuk memaksimalkan ruangan seperti ini agar tetap praktis tanpa terasa sesak antara lain meja lipat, sofa bed, ottoman dengan kompartemen penyimpanan, bangku susun, hingga troli beroda.

    Atur furnitur mengikuti aktivitas yang paling sering kamu lakukan! Tempatkan meja lipat di dekat dinding agar mudah dibuka saat dibutuhkan, gunakan ottoman di ujung tempat tidur sebagai kursi sekaligus penyimpanan, dan pilih troli beroda agar dapat dipindahkan dari area kerja ke sudut kopi atau tempat menyimpan skincare.

    Baca Juga: Cara Memanfaatkan Ruang di Bawah Tangga Jadi Kamar Mandi yang Nyaman dan Menarik

    Look Up and Look Under: Maksimalkan Area yang Sering Terlewat

    Saat area lantai terbatas, manfaatkan ruang vertikal dan bagian rumah yang sering tidak terpakai. Rak ambalan, organizer belakang pintu, kotak penyimpanan bawah tempat tidur, serta rak tambahan di atas meja dapat membantu menambah kapasitas tanpa memenuhi ruangan.

    Susun barang berdasarkan frekuensi pemakaian. Letakkan kebutuhan harian pada rak setinggi mata agar mudah dijangkau, sementara barang musiman bisa disimpan di bagian atas lemari atau bawah tempat tidur. Gunakan kotak penyimpanan dengan bentuk dan ukuran seragam supaya tampilan lebih rapi, lalu beri label agar barang mudah ditemukan.

    Create Your Own Zones: Satu Ruang, Banyak Suasana

    Satu kamar tetap dapat memiliki area kerja, sudut bersantai, dan tempat beristirahat tanpa perlu membangun sekat permanen. Karpet kecil, rak terbuka, tirai ringan, hingga beberapa jenis lampu dapat digunakan untuk membentuk fungsi yang berbeda dalam satu ruangan.

    Tempatkan meja kerja dekat jendela atau sumber cahaya alami, lalu gunakan karpet untuk menandai area santai. Rak terbuka dapat diletakkan di antara tempat tidur dan meja sebagai pembatas visual tanpa membuat ruangan terasa tertutup. Lengkapi area produktif dengan cahaya yang lebih terang, kemudian gunakan lampu bernuansa hangat di dekat tempat tidur untuk menciptakan suasana yang lebih tenang saat beristirahat.

    Baca Juga: Inspirasi Kamar Mandi Modern Gentlemen Sanctuary Dion Wiyoko

    Add Your Personality: Buat Ruang Terasa “Kamu Banget”

    Sentuhan personal dapat hadir melalui produk yang sederhana, seperti poster, frame foto, cermin unik, tanaman kecil, sarung bantal bermotif, atau koleksi buku. Pilih elemen yang benar-benar merepresentasikan minat dan keseharian agar ruangan tidak terasa seperti menyalin satu referensi interior secara utuh.

    Tentukan satu area sebagai focal point, misalnya dinding di atas meja atau sisi kepala tempat tidur. Susun tiga sampai lima dekorasi dengan ukuran berbeda, lalu gunakan satu palet warna agar tetap menyatu. Hindari menyebarkan terlalu banyak aksen ke seluruh ruangan. Kamu cukup pilih beberapa benda utama agar karakter tetap terlihat tanpa membuat ruang terasa penuh.

    Ruang yang terasa nyaman tidak ditentukan oleh seberapa luas ukurannya, melainkan bagaimana setiap bagiannya disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter penghuninya. Dengan memilih furnitur yang fleksibel, memanfaatkan area penyimpanan secara cermat, membagi fungsi ruang dengan tepat, serta menambahkan sentuhan personal, sudut yang sebelumnya terasa terbatas dapat berubah menjadi area yang lebih rapi, nyaman, dan menyenangkan untuk digunakan sehari-hari. (RR)

    Cek ulasan inspiratif ranahnya rumah, produk terbaru, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom 

    Ecoverse di Nuanu Resmi Beroperasi, Ketika Hunian Dirancang untuk Menjadi Bagian dari Kota

    Ranahrumah.com – PROPERTI | 12 Agustus 2026 menjadi babak baru bagi Ecoverse di Nuanu Creative City, Bali. Setelah pembangunan rampung dan ditandai upacara adat Bali Melaspas, pengembangan hunian yang dikembangkan NPG ini resmi memasuki tahap operasional dan mulai menyambut pemilik, penghuni, maupun tamu untuk masa tinggal jangka pendek dan panjang.

    Namun, yang menarik dari Ecoverse bukan semata-mata bahwa sebuah proyek hunian telah selesai dibangun. Kehadirannya membawa gagasan tentang bagaimana sebuah kawasan hunian dapat bekerja lebih jauh—menghadirkan tempat tinggal sekaligus layanan, fasilitas, aktivitas, dan koneksi dengan lingkungan di sekitarnya.

    Ketika Hunian Menjadi Bagian dari Sebuah Kota

    Bayangkan tinggal di sebuah hunian yang tidak berhenti pada empat dinding. Dari tempat tinggal, kamu dapat bekerja, berolahraga, menikmati kuliner, mengikuti aktivitas budaya, bertemu orang lain, hingga mengakses berbagai fasilitas tanpa harus selalu meninggalkan kawasan.

    Inilah pendekatan yang dibawa Ecoverse melalui integrasinya dengan Nuanu Creative City. Hunian modern dipadukan dengan layanan hospitality yang dikelola secara profesional, sekaligus memberikan akses ke berbagai fasilitas dan aktivitas yang tersedia di dalam kawasan.

    Bagi Lev Kroll, CEO Nuanu Creative City, keberhasilan sebuah pengembangan pada akhirnya tidak hanya dapat dilihat dari masterplan atau tampilan fisiknya. Yang lebih penting adalah bagaimana kawasan tersebut berfungsi ketika orang benar-benar mulai tinggal di dalamnya.

    “Pada akhirnya, sebuah kota tidak dinilai dari bagaimana tampilannya di atas masterplan, tetapi dari seberapa baik kawasan tersebut berfungsi ketika orang mulai tinggal di dalamnya,” ujarnya.

    Karena itu, Ecoverse menjadi bagian penting dari perjalanan Nuanu menuju visi yang lebih besar: menciptakan lingkungan tempat orang tidak hanya tinggal, tetapi juga dapat menetap, berpartisipasi, membangun hubungan, dan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang terus berkembang.

    Gagasan inilah yang menarik. Sebab, sebuah kawasan baru benar-benar dapat disebut hidup ketika penghuninya tidak hanya menempati bangunan, tetapi mulai membentuk kehidupan di dalamnya.

    Baca Juga: Nuanu di Tahun 2027 Jadi Kota Kreatif Bertenaga Listrik Pertama di Bali

    Area kolam renang komunal Ecoverse Nuanu Bali.

    Eco-Friendly Luxury Living dalam 51 Unit Hunian

    Mengusung konsep eco-friendly luxury living, Ecoverse memadukan arsitektur kontemporer dengan prinsip keberlanjutan dan teknologi untuk mendukung kehidupan sehari-hari.

    Pengembangannya terdiri atas 51 unit hunian, dengan pilihan yang cukup beragam, yaitu 29 suite, 6 apartemen dengan pilihan satu dan dua kamar tidur, serta 16 townhouse dengan pilihan dua, tiga, dan empat kamar tidur.

    Seluruh unit diserahkan dalam kondisi fully furnished, sehingga pemilik maupun penghuni dapat langsung menggunakannya tanpa perlu memulai dari tahap melengkapi interior.

    Namun, konsep keberlanjutan Ecoverse tidak berhenti pada tampilan arsitektur. Di balik hunian terdapat sistem engineering dan utilitas terpusat, teknologi smart home, sistem pemanenan air hujan, pengolahan air limbah, penyaringan air minum, serta sistem pengelolaan dan daur ulang sampah yang terintegrasi.

    Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa luxury living yang ditawarkan Ecoverse tidak hanya diterjemahkan melalui tampilan atau fasilitas, tetapi juga melalui bagaimana sebuah hunian bekerja sehari-hari dengan lebih efisien.

    Bukan Sekadar Memiliki Hunian

    Ada perubahan menarik dalam cara sebuah properti diposisikan. Ketika pemilik membeli atau menyewa hunian di kawasan seperti Ecoverse, yang ditawarkan bukan hanya unit, tetapi juga ekosistem yang berada di sekelilingnya.

    Ecoverse menggunakan skema hak sewa selama 25 tahun, dengan jaminan struktur bangunan selama masa sewa serta hak prioritas yang dijamin untuk memperpanjang masa sewa selama 30 tahun berikutnya.

    Bagi pemilik, pilihan pemanfaatannya pun fleksibel. Unit dapat digunakan secara pribadi atau dimasukkan ke dalam program rental yang dikelola secara profesional oleh OXO Hospitality Management. Artinya, pemilik tidak harus menangani sendiri berbagai pekerjaan operasional ketika unit digunakan sebagai properti rental.

    Baca Juga: Nuanu Luncurkan Peluang Investasi Eksklusif untuk Komersial dan Residensial di Bali

    Ketika Hospitality Masuk ke Dalam Hunian

    Di sinilah peran OXO menjadi bagian penting dari konsep Ecoverse.

    OXO Hospitality Management menangani pemeliharaan properti, housekeeping, layanan penghuni, komunikasi dengan tamu, hingga pengelolaan masa tinggal jangka pendek maupun jangka panjang.

    Diana Akchurina, CEO OXO Hospitality Management, melihat kebutuhan tersebut sebagai sesuatu yang berbeda dari sekadar pengalaman menginap di hotel.

    Menurutnya, orang datang ke Bali dengan berbagai tujuan dan durasi tinggal—beberapa hari, satu minggu, bahkan satu bulan. Karena itu, Ecoverse dirancang untuk memberikan pengalaman tinggal yang lebih relevan dengan kebutuhan tersebut.

    “Perbedaannya terletak pada detail: bagaimana tamu disambut, seberapa cepat tim merespons, bagaimana setiap hunian dirawat, serta bagaimana ritual kebugaran dan layanan berstandar hotel tetap konsisten pada hari ke-30 seperti halnya pada hari pertama,” jelas Diana.

    Dengan pendekatan ini, batas antara hunian dan hospitality menjadi semakin cair. Sebuah rumah dapat memberikan privasi dan rasa memiliki, sementara layanan profesional membantu memastikan pengalaman tinggal tetap terkelola.

    Selanjutnya: Fasilitas yang Membuat Kawasan Lebih Mudah Dihuni (Halaman 2)

    Membangun Rumah Tanpa Konflik dengan Tetangga, Ini yang Perlu Dilakukan

    Ranahrumah.com – TIPS & TRIK | Membangun rumah di tengah permukiman bukan hanya urusan tukang, material, dan pekerjaan konstruksi. Ada tetangga yang tetap menjalani aktivitas sehari-hari di sekelilingnya. Sedikit perhatian sebelum pembangunan dimulai bisa membuat proses membangun rumah berjalan lebih nyaman, tanpa meninggalkan masalah dengan tetangga.

    Ada kalanya seseorang sudah lama menabung untuk membangun rumah impiannya. Ketika akhirnya pembangunan dimulai, yang dipikirkan biasanya adalah desain, biaya, jadwal pekerjaan, hingga memilih kontraktor.

    Padahal, ada satu hal lain yang tak kalah penting: tetangga di sekeliling lahan. Sebab, selama beberapa bulan rumah dibangun, kehidupan tetangga bisa ikut terdampak. Suara pekerjaan konstruksi terdengar setiap hari, debu mungkin masuk ke rumah, kendaraan proyek keluar-masuk, material datang dan pergi, bahkan akses jalan lingkungan bisa terganggu.

    Persoalan kecil yang tidak dikomunikasikan dengan baik bisa berkembang menjadi persoalan yang lebih besar. Hubungan yang sebelumnya baik pun bisa berubah hanya karena pembangunan rumah.

    Karena itu, sebelum tukang mulai bekerja dan material pertama datang, ada baiknya kita melihat pembangunan rumah bukan hanya sebagai proyek pribadi, tetapi juga sebagai kegiatan yang berlangsung di tengah lingkungan bersama.

    Mulai dengan Komunikasi, Bukan Sekadar Meminta Izin

    Memberi tahu tetangga sebelum pembangunan dimulai merupakan langkah sederhana yang sering kali justru paling berarti.

    Tidak harus menjadi pertemuan resmi. Sampaikan saja bahwa kita akan membangun rumah, perkiraan kapan pekerjaan dimulai, dan kira-kira berapa lama prosesnya. Bila ada pekerjaan yang berpotensi menimbulkan suara keras atau mengganggu akses, informasikan pula sejak awal.

    Dengan begitu, tetangga tidak merasa tiba-tiba berhadapan dengan aktivitas proyek di sebelah rumahnya.

    Selain tetangga yang berbatasan langsung, komunikasi dengan Ketua RT/RW setempat juga penting. Di lingkungan tertentu, ada aturan atau kebiasaan yang perlu diperhatikan ketika melakukan pembangunan.

    Yang perlu diingat, meminta izin bukan sekadar formalitas. Ini adalah bentuk penghargaan kepada orang-orang yang selama pembangunan akan hidup berdampingan dengan aktivitas proyek kita.

    Baca Juga: Solusi Membangun Rumah untuk Milenial sesuai Budget yang dimiliki

    Selanjutnya: Kenali Kondisi Rumah Tetangga sebelum Pembangunan (Halaman 2)

    Changhong Gandeng Rossa sebagai Brand Ambassador Baru

    0

    Ranahrumah.com – TREN | Changhong mengumumkan ikon pop Indonesia, Rossa (Sri Rossa Roslaina Handiyani), sebagai Brand Ambassador barunya. Kolaborasi ini menandai tonggak pencapaian lain dalam upaya Changhong untuk memperluas kehadiran mereknya secara global sekaligus memperkuat operasional lokalnya di Indonesia dan seluruh Asia Tenggara.

    Sebagai salah satu pasar konsumen terbesar di Asia Tenggara, Indonesia telah menjadi pasar strategis bagi Changhong, didorong oleh besarnya jumlah penduduk serta potensi pertumbuhannya dalam jangka panjang.

    Kemitraan dengan Rossa merupakan langkah lanjutan yang alami dari strategi lokalisasi merek perusahaan. Bersama-sama, Changhong dan Rossa akan menjangkau audiens lokal melalui berbagai kampanye yang mencerminkan budaya Indonesia, guna meningkatkan kesadaran merek serta membangun hubungan yang lebih erat dengan konsumen.

    Vaclav Lian, General Manager Changhong Indonesia, mengatakan: “Indonesia merupakan salah satu pasar internasional utama Changhong, dan kemitraan kami dengan Rossa mencerminkan komitmen jangka panjang kami terhadap konsumen lokal. Kami akan terus menghadirkan produk inovatif dan layanan andal yang menjadikan kehidupan sehari-hari di rumah lebih cerdas dan lebih menyenangkan.”

    Kemitraan dengan Rossa merupakan bagian dari strategi Changhong yang lebih luas untuk memperkuat kehadirannya di Asia Tenggara dan menjangkau generasi konsumen baru.

    Baca Juga: Sharp AIREST, AC Premium dengan Air Purifier Built-in dan Filter MERV 14

    Perluas Produk dan Layanan Purna Jual

    Bersamaan dengan kolaborasi ini, Changhong telah memperluas layanan purnajualnya di Indonesia dengan menghadirkan cakupan garansi tambahan untuk kategori produk utama—termasuk televisi, AC, kulkas, dan mesin cuci—yang didukung oleh layanan pelanggan 24 jam. Melalui inovasi berkelanjutan, Changhong menghadirkan produk yang lebih cerdas dan pengalaman yang lebih baik, sekaligus membangun hubungan yang lebih erat dengan konsumen lokal.

    Garansi yang ditingkatkan dan dukungan layanan yang diperluas mencerminkan keyakinan Changhong terhadap produk-produknya serta komitmen jangka panjang perusahaan terhadap pasar Indonesia. Ke depannya, Changhong Indonesia akan terus menyempurnakan produk dan layanannya demi memenuhi kebutuhan pelanggan yang terus berkembang, serta menghadirkan pengalaman hunian yang lebih cerdas dan andal bagi keluarga di seluruh Indonesia. (RR)

    Baca Juga: LG PuriCare AeroMini, Air Purifier Mini untuk Ruang hingga 27 M2

    Cek berita terbaru dari industri, produk baru, dan ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom 

        Run For Animals 2026: Saat Langkah Kaki Ikut Menjaga Elang Kamojang

        0

        Ranahrumah.com –  TREN | Bagi masyarakat urban, berolahraga bersama komunitas kini menjadi bagian dari gaya hidup. Namun, ketika aktivitas tersebut sekaligus membawa pesan tentang pelestarian satwa, sebuah kegiatan sederhana dapat memiliki makna yang lebih luas.

        Inilah yang ingin dibangun melalui Run For Animals 2026: mendekatkan konservasi kepada masyarakat melalui aktivitas yang akrab, menyenangkan, dan dapat dilakukan bersama.

        Membawa Konservasi Lebih Dekat dengan Masyarakat

        Run For Animals 2026 dirancang sebagai pertemuan antara gaya hidup aktif dan kepedulian terhadap lingkungan. Pesertanya pun beragam, mulai dari keluarga, komunitas lari, pecinta satwa, generasi muda hingga masyarakat urban.

        Rute yang melintasi kawasan TMII membuat kegiatan ini tidak hanya menjadi aktivitas olahraga, tetapi juga pengalaman yang mempertemukan peserta dengan pesan tentang pentingnya menjaga satwa liar Indonesia.

        Bagi JSN, pendekatan semacam ini penting agar konservasi tidak terasa sebagai isu yang jauh dari keseharian masyarakat.

        “Konservasi tidak lagi terasa jauh atau eksklusif,” ujar Direktur Operasional Jagat Satwa Nusantara, M. Fardhan Khan. Menurutnya, antusiasme 2.244 peserta menunjukkan bahwa kepedulian terhadap satwa dapat tumbuh ketika disampaikan melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

        Sebagai lembaga konservasi ex-situ, JSN juga melihat kegiatan seperti Run For Animals sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk memperluas partisipasi publik dalam pelestarian satwa.

        Baca Juga: Sharp Indonesia Ubah Langkah Pelari menjadi 600 Pohon untuk Dukung Konservasi Elang Jawa

        Elang Kamojang Mendapat Dukungan Nyata

        Pesan konservasi dalam Run For Animals tidak berhenti pada kampanye. Salah satu momen penting adalah penyerahan donasi dari Bale by BTN kepada Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK).

        Donasi tersebut diterima oleh Akbar Sumirto, S.Hut., Manajer dan Koordinator Program PKEK, didampingi Kepala BBKSDA Jawa Barat Dr. Haidir, S.Hut., M.Si. Hadir pula Kabid PKBSI drh. M. Piter Kombo dan Muhammad Meisa, Manajer Komunikasi Burung Indonesia.

        Dukungan ini memperlihatkan bagaimana sebuah kegiatan olahraga dapat menghasilkan dampak yang lebih konkret bagi upaya konservasi. Bagi peserta, pengalaman berlari menjadi bagian dari sebuah gerakan yang manfaatnya juga diarahkan kepada satwa.

        Regional Head Jakarta 1 BTN, Tiana Elma Hetty, mengatakan keterlibatan Bale by BTN merupakan bagian dari komitmen untuk mendukung program berkelanjutan yang memberikan dampak bagi masyarakat dan lingkungan.

        “Melalui Run For Animals, kami tidak hanya mengajak nasabah dan masyarakat untuk aktif bergerak, tapi juga mengambil bagian dalam isu konservasi yang nyata dampaknya,” ujarnya.

        Run For Animals 2026 hasil kolaborasi JSN, BTN, TMII, dan beberapa industri.

        Kolaborasi yang Menghubungkan Gaya Hidup dan Kepedulian

        Run For Animals 2026 menunjukkan bahwa isu lingkungan dapat dikemas melalui aktivitas yang relevan dengan keseharian generasi urban.

        Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Jagat Satwa Nusantara bersama BTN, Taman Mini Indonesia Indah, dan Dyandra Promosindo, dengan dukungan Deorex, Counterpain, Fitbreak, MBK, AQUA, dan Hydro Coco.

        Selain lari, peserta juga menikmati hiburan, doorprize, serta penampilan Moluccan Soul. Sejumlah figur publik dan KOL yang dikenal memiliki perhatian terhadap isu satwa dan lingkungan—Irfan Hakim, Alshad Ahmad, dan Daffa Wardhana—turut hadir memperluas jangkauan pesan konservasi, terutama kepada generasi muda.

        Kolaborasi lintas pihak seperti ini menjadi penting karena konservasi tidak dapat berjalan sendiri. Ketika komunitas, dunia usaha, lembaga konservasi, dan masyarakat bertemu dalam satu aktivitas, kepedulian terhadap satwa memiliki peluang untuk menjangkau lebih banyak orang.

        Baca Juga: Kontes Fotografi dan Lari oleh YKAN Kampanyekan Konservasi Alam

        Dari Satu Acara Menjadi Gerakan Berkelanjutan

        Lebih dari pencapaian 2.244 peserta, hal yang menarik dari Run For Animals 2026 adalah rencana menjadikannya sebagai agenda tahunan.

        Langkah tersebut membuka peluang agar olahraga tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi berkembang menjadi ruang pertemuan yang secara konsisten membawa pesan konservasi kepada masyarakat.

        Bagi generasi urban, pendekatan ini terasa relevan. Berolahraga, berkumpul bersama komunitas, menikmati hiburan, sekaligus berkontribusi pada isu lingkungan dapat dilakukan dalam satu pengalaman.

        Menjaga satwa memang membutuhkan langkah yang lebih panjang dari sekadar satu pagi berlari. Namun, seperti pesan yang dibawa Run For Animals 2026, kepedulian dapat dimulai dari langkah kecil—dan ketika dilakukan bersama, langkah tersebut dapat menjadi gerakan yang lebih besar untuk satwa Indonesia. (RR)

        Cek berita keberlanjutan dan ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom