Saturday, October 24, 2026
Home Blog Page 8

Standar Green Mark Mendorong Perkembangan Solusi HVAC, Midea Perkuat Kapabilitas Teknis Lokal di Singapura

Ranahrumah.com -TREN | Perkembangan standar bangunan hijau membuat sistem HVAC dituntut tak hanya semakin efisien, tetapi juga mampu memenuhi aspek keselamatan dan keberlanjutan.

Perubahan ini ikut mendorong berkembangnya solusi teknis HVAC yang disesuaikan dengan kebutuhan dan regulasi lokal.

Green Mark 2021 Mengubah Pertimbangan dalam Desain HVAC

Midea Building Technologies menggelar Seminar Apresiasi Konsultan & Kontraktor di METT Singapore, 25 Agustus 2026. Forum teknis ini mempertemukan konsultan mekanikal dan elektrikal, pengembang, serta operator pusat data untuk membahas perkembangan sistem HVAC di tengah tuntutan bangunan yang semakin hemat energi dan rendah karbon.

Salah satu pembahasan utama adalah penerapan Green Mark 2021 dan standar Super Low Energy (SLE) di Singapura. Green Mark 2021 sendiri merupakan skema sertifikasi bangunan hijau yang mendorong peningkatan kinerja energi sekaligus aspek keberlanjutan lain, seperti pengurangan karbon, maintainability, ketahanan bangunan, dan kesehatan penghuninya.

Penting untuk membedakan Green Mark dengan regulasi refrigeran. Green Mark tidak menetapkan satu jenis refrigeran tertentu seperti R32 atau R1234ze. Ketentuan mengenai batas Global Warming Potential (GWP) refrigeran diatur secara khusus oleh National Environment Agency (NEA), dan batasnya berbeda menurut jenis peralatan. Untuk AC split rumah tangga hingga kapasitas tertentu, misalnya, batas GWP ditetapkan 750. Sementara untuk water-cooled chiller berkapasitas 1.055 kW atau lebih yang digunakan untuk menghasilkan chilled water bagi sistem pendingin udara, batas GWP-nya jauh lebih rendah, yakni 15.

Keduanya bertemu pada tujuan yang sama: mendorong bangunan dan sistem pendingin yang semakin efisien serta lebih rendah dampaknya terhadap lingkungan. Karena itu, bagi perancang HVAC, pertimbangan desain tidak lagi berhenti pada kapasitas pendinginan, tetapi juga mencakup efisiensi energi, pilihan refrigeran, keselamatan, serta kebutuhan operasional bangunan.

Dalam kondisi ini, efisiensi sistem chilled-water tidak hanya ditentukan oleh satu perangkat. Performa water-side plant dan distribusi air-side perlu dirancang sebagai satu kesatuan untuk mencapai efisiensi sistem secara menyeluruh.

Baca Juga: Transformasi Industri HVAC di Indonesia: Tren, Inovasi, dan Tantangan

Refrigeran Rendah GWP, dari R32 hingga R1234ze

Perkembangan sistem HVAC yang lebih rendah karbon juga tidak terlepas dari perubahan penggunaan refrigeran. Namun, jenis refrigeran yang digunakan pada sistem pendingin bangunan berskala besar tidak selalu sama dengan yang digunakan pada AC rumah.

Di Singapura, misalnya, ketentuan mengenai batas Global Warming Potential (GWP) dibedakan berdasarkan jenis peralatan. Untuk AC split rumah tangga hingga kapasitas tertentu, refrigeran yang digunakan tidak boleh memiliki GWP lebih dari 750. Ketentuan ini membuat refrigeran seperti R32, yang memiliki GWP lebih rendah dibandingkan banyak refrigeran generasi sebelumnya, menjadi salah satu pilihan penting untuk AC ruang.

Sementara itu, tuntutan pada sistem chiller berkapasitas besar jauh lebih ketat. Untuk water-cooled chiller dengan kapasitas 1.055 kW atau lebih yang digunakan antara lain untuk menghasilkan chilled water bagi sistem pendingin udara, batas GWP refrigeran ditetapkan sebesar 15 sejak 1 Oktober 2022.

Karena itu, pada sistem HVAC skala bangunan, pilihan refrigeran dapat mengarah pada jenis dengan GWP yang jauh lebih rendah, seperti R1234ze(E). Refrigeran HFO ini memiliki GWP kurang dari 1 dan telah digunakan pada berbagai teknologi chiller, termasuk magnetic-bearing centrifugal chiller. Midea sendiri menawarkan teknologi chiller dengan R1234ze(E), termasuk untuk kebutuhan pendinginan pusat data.

Namun, rendahnya GWP bukan berarti aspek keselamatan dapat diabaikan. R1234ze(E) termasuk refrigeran kelas A2L, sehingga karakteristik mudah terbakar tingkat rendahnya perlu diperhitungkan dalam desain ruang mesin, termasuk sistem deteksi kebocoran, ventilasi, dan perlindungan kebakaran.

Dengan demikian, pemilihan refrigeran pada HVAC modern bukan sekadar persoalan memilih bahan dengan GWP rendah. Jenis peralatan, kapasitas sistem, efisiensi, karakteristik refrigeran, serta persyaratan keselamatan perlu dipertimbangkan sebagai satu kesatuan.

Baca Juga: Teknologi R32 dan Masa Depan AC Ramah Lingkungan

Teknologi Magnetic-Bearing untuk Meningkatkan Efisiensi Chiller

Untuk mendukung kebutuhan efisiensi tinggi, teknologi magnetic-bearing chiller menjadi salah satu solusi yang dibahas dalam seminar.

Midea menyoroti kombinasi motor sinkron magnet permanen, sistem direct-drive, dan bantalan magnetik yang memungkinkan rotor bekerja tanpa kontak mekanis. Teknologi ini juga memungkinkan sistem tetap menjaga posisi rotor ketika terjadi gangguan atau pemadaman listrik mendadak.

Keuntungan lainnya adalah sistem bebas oli. Tidak adanya oli pada kompresor mengurangi kebutuhan perawatan seperti penggantian oli, filter, dan pompa. Pada saat yang sama, tidak adanya migrasi oli ke heat exchanger membantu menjaga performa perpindahan panas dalam jangka panjang.

Bagi fasilitas dengan kebutuhan operasi kontinu seperti pusat data, efisiensi sekaligus keandalan ini menjadi semakin penting karena gangguan sistem pendinginan dapat berdampak langsung pada operasional fasilitas.

Baca Juga: Mengapa AC Tidak Menggunakan Filter HEPA? Mengenal Perbedaan HEPA dan MERV

Dari Eksportir Produk Menjadi Penyedia Solusi Teknis Lokal

Perubahan kebutuhan pasar juga mendorong Midea memperluas perannya di Singapura. Dalam seminar tersebut, Dr. Pan Heng, Manajer Proyek Global Switch, melihat adanya pergeseran Midea dari sekadar eksportir produk menjadi penyedia solusi teknis yang disesuaikan dengan standar dan kebutuhan lokal.

Kapabilitas tersebut terutama terlihat pada proyek pusat data, melalui integrasi pengendalian suhu, teknologi magnetic-bearing, liquid cooling, dan building management system (BMS), mulai dari factory acceptance test (FAT) hingga proses komisioning di lokasi.

Sementara itu, Toh Boo Hor, Direktur Senior Asia Infrastructure Solutions, menyoroti kebutuhan terhadap dukungan vendor yang andal seiring pertumbuhan permintaan pusat data. Dalam proyek dengan tuntutan operasi yang tinggi, dukungan teknis dan kolaborasi menjadi sama pentingnya dengan efisiensi peralatan.

Midea juga memperkuat dukungan lokal melalui ketersediaan suku cadang, tenaga lapangan bersertifikat, serta jajaran produk yang disesuaikan dengan kebutuhan bangunan di Singapura, termasuk seri VC Max dan platform VRF satu fase ATOM B.

Baca Juga: 6 Tolok Ukur Menilai Bangunan Hijau menurut GBCI

Baca Juga: Inspirasi Desain Rumah Hemat Energi yang Mengadaptasi Neo Modern yang Fungsional Tapi Tak Membosankan

Kompetisi Desain HVAC Hadir di Singapura

Selain membahas teknologi dan perkembangan regulasi, seminar ini menjadi momentum bagi Midea untuk memperkenalkan Kompetisi Desain HVAC kepada komunitas konsultan dan kontraktor Singapura.

Kompetisi yang pertama kali digelar pada 2002 dan diperluas menjadi kompetisi global pada 2021 ini mengusung tema Ensoul Buildings. Berbeda dari kompetisi desain yang semata-mata menilai gagasan konseptual, kategori Profesional dan Distributor dalam kompetisi ini mengedepankan proyek yang telah selesai, beroperasi secara stabil, dan memiliki data kinerja yang dapat diverifikasi.

Kompetisi juga bersifat netral terhadap merek. Proyek yang menggunakan peralatan dari produsen HVAC mana pun dapat berpartisipasi. Penilaian dilakukan oleh panel ahli independen, mulai dari tahap lokal hingga penjurian internasional.

Kehadiran kompetisi ini di Singapura melengkapi langkah Midea dalam membangun hubungan yang lebih dekat dengan komunitas desain dan teknik setempat. Bukan hanya sebagai pemasok peralatan HVAC, tetapi sebagai mitra yang terlibat dalam pengembangan solusi bangunan yang semakin efisien, aman, dan sesuai dengan tuntutan standar masa kini.

Baca Juga: Midea Kirim 5 Teknisi AC Tetbaik Nasional Mewakili Indonesia ke Midea Club ASEAN Flash Installation Tournament 2025 ke China

CATATAN RANAHRUMAH

Mendengar istilah refrigeran rendah GWP, pembaca mungkin langsung teringat R32 yang kini banyak digunakan pada AC rumah. Namun, refrigeran untuk AC ruang tidak selalu sama dengan yang digunakan pada sistem HVAC berskala bangunan.

R32 relevan untuk banyak sistem AC split dan aplikasi ruang, sementara R1234ze(E) dapat digunakan pada sistem chiller untuk kebutuhan pendinginan bangunan berskala besar, termasuk fasilitas dengan kebutuhan pendinginan tinggi seperti pusat data. Perbedaannya bukan semata-mata soal mana refrigeran yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga menyangkut jenis peralatan, kapasitas sistem, karakteristik refrigeran, efisiensi, dan persyaratan keselamatan.

Karena itu, perkembangan HVAC modern perlu dilihat sebagai sebuah sistem yang utuh. Pilihan refrigeran, teknologi pendingin, desain instalasi, hingga regulasi yang berlaku perlu berjalan bersama untuk mencapai bangunan yang lebih efisien dan rendah karbon.

(RR)

Cek berita terbaru dari Industri, ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom 

Reforestasi Batukaru, Menjaga Hutan dan Sumber Air Bali

Ranahrumah.com – GAYA HIDUP | Hutan di kawasan Batukaru bukan sekadar bentang hijau di lereng pegunungan. Kawasan ini memiliki peran penting sebagai daerah tangkapan air yang mendukung kehidupan masyarakat, pertanian, serta keberlangsungan berbagai aktivitas di wilayah Bali.

Karena itu, upaya reforestasi di kawasan ini tidak berhenti pada menanam pohon. Pemulihan tutupan vegetasi perlu dilihat sebagai proses jangka panjang untuk mengembalikan fungsi ekologis hutan, menjaga kemampuan tanah menyimpan air, sekaligus mengurangi risiko erosi yang dapat berdampak hingga wilayah pertanian di bagian hilir.

Mengapa Reforestasi Batukaru Penting?

Lereng Gunung Batukaru merupakan bagian dari salah satu kawasan tangkapan air penting di Bali. Kawasan ini menopang 20 sistem irigasi subak di wilayah Catur Angga Batukaru serta tujuh desa, yaitu Jatiluwih, Tengkudak, Penatahan, Tegalinggah, Rejasa, Sangketan, dan Wongaya Gede.

Hubungan antara hutan di dataran tinggi dan kehidupan masyarakat di bawahnya sangat erat. Ketika tutupan vegetasi berkurang, kemampuan tanah dalam menyimpan air ikut menurun. Struktur tanah juga menjadi lebih rentan terhadap erosi, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kawasan pertanian berundak dan sumber daya air yang digunakan masyarakat.

Dalam konteks yang lebih luas, menjaga kawasan hutan dan daerah tangkapan air merupakan bagian dari upaya mempertahankan ketahanan lingkungan. Hutan yang sehat membantu menjaga siklus air, tanah, dan keanekaragaman hayati—fungsi ekologis yang menjadi bagian penting dari keberlanjutan kehidupan dan pembangunan, tidak hanya di Bali tetapi juga dalam agenda pelestarian lingkungan di Indonesia.

“Reforestasi tidak cukup hanya dengan menghitung berapa banyak pohon yang ditanam. Yang lebih penting adalah memastikan kawasan kembali memiliki fungsi ekologis yang baik. Karena itu, arah, target, dan jangka waktu pemulihan harus ditentukan berdasarkan kondisi ekologis masing-masing kawasan, sehingga upaya yang dilakukan benar-benar memberikan dampak bagi lingkungan dan masyarakat,” ujar I Ketut Subandi, S.Hut., M.Si., Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Pemberdayaan Masyarakat, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali.

Baca Juga: 1.000 Pohon Lokal Ditanam di Nuanu Bali, Apa Manfaatnya bagi Lingkungan dan Pengunjung?

100 Pohon, Bukan Sekadar Penanaman

Program reforestasi ini berlangsung di kawasan hutan seluas 1.000 m² di sekitar Pura Luhur Batukaru. Tahap persiapan lahan telah dilakukan sejak pertengahan Agustus, sementara penanaman dijadwalkan berlangsung hingga 2 September 2026.

Sebanyak 100 pohon ditanam, terdiri atas 30 pohon beringin, 50 pohon mahoni, dan 20 pohon cempaka (Magnolia champaca).

Pemilihan jenis pohon dilakukan bersama Dinas Kehutanan Provinsi Bali dan tenaga teknis setempat dengan mempertimbangkan kondisi hutan dan tanah di Batukaru. Beringin juga memiliki nilai khusus dalam konteks kawasan pura di Bali, sehingga penanaman tidak hanya berkaitan dengan pemulihan ekologis, tetapi juga dengan karakter lanskap budaya di sekitarnya.

Yang menarik, program ini memberi perhatian pada tahap setelah pohon ditanam. Dukungan yang diberikan mencakup penyediaan bibit, penanaman, penyiraman, penggantian bibit yang tidak bertahan hidup, perlindungan area tanam, hingga pemantauan tingkat keberhasilan hidup pohon.

Tingkat keberhasilan hidup, pertumbuhan, dan pemeliharaan pohon akan dipantau selama 12 bulan. Hasil pemantauan tersebut akan dipublikasikan pada September 2027.

Pendekatan ini menjadi penting karena keberhasilan reforestasi tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah pohon yang masuk ke tanah, tetapi juga oleh kemampuannya untuk bertahan dan tumbuh dalam kondisi ekologis setempat.

Baca Juga: Peluang Investasi Eksklusif untuk Komersial dan Residensial di Bali

Masyarakat Menjadi Bagian dari Pemulihan Hutan

Reforestasi Batukaru juga melibatkan masyarakat yang selama ini memiliki hubungan langsung dengan kawasan hutan tersebut.

Pelaksanaan kegiatan dikoordinasikan bersama Jero Bendesa Adat, pengempon dan pengurus Pura Luhur Batukaru, serta pemerintah desa setempat. Masyarakat di kawasan Batukaru telah menjaga hutan secara lintas generasi dan akan dilibatkan dalam pemeliharaan, pemantauan, penyediaan tenaga kerja, hingga pengambilan keputusan dalam pelaksanaan program.

Keterlibatan ini memperlihatkan bahwa pemulihan hutan tidak hanya membutuhkan intervensi teknis, tetapi juga pengetahuan lokal dan keterlibatan mereka yang hidup berdampingan dengan lanskap tersebut.

“Reforestasi tidak selesai ketika pohon selesai ditanam. Justru sebagian besar kebutuhan pemeliharaan dan risikonya berada pada saat setelah penanaman,” ujar Auditya Sari, Head of Nuanu Social Fund.

“Karena itu, kami mendanai proses selama satu tahun dan akan mempublikasikan tingkat keberhasilan hidup pohon setelah 12 bulan, apapun hasilnya. Peran kami adalah mendukung agenda reforestasi yang dipimpin oleh Dinas Kehutanan Provinsi Bali, sekaligus menghormati pengetahuan dan pengalaman masyarakat yang telah menjaga lanskap ini jauh sebelum kami hadir di sini.”

Baca Juga: Nuanu di Tahun 2027 Jadi Kota Kreatif Bertenaga Listrik Pertama di Bali

Dukungan Sektor Pariwisata untuk Menjaga Sumber Air

Program reforestasi ini merupakan bagian dari agenda Dinas Kehutanan Provinsi Bali, dengan dukungan Nuanu Social Fund dan Bali Tourism Board sebagai mitra dari sektor pariwisata.

Bagi Bali Tourism Board, keterlibatan sektor pariwisata dalam menjaga kawasan tangkapan air memiliki hubungan langsung dengan keberlangsungan industri. Hotel, restoran, vila, dan berbagai aktivitas pariwisata membutuhkan air sebagai salah satu sumber daya utama.

“Setiap hotel, restoran, dan vila di pulau ini menggunakan air yang pada awalnya berasal dari curah hujan yang ditampung oleh kawasan lereng seperti Batukaru,” ujar Ida Bagus Agung Partha Adnyana, Chairman of the Bali Tourism Board.

“Industri pariwisata memiliki kepentingan langsung terhadap kemampuan kawasan tangkapan air ini untuk tetap berfungsi. Ini bukan sekadar kegiatan amal dari sektor pariwisata — ini merupakan bagian dari menjaga sumber daya yang menopang keberlangsungan usaha kita.”

Keterlibatan Bali Tourism Board sekaligus membuka peluang bagi pelaku industri pariwisata dan mitra sektor swasta lainnya untuk ikut mendukung agenda serupa. Dengan demikian, pelestarian lingkungan dapat ditempatkan sebagai bagian dari keberlanjutan industri, bukan hanya kegiatan sosial yang berdiri sendiri.

Dari 100 Pohon Menuju Model Kolaborasi

Penanaman 100 pohon di Batukaru menjadi langkah awal dari pendekatan kolaboratif yang mempertemukan pemerintah, masyarakat, sektor pariwisata, dan sektor swasta.

Yang menjadi perhatian bukan hanya berapa banyak pohon yang ditanam, tetapi bagaimana pohon-pohon tersebut dipelihara, dipantau, dan mampu tumbuh dalam jangka panjang. Publikasi hasil pemantauan setelah 12 bulan juga memberi gambaran yang lebih terukur mengenai keberhasilan program.

Bila pendekatan ini dapat diterapkan pada kawasan lain sesuai kebutuhan ekologisnya, kolaborasi serupa berpotensi memperluas dukungan terhadap program reforestasi yang dipimpin pemerintah.

Pada akhirnya, menjaga Batukaru berarti menjaga lebih dari sekadar hutan. Di dalamnya terdapat sumber air, lahan pertanian, kehidupan masyarakat, lanskap budaya, serta keberlanjutan berbagai aktivitas yang bergantung pada ekosistem tersebut.

Baca Juga: Lebih Dekat dengan Ecoverse di Nuanu Bali, Hunian yang Dirancang sebagai Bagian dari Kota

CATATAN RANAHRUMAH

Menanam pohon adalah awal, bukan akhir dari reforestasi. Keberhasilan pemulihan hutan justru sangat ditentukan oleh apa yang dilakukan setelah penanaman: apakah pohon mampu bertahan, tumbuh, dan kembali menjalankan fungsi ekologisnya.

Karena itu, keterlibatan pemerintah, masyarakat, dan industri menjadi penting. Pemerintah memiliki peran dalam menentukan kebutuhan ekologis kawasan, masyarakat membawa pengetahuan dan pengalaman menjaga lanskap, sementara sektor swasta dan industri dapat membantu menyediakan dukungan serta sumber daya untuk keberlanjutan program.

Reforestasi Batukaru memperlihatkan bahwa menjaga lingkungan dapat menjadi kepentingan bersama. Ketika hutan, sumber air, masyarakat, dan aktivitas ekonomi saling terhubung, merawat satu bagian berarti ikut menjaga keberlangsungan bagian lainnya.

(RR)

Cek berita atau ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook Ranah Rumah, Instagram @ranahrumahcom

LG di IFA 2026: Saat Hemat Energi Menjadi Standar Baru Peralatan Rumah Tangga

Ranahrumah.com – PRODUK | Bayangkan jika peralatan rumah tangga di rumah tidak hanya bekerja sesuai perintah, tetapi juga semakin mampu menyesuaikan cara kerjanya dengan kebiasaan penggunanya.

Mesin cuci mengoptimalkan penggunaan energi pada setiap tahap pencucian, kulkas membaca pola pemakaian untuk menghemat energi saat aktivitas rumah sedang rendah, sementara dishwasher dapat menyesuaikan siklus pencucian berdasarkan kondisi peralatan makan.

Arah seperti inilah yang akan dibawa LG Electronics ke IFA 2026, yang berlangsung 4–8 September di Messe Berlin, Jerman.

Melalui Energy Leadership Zone, LG menampilkan perkembangan teknologi home appliances yang tidak hanya mengejar performa, tetapi juga efisiensi energi. Menariknya, LG tidak lagi menempatkan teknologi tersebut hanya pada model-model flagship. Teknologi inti yang sebelumnya identik dengan produk premium kini diperluas ke lebih banyak jajaran produk.

Bagi penghuni rumah, langkah ini punya arti penting. Sebab semakin banyak perangkat yang digunakan setiap hari, semakin besar pula peluang penghematan energi jika masing-masing perangkat bekerja secara lebih efisien.

Baca Juga: Tujuh Inovasi Home Appliances LG di IFA 2026

Ketika Hemat Energi Tidak Lagi Berarti Mengurangi Performa

Selama ini, efisiensi energi sering kali dipahami secara sederhana: menggunakan listrik lebih sedikit. Namun, teknologi yang ditampilkan LG di IFA 2026 menunjukkan pendekatan yang lebih jauh.

Tantangannya bukan sekadar membuat perangkat mengonsumsi lebih sedikit energi, melainkan bagaimana mengoptimalkan energi tanpa mengurangi performanya.

Pada perangkat pencucian, misalnya, LG memanfaatkan teknologi seperti Direct Drive Motor dan kontrol inverter untuk mengatur kecepatan serta output motor secara lebih presisi sesuai tahapan pencucian.

Dengan cara ini, energi tidak digunakan secara berlebihan ketika tidak diperlukan.

Pada mesin pengering, pendekatan tersebut dilanjutkan melalui teknologi Dual Inverter Heat Pump™. Sistem ini mendaur ulang panas di dalam proses pengeringan sehingga kebutuhan energi dapat ditekan, sekaligus tetap mempertahankan kinerja pengeringan.

Bukan hanya teknologi yang menjadi perhatian. LG juga memperluas penerapan efisiensi energi tersebut ke produk yang lebih terjangkau.

Salah satunya adalah mesin pengering kategori mass-premium yang direncanakan meluncur di Eropa pada akhir 2026. Jika sebelumnya berada pada standar kelas B, model baru ini ditingkatkan hingga standar kelas A.

Artinya, teknologi hemat energi perlahan bergerak keluar dari kategori produk premium dan menjadi sesuatu yang dapat dinikmati lebih banyak rumah tangga.

Baca Juga: AI Home yang Semakin Memahami Penghuni Rumah

Mesin Cuci yang Menggunakan Energi Secara Lebih Cermat

Perangkat pencucian menjadi salah satu area yang paling menarik dalam Energy Leadership Zone LG.

Mesin cuci terbaru LG yang dipamerkan di IFA 2026 diklaim mampu melampaui persyaratan standar kelas A hingga 70 persen. Sementara itu, washer-dryer kombinasi memiliki siklus Washing Only dengan efisiensi hingga 30 persen di atas standar kelas A.

Untuk siklus lengkap Complete Wash and Dry, efisiensinya dapat mencapai hingga 10 persen di atas standar kelas A.

Yang menarik, pencapaian tersebut tidak hanya datang dari satu fitur.

Motor Direct Drive, kontrol inverter yang presisi, hingga pengaturan output motor bekerja sebagai satu sistem untuk menyesuaikan kebutuhan energi pada setiap tahapan pencucian.

Bagi kehidupan sehari-hari, pendekatan seperti ini penting karena mesin cuci merupakan perangkat yang digunakan secara rutin. Efisiensi yang terjadi berulang kali pada setiap siklus pada akhirnya dapat memberikan dampak terhadap konsumsi energi rumah tangga secara keseluruhan.

Baca Juga: LG WashTower untuk Kebutuhan Laundry Modern

Kulkas Mulai Belajar dari Kebiasaan Penggunanya

Jika mesin cuci bekerja berdasarkan siklus penggunaan, kulkas memiliki tantangan yang berbeda.

Perangkat ini bekerja hampir sepanjang hari sehingga efisiensi energi menjadi persoalan yang sangat relevan.

Di IFA 2026, LG menghadirkan sejumlah kulkas dengan efisiensi energi kelas A. Model Bottom-Freezer bahkan diklaim mampu melampaui standar kelas A hingga 35 persen, sementara model Side-by-Side dan French Door juga menawarkan performa kelas A.

Teknologinya tidak berhenti pada kompresor yang lebih efisien.

LG mengoptimalkan sistem pendinginan melalui kontrol temperatur yang lebih presisi, insulasi, penukar panas, serta motor untuk membantu mengurangi kehilangan energi.

Yang juga menarik adalah AI Saving Mode.

Sistem ini menganalisis data penggunaan selama tiga minggu untuk memahami pola aktivitas pengguna. Ketika aktivitas sedang rendah, sistem dapat menyesuaikan performa pendinginan sehingga energi tidak digunakan secara berlebihan.

Pendekatan ini memperlihatkan perubahan penting dalam teknologi rumah tangga.

Perangkat tidak lagi hanya menunggu perintah pengguna, tetapi mulai membaca pola penggunaan untuk menentukan cara kerja yang lebih efisien.

Baca Juga: Kulkas LG Bottom Freezer InstaView dengan Ice Maker Sudah Tersedia di Pasar Indonesia

Dishwasher yang Tidak Hanya Hemat Air, tetapi Juga Energi

Pada dishwasher, penghematan air ternyata berkaitan langsung dengan penghematan energi.

Semakin sedikit air yang perlu dipanaskan, semakin kecil pula energi yang dibutuhkan untuk menjalankan proses pencucian.

Karena itu, LG melakukan penyempurnaan pada unit penggerak sekaligus menggunakan Inverter Motor untuk membantu meningkatkan efisiensi. Hampir seluruh jajaran dishwasher terbaru LG bahkan telah mencapai peringkat energi kelas A.

Salah satu inovasi yang menarik adalah Hybrid Air Dry.

Teknologi ini meningkatkan sirkulasi udara untuk mempercepat proses pengeringan. Hasilnya, konsumsi energi dapat dihemat hingga 30 persen dibandingkan standar kelas A.

Sementara itu, fitur AI SenseClean™ membawa pendekatan yang lebih personal.

Alih-alih menjalankan pengaturan yang sama pada setiap pencucian, sistem dapat menyesuaikan siklus berdasarkan hingga 32 variabel. Suhu dan durasi pencucian, misalnya, dapat disesuaikan dengan kondisi peralatan makan yang dicuci.

Untuk penggunaan sehari-hari, teknologi seperti ini menunjukkan bahwa efisiensi tidak selalu berarti perangkat bekerja lebih sedikit. Justru, perangkat bekerja lebih tepat sesuai kebutuhan.

Dari Fitur Premium Menjadi Standar Baru Rumah Modern

Apa yang ditampilkan LG di IFA 2026 sebenarnya menggambarkan perubahan yang lebih besar dalam perkembangan peralatan rumah tangga.

Efisiensi energi semakin sulit dipandang sebagai fitur tambahan. Ketika rumah dipenuhi berbagai perangkat yang bekerja setiap hari, kemampuan setiap perangkat untuk menggunakan energi secara lebih cermat akan semakin penting.

Apalagi teknologi rumah masa depan bergerak menuju sistem yang lebih terhubung dan adaptif. Peralatan tidak hanya dituntut memiliki performa tinggi, tetapi juga mampu memahami konteks penggunaan, mengurangi pemborosan, dan bekerja lebih efisien tanpa terus-menerus membutuhkan intervensi manusia.

Inilah yang membuat perluasan teknologi hemat energi LG menjadi menarik.

LG tidak hanya membawa teknologi efisiensi energi pada produk unggulannya, tetapi berupaya menurunkan teknologi tersebut ke lebih banyak kategori dan segmen produk.

Dengan demikian, gaya hidup hemat energi tidak harus selalu berarti memilih lebih sedikit perangkat atau mengurangi penggunaannya. Pilihan lainnya adalah menggunakan perangkat yang sejak awal dirancang untuk bekerja lebih efisien.

Baca Juga: Mengapa Rumah Masa Kini Lebih Personal, Nyaman, Cerdas?

CATATAN RANAHRUMAH

Rumah yang lebih hemat energi pada akhirnya bukan hanya ditentukan oleh seberapa sering penghuni mematikan perangkat atau mengurangi pemakaian listrik. Teknologi pada perangkat itu sendiri semakin memiliki peran penting. Ketika mesin cuci, kulkas, pengering, hingga dishwasher mampu mengatur penggunaan energi secara lebih presisi dan adaptif, efisiensi dapat menjadi bagian dari cara perangkat bekerja sehari-hari—bukan sekadar kebiasaan tambahan bagi penghuninya.

Melalui Energy Leadership Zone di Hall 18, Messe Berlin, LG akan memperlihatkan portofolio home appliances hemat energi tersebut selama IFA 2026, 4–8 September.

Seperti disampaikan Baek Seung-tae, Presiden LG Home Appliance Solution Company, LG ingin menjadikan performa energi tinggi bukan lagi sekadar pilihan premium, tetapi standar yang semakin mudah dijangkau lebih banyak konsumen.

Dan mungkin, inilah salah satu gambaran rumah masa depan: bukan rumah yang menggunakan lebih sedikit teknologi, melainkan rumah yang memiliki teknologi yang semakin tahu bagaimana menggunakan energi dengan lebih bijak. (RR)

Cek berita inovasi produk terbaru, ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom 

Sharp Hydro Heroes: Berdayakan Ibu Muda di Bekasi lewat Pertanian Hidroponik

Ranahrumah.com – GAYA HIDUP [BEKASI] | Bagi seorang ibu, memiliki keterampilan yang bisa menghasilkan tambahan penghasilan tentu berarti. Namun, ketika keterampilan itu sekaligus membuatnya lebih memahami makanan yang baik untuk keluarga, manfaatnya menjadi jauh lebih luas.

Inilah yang ingin dibangun Sharp Indonesia melalui Sharp Hydro Heroes di Bekasi. Program pemberdayaan masyarakat ini mengajak 20 ibu muda di Bekasi Utara belajar bertani dengan metode hidroponik, sekaligus membekali mereka dengan pengetahuan tentang pengelolaan hasil panen, kewirausahaan, pemasaran digital, hingga pentingnya pola makan yang beragam bagi keluarga.

Bukan sekadar mengajarkan cara menanam sayuran, Sharp ingin menjadikan hidroponik sebagai pintu masuk bagi ibu untuk memiliki keterampilan produktif, peluang usaha, sekaligus pengetahuan yang bisa diterapkan langsung dalam kehidupan keluarga.

Baca Juga: Program Sharp Hydro Heroes Sebelumnya untuk Petani Muda

Dari Kebun Kecil, Tumbuh Peluang untuk Keluarga

Memiliki lahan terbatas bukan berarti tidak bisa menghasilkan pangan. Justru di sinilah hidroponik menjadi menarik.

Tidak membutuhkan tanah sebagai media tanam, hidroponik memungkinkan sayuran dibudidayakan pada lahan yang relatif terbatas dengan pengelolaan air dan nutrisi yang lebih terukur. Sistem ini juga dapat diterapkan di lingkungan perkotaan, sehingga kegiatan bertani tidak selalu membutuhkan lahan luas seperti pertanian konvensional.

Pertimbangan tersebut membuat hidroponik relevan untuk program pemberdayaan masyarakat di lingkungan seperti Bekasi. Lahan seluas 15 x 5 meter di area SAGA Life School, Kelurahan Teluk Pucung, Bekasi Utara, dimanfaatkan menjadi ruang belajar sekaligus area produksi tanaman.

Bagi para peserta, kebun ini bukan hanya tempat belajar menanam. Dari sini mereka diperkenalkan pada rangkaian proses yang lebih lengkap: mulai dari menanam dan merawat, memanen, mengolah hasil, menghitung biaya, mengenalkan produk, hingga memasarkannya.

Dengan begitu, sayuran yang tumbuh di lahan tersebut tidak berhenti sebagai hasil panen. Ia dapat berkembang menjadi peluang usaha yang bisa dikelola dari lingkungan rumah.

Ketika Keterampilan Bertani menjadi Bekal Ekonomi

Salah satu tujuan utama Sharp Hydro Heroes adalah membuka kesempatan bagi ibu muda untuk memiliki keterampilan produktif yang dapat mendukung ekonomi keluarga.

Para peserta akan mendapatkan pelatihan dasar pertanian dan hidroponik, teknik penanaman dan perawatan, pengelolaan serta pemanenan, hingga pengolahan hasil panen. Pengetahuan tersebut kemudian dilengkapi dengan dasar kewirausahaan, perhitungan sederhana biaya dan potensi usaha, branding, serta pemasaran melalui media sosial.

Pendekatan ini membuat program tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan sayuran. Para ibu juga belajar melihat hasil panen sebagai sebuah produk yang memiliki nilai ekonomi.

Media digital pun diperkenalkan sebagai bagian dari proses tersebut. Dari sana, peserta dapat belajar memperkenalkan hasil produksi, membangun pelanggan, sekaligus membuka kemungkinan pasar yang lebih luas.

Bagi ibu yang sehari-hari tetap menjalankan berbagai peran di rumah, keterampilan seperti ini memberikan peluang untuk mengembangkan kegiatan produktif tanpa harus selalu jauh dari lingkungan keluarga.

“Melalui Sharp Hydro Heroes, kami ingin hadir lebih dekat dengan kebutuhan keluarga di sekitar kami. Kami percaya pemberdayaan perempuan tidak hanya berbicara mengenai peningkatan ekonomi, tetapi juga mengenai bagaimana seorang ibu dapat menjadi penggerak perubahan di dalam keluarganya, termasuk dalam membangun kebiasaan makan yang lebih sehat bagi anak-anak,” ujar Shinji Teraoka, Presiden Direktur PT Sharp Electronics Indonesia.

Menurutnya, karena itu program ini tidak berhenti pada bagaimana menanam sayuran. Peserta juga dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola hasilnya menjadi peluang ekonomi sekaligus memahami pentingnya sayuran dan pola makan beragam bagi pertumbuhan keluarga.

Baca Juga: Panen Pertama Petani Muda Besutan Sharp Hydro Heroes

Bukan Hanya Menghasilkan Sayuran, tetapi Mengenalkan Pangan Sehat

Ada alasan lain mengapa ibu menjadi sasaran utama program ini.

Dalam kehidupan sehari-hari, ibu memiliki peran penting dalam banyak keputusan mengenai makanan yang tersedia dan dikonsumsi keluarga. Karena itu, pengetahuan tentang pangan bergizi dapat menjadi bagian penting dari upaya membangun kebiasaan makan sehat sejak dari rumah.

Sharp Hydro Heroes kemudian memperluas pembelajaran hidroponik dengan edukasi mengenai manfaat sayuran, pola makan yang lebih beragam, serta cara memperkenalkan sayuran kepada anak dengan pendekatan yang lebih menarik dan mudah diterapkan.

Harapannya, hasil program tidak hanya terlihat dari jumlah tanaman yang berhasil dipanen. Pengetahuan yang diperoleh para ibu dapat diteruskan ke meja makan keluarga.

Keluarga pun semakin mengenal pentingnya keberagaman pangan, sementara anak-anak memiliki kesempatan untuk lebih dekat dengan sayuran sebagai bagian dari makanan sehari-hari.

Persoalan ini menjadi relevan dengan kondisi gizi anak di Kota Bekasi. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang disampaikan dalam rilis Sharp menunjukkan prevalensi stunting di Kota Bekasi sebesar 11,7%. Pemerintah Kota Bekasi juga menempatkan penurunan prevalensi stunting sebagai salah satu indikator pembangunan daerah, dengan target prevalensi 8,50% pada 2026 dan terus menurun hingga 7,06% pada 2029.

“Dalam kehidupan sehari-hari, ibu memiliki peran penting dalam menentukan banyak keputusan yang berkaitan dengan makanan keluarga. Karena itu, ketika pengetahuan tentang pangan sehat hadir bersamaan dengan keterampilan produktif, manfaatnya dapat dirasakan dalam dua sisi sekaligus: ekonomi dan kesehatan keluarga.”

Ibu muda peserta Sharp Hydro Heroes memanen sayuran hasil hidroponik. (foto: Sharp Indonesia)

Ibu Muda sebagai Penggerak Perubahan dari Rumah

Sebanyak 20 peserta Sharp Hydro Heroes di Bekasi dipilih melalui proses seleksi berdasarkan domisili, kesiapan mengikuti rangkaian pelatihan, serta komitmen untuk mengembangkan keterampilan hidroponik dan menerapkannya bagi peningkatan ekonomi serta kesehatan keluarga.

Pemilihan ibu muda bukan sekadar karena mereka menjadi bagian penting dalam pengelolaan kebutuhan keluarga. Sharp juga ingin menempatkan mereka sebagai agent of change yang dapat membawa pengetahuan dari program ke lingkungan terdekatnya.

“Kaum perempuan, khususnya ibu muda, memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak perubahan. Ketika mereka mendapatkan akses terhadap pengetahuan, keterampilan dan peluang ekonomi, dampaknya dapat dirasakan tidak hanya oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh keluarga,” ungkap Pandu Setio, PR & Brand Communication Department Head, PT Sharp Electronics menyampaikan gagasan yang mendasari pendekatan program ini.

Lurah Teluk Pucung, Bekasi Utara, Ismail Marzuki, mengapresiasi pendekatan tersebut.

“Kami mengapresiasi Sharp Hydro Heroes sebagai bentuk kolaborasi nyata dalam memberdayakan kaum perempuan, meningkatkan ekonomi keluarga, sekaligus mendorong kesadaran akan pentingnya pangan bergizi bagi anak,” ungkap Ismail Marzuki.

Menurutnya, program tersebut juga sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Bekasi dalam mencegah stunting melalui keanekaragaman konsumsi sayur-mayur.

Belajar hidroponik sekaligus belajar membangun kemandirian.

Baca Juga: Mengenal Hidroponik dan Manfaatnya, Cara Mudah Panen Sayur dan Buah dari Rumah Sendiri

Sharp Hydro Heroes bukan Pertama Kali Dikembangkan Sharp

Program ini sebelumnya diperkenalkan di Karawang pada November 2024 dengan melibatkan 20 pemuda dan pemudi dari lingkungan sekitar perusahaan. Mereka mendapatkan pelatihan dasar pertanian, teknik hidroponik, pemasaran digital hingga kewirausahaan.

Panen perdana tanaman selada pada Januari 2025 menjadi pengalaman awal bahwa pertanian modern dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang dikelola masyarakat.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi dasar bagi Sharp untuk membawa pendekatan yang lebih dekat dengan kebutuhan keluarga ke Bekasi.

Kali ini, pemberdayaan tidak hanya diarahkan pada kemampuan menghasilkan produk pertanian, tetapi juga pada bagaimana hasil tersebut dapat memberikan manfaat bagi keluarga—baik sebagai sumber pangan maupun peluang ekonomi.

Dalam pelaksanaannya, Sharp menggandeng Benihbaik.com sebagai mitra yang mendukung penyediaan sumber daya, jaringan dan pendampingan program.

“Bagi kami, program pemberdayaan akan memiliki makna ketika pengetahuan yang diberikan dapat menjadi bekal untuk menciptakan perubahan nyata. Karena itu, kami tidak ingin Sharp Hydro Heroes berhenti pada tahap pelatihan, tetapi terus memberikan pendampingan agar para peserta dapat mengembangkan keterampilannya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi keluarga dan memiliki potensi untuk menjadi sumber penghasilan,” ujar Firdaus Juli, Chief of Strategic & Business Development, Benihbaik.com.

Hidroponik, Cara Sederhana Memanfaatkan Lahan Terbatas

Pilihan hidroponik dalam program ini pada akhirnya bukan tanpa alasan.

Di tengah lingkungan perkotaan, lahan produktif semakin terbatas. Hidroponik menawarkan cara untuk tetap bercocok tanam tanpa ketergantungan pada lahan tanah yang luas. Sistemnya juga memungkinkan penggunaan air dan nutrisi dikelola secara lebih terukur.

Bagi masyarakat yang baru mengenal pertanian, pendekatan ini dapat menjadi pengalaman belajar yang relatif mudah dikembangkan sesuai skala dan kondisi lingkungan.

Lebih dari itu, hidroponik memperlihatkan bahwa kegiatan bertani tidak harus selalu identik dengan lahan luas. Sebuah ruang terbatas pun dapat diubah menjadi tempat menghasilkan pangan, belajar keterampilan baru, sekaligus membangun kegiatan ekonomi.

Inilah yang membuat kebun Sharp Hydro Heroes di Bekasi memiliki makna lebih dari sekadar kebun komunitas.

Baca Juga: 5 Cara Menanam Ala Hidroponik di Rumah Mungil

CATATAN RANAHRUMAH

Yang menarik dari Sharp Hydro Heroes adalah bagaimana hidroponik ditempatkan sebagai jalan menuju kemandirian keluarga. Ibu tidak hanya belajar menanam sayuran, tetapi memperoleh keterampilan yang bisa berkembang menjadi peluang ekonomi sekaligus pengetahuan untuk menghadirkan pangan yang lebih sehat di rumah. Dari lahan yang terbatas, program ini mencoba menumbuhkan sesuatu yang lebih besar: ibu yang berdaya dan keluarga yang semakin mandiri.

Di sinilah peran industri menjadi penting. Dukungan perusahaan seperti Sharp dapat melengkapi upaya pemerintah dalam memberdayakan perempuan sekaligus membangun kesadaran kesehatan keluarga. Ketika pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan ekonomi diberikan secara berkelanjutan, sebuah program sosial tidak hanya membantu penerimanya hari ini, tetapi juga dapat ikut memperkuat keluarga dan lingkungan dalam jangka panjang.

(RR)

Cek berita atau ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook Ranah Rumah, Instagram @ranahrumahcom

Bukan Studio Musik, Ini Ruang yang “Danilla Banget”: Ketika Karakter Diterjemahkan Menjadi Ruang

Ranahrumah.com – INSPIRASI | Bagaimana rupa sebuah ruang yang benar-benar terasa seperti penghuninya?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak selalu bisa ditemukan dari warna kesukaan atau furnitur yang biasa digunakan. Sebab karakter seseorang juga hadir lewat kebiasaan-kebiasaan kecil: tempat ia merasa nyaman, cara bekerja, suasana yang membuatnya mudah berpikir, sampai hal-hal yang mungkin terlihat sepele tetapi selalu ada dalam kesehariannya.

Hal-hal semacam itulah yang coba dibaca IKEA Indonesia ketika berkolaborasi dengan Danilla untuk menghadirkan Ruang Candramawa.

Bukan membuat replika kamar atau studio musik Danilla, IKEA justru menggali lebih jauh bagaimana Danilla dan tim menjalani proses kreatif selama menggarap album Candramawa.

Hasilnya adalah sebuah room set berukuran sekitar 4 x 4 meter yang tidak terasa seperti studio musik konvensional. Ada area kerja, tempat duduk untuk berbincang, sofa untuk rebahan, coffee table yang bisa menjadi tempat bekerja, hingga berbagai elemen personal yang membuat ruang tersebut terasa dekat dengan sosok yang menginspirasinya.

Dan ketika Danilla pertama kali melihatnya, komentarnya sederhana: “Ini ruang ganteng banget.”

Baca Juga: Ruang yang Mengikuti Cara Penghuninya Hidup

Roomset Ruang Candramawa Danilla di IKEA Alam Sutera
Ruang Candramawa by IKEA yang dirancang mengikuti gaya hidup dan proses kreatif Danilla. (Foto: IKEA Indonesia)

Bukan Membuat Studio Danilla, tetapi Memahami Danilla

Bagi IKEA, kolaborasi ini merupakan pendekatan yang berbeda.

Mereka tidak datang dengan gambaran tentang seperti apa ruang seorang musisi seharusnya. Tidak pula menjadikan studio musik sebagai acuan utama.

Yang ingin dipahami adalah orang di balik karya tersebut.

Bagaimana Danilla bekerja bersama Lafa Pratomo dan Otta Tarrega? Apa yang mereka lakukan sebelum mulai membuat lagu? Bagaimana mereka berinteraksi ketika sedang mengembangkan musik? Di mana mereka merasa nyaman untuk fokus, berdiskusi, atau justru berhenti sejenak?

Dari percakapan dan pengamatan tersebut, IKEA menemukan bahwa proses kreatif mereka sangat fleksibel.

Ada waktu untuk bekerja serius, tetapi ada pula waktu untuk minum kopi, mengobrol, mendengarkan, mencoba sesuatu, lalu mengubahnya kembali.

Inspirasi pun tidak selalu muncul ketika mereka sedang berada di depan alat musik.

Bagi Danilla, inspirasi bisa datang secara random. Karena itu, ruang yang dibutuhkan bukan ruang yang hanya mendukung satu aktivitas. Ruang harus mampu merespons penggunanya.

Selanjutnya: Dari Cerita menjadi Mood Board (Halaman 2)

Ketika Ruang Mengikuti Cara Kita Hidup: Belajar dari Ruang Candramawa Danilla

Ranahrumah.com – INSPIRASI | Kita terbiasa memberi fungsi yang jelas pada setiap ruang di rumah. Kamar tidur untuk tidur, ruang kerja untuk bekerja, ruang tamu untuk menerima tamu, sementara meja makan menjadi tempat untuk makan.

Padahal, kehidupan sehari-hari tidak pernah sesederhana itu.

Kita bisa bekerja sambil duduk di sofa, membaca di tempat tidur, mencari ide sambil menyeruput kopi di coffee table, atau justru mendapatkan inspirasi ketika sedang tidak melakukan apa-apa.

Ruang Candramawa, hasil kolaborasi IKEA Indonesia dan Danilla, menunjukkan cara pandang yang berbeda. Alih-alih membuat ruang berdasarkan fungsi yang sudah ditentukan, IKEA terlebih dahulu memahami bagaimana Danilla dan tim menjalani proses kreatif di balik album Candramawa.

Dari sana muncul satu gagasan yang lebih luas: ruang seharusnya dirancang mengikuti gaya hidup penghuninya dan mendukung kehidupan penghuninya, bukan sebaliknya.

Baca Juga: Karakter Danilla yang Diterjemahkan ke Dalam Ruang

Ketika Kehidupan Penghuni Menjadi Titik Awal Desain

Dalam merancang Ruang Candramawa, IKEA tidak memulai dengan pertanyaan, “Seperti apa studio musik Danilla?”

Yang dicari justru adalah bagaimana Danilla dan dua produser yang bekerja bersamanya, Lafa Pratomo dan Otta Tarrega, menjalani proses menciptakan musik.

Proses kreatif mereka ternyata tidak berlangsung secara linear. Ada saat ketika mereka bekerja serius, mencoba bagian vokal atau instrumen, mendengarkan hasilnya, lalu saling memberikan respons. Ada pula waktu untuk berbincang, mencari ide, menikmati kopi, berhenti sejenak, bahkan sekadar membiarkan pikiran berjalan sendiri.

Kebiasaan-kebiasaan tersebut menjadi informasi penting bagi IKEA untuk memahami kebutuhan ruang mereka.

“Dari awal kami memang tidak ingin membuat replika kamar atau studionya Danilla. Kami ingin memahami bagaimana beliau dan teman-temannya menjalani proses pembuatan musik,” ujar Alfinda Krista Rahardyana, Interior Design Leader IKEA Indonesia.

Pendekatan ini membuat desain tidak lagi semata-mata dimulai dari ukuran ruang, jenis furnitur, atau fungsi yang sudah ditentukan sebelumnya.

Manusianya terlebih dahulu yang dipahami. Baru setelah itu ruang dirancang untuk merespons kehidupan yang akan berlangsung di dalamnya.

Baca Juga: Rumah Adaptif: Ketika Desain Rumah Disiapkan untuk Mengikuti Perubahan Hidup

Ruang Candramawa by IKEA dirancang multifungsi dengan area kerja yang fleksibel dan interior beruansa monokrom yang hangat, intimate dan tetap natural. (Foto: Erly/Ranahrumah.com)

Satu Ruang, Banyak Kemungkinan

Apa yang terjadi di ruang kreatif Danilla sebenarnya tidak jauh berbeda dari kehidupan banyak orang di rumah.

Kita mungkin memiliki meja kerja, tetapi tidak selalu bekerja di sana. Ada kalanya laptop justru dibawa ke meja makan atau coffee table. Sofa yang seharusnya menjadi tempat duduk bisa berubah menjadi tempat membaca, menonton, berbincang, bahkan sekadar rebahan sambil menunggu sebuah ide muncul.

Karena itu, ruang yang fleksibel bukan berarti harus memiliki furnitur yang semuanya bisa berubah bentuk.

Fleksibilitas juga bisa muncul dari cara kita memberi kemungkinan pada sebuah ruang.

Inilah yang diterjemahkan IKEA dalam Ruang Candramawa. Di dalam roomset berukuran sekitar 4 x 4 meter tersebut, terdapat area kerja yang menyerupai suasana studio, tetapi juga ada coffee table yang dapat digunakan untuk bekerja, sofa untuk beristirahat, serta area yang memungkinkan Danilla dan orang-orang terdekatnya duduk dan berbincang.

Laptop pun tidak harus selalu berada di meja kerja.

Dengan begitu, batas antara bekerja, beristirahat, mencari inspirasi, dan bersosialisasi menjadi lebih cair.

Baca Juga: Perabot Rumah yang Mengikuti Kebutuhan Penghuni

Ruang yang Tidak Membatasi Kreativitas

Bagi Danilla, ruang memiliki hubungan yang cukup personal dengan proses kreatif.

Ia menggambarkan ruang sebagai sesuatu yang bisa dikontrol. Ketika seseorang memiliki ruang untuk diam dan tenggelam sejenak dalam dirinya sendiri, ide justru bisa muncul dengan lebih bebas.

Karena inspirasi tidak selalu datang ketika seseorang sedang duduk di depan komputer atau alat musik. Bisa ketika sedang minum kopi. Bisa sambil rebahan. Bisa ketika sedang berbincang. Bahkan bisa ketika sedang bengong.

Maka ruang yang dibutuhkan bukan semata-mata ruang yang menyediakan semua peralatan untuk bekerja, tetapi ruang yang memberikan kemungkinan untuk berada dalam berbagai kondisi.

Tenang ketika ingin sendiri. Nyaman ketika ingin beristirahat. Terbuka ketika ingin berdiskusi. Dan, yang tidak kalah penting, tidak terasa terlalu mengatur.

Selanjutnya: Dari 4 x 4 Meter, Belajar tentang Ruang yang Fleksibel (Halaman 2)

Rumah Adaptif: Ketika Desain Rumah Disiapkan untuk Mengikuti Perubahan Hidup

Ranahrumah.com – INSPIRASI | Rumah tidak pernah benar-benar selesai ketika pembangunan berakhir. Kehidupan penghuninya akan terus berubah, dan rumah yang baik adalah rumah yang mampu berubah bersamanya.

Saat sebuah rumah selesai dibangun, biasanya kita merasa semua persoalan sudah terjawab. Jumlah kamar sudah ditentukan, ruang keluarga sudah memiliki tempatnya, dapur sudah dirancang sesuai kebutuhan, begitu pula furnitur yang mengisi setiap ruang.

Namun beberapa tahun kemudian, kehidupan bisa berubah.

Anak yang sebelumnya bermain di ruang keluarga mulai membutuhkan tempat belajar. Kamar anak yang dahulu cukup untuk satu tempat tidur mulai membutuhkan meja, rak buku, dan ruang untuk menyimpan lebih banyak barang. Salah satu anggota keluarga mungkin mulai bekerja dari rumah. Orang tua yang tinggal bersama keluarga membutuhkan ruang yang lebih mudah diakses.

Rumahnya mungkin tidak berubah. Tetapi kehidupan di dalamnya berubah.

Di sinilah gagasan tentang rumah adaptif menjadi penting.

Baca Juga: Rumah yang Mengikuti Fase Kehidupan Penghuninya

Rumah Tidak Harus Selamanya Sama

Selama ini, kita cenderung memandang rumah sebagai sesuatu yang selesai ketika desain rumah dan pembangunannya selesai.

Denah ditetapkan. Fungsi ruang ditentukan. Furnitur ditempatkan. Padahal, rumah sebenarnya adalah wadah bagi kehidupan yang bergerak.

Apa yang dibutuhkan keluarga ketika baru menikah belum tentu sama dengan ketika memiliki anak. Kebutuhan keluarga dengan anak balita akan berbeda ketika anak mulai sekolah, beranjak remaja, hingga akhirnya dewasa.

Bahkan dalam satu fase kehidupan yang sama, kebiasaan bisa berubah.

Bekerja dari rumah, misalnya, mungkin bukan bagian dari rencana ketika rumah dibangun. Namun ketika pekerjaan berubah, sebuah sudut ruang keluarga atau kamar yang sebelumnya jarang digunakan bisa tiba-tiba dibutuhkan sebagai ruang kerja.

Artinya, perubahan tidak selalu berarti rumah harus direnovasi besar-besaran.

Yang perlu dipikirkan sejak awal adalah seberapa mudah rumah merespons perubahan tersebut.

Apa yang Membuat Rumah Disebut Adaptif?

Rumah adaptif bukan berarti rumah yang selalu berubah bentuk atau memiliki furnitur yang bisa dilipat dan dipindahkan.

Lebih jauh dari itu, rumah adaptif adalah rumah yang memiliki keluwesan untuk mengikuti perubahan kebutuhan penghuninya.

Keluwesan tersebut dapat muncul dari banyak hal.

Denah yang memungkinkan satu ruang memiliki lebih dari satu kemungkinan fungsi. Sistem penyimpanan yang dapat ditambah atau diubah. Furnitur yang mudah dipindahkan. Bukaan dan pencahayaan yang mendukung berbagai aktivitas. Bahkan posisi pintu, jendela, titik listrik, serta jalur sirkulasi dapat dipikirkan agar rumah lebih mudah beradaptasi di kemudian hari.

Dengan pendekatan ini, desain tidak hanya menjawab pertanyaan, “Apa kebutuhan keluarga saat ini?”

Tetapi juga: “Apa yang mungkin dibutuhkan keluarga ketika kehidupannya berubah?”

Jangan Terlalu Cepat Mengunci Fungsi Ruang

Salah satu kunci rumah adaptif adalah tidak terlalu cepat menentukan bahwa sebuah ruang hanya boleh memiliki satu fungsi.

Kamar bukan hanya untuk tidur. Ruang keluarga tidak hanya untuk menonton televisi. Area dekat jendela tidak selalu harus menjadi sudut kosong.

Sebuah ruang dapat memiliki fungsi utama sekaligus kemungkinan fungsi lain yang muncul sesuai kebutuhan.

Kamar anak, misalnya, dapat dirancang dengan ruang penyimpanan yang bisa disesuaikan ketika kebutuhan anak berubah. Meja belajar dapat ditempatkan tanpa mengganggu sirkulasi. Ketika anak semakin besar, sebagian furnitur dapat diganti tanpa harus mengubah keseluruhan ruang.

Demikian pula ruang yang hari ini menjadi ruang bermain dapat suatu hari menjadi ruang belajar, ruang kerja, atau bahkan kamar tambahan.

Desain yang adaptif memberi kesempatan bagi ruang untuk memiliki masa depan.

Selanjutnya: Perabot Pun Perlu Dipilih dengan Cara Berbeda (Halaman 2)

LG Gandeng One Stop Electronics, Hadirkan Pengalaman Baru Mengenal WashTower

Ranahrumah.com – TREN | Mencuci pakaian mungkin menjadi rutinitas yang sama dari hari ke hari. Namun, perangkat yang digunakan untuk melakukannya terus berkembang.

LG WashTower menjadi salah satu contoh bagaimana mesin cuci dan pengering tidak lagi sekadar dipandang sebagai dua perangkat yang bekerja setelah pakaian kotor dimasukkan ke dalam mesin. Dengan konsep washer dan dryer yang ditumpuk secara vertikal, perangkat ini menawarkan cara baru dalam menata sekaligus menjalankan aktivitas laundry di rumah.

Gagasan inilah yang ingin lebih dikenalkan LG kepada konsumen melalui kolaborasi dengan mitra dealer.

PT LG Electronics Indonesia menggandeng One Stop Electronics, toko elektronik yang berada di kawasan Sunter, Jakarta Utara. Kolaborasi ini tidak hanya diarahkan untuk memperluas penjualan, tetapi juga memberikan akses yang lebih mudah bagi konsumen untuk melihat, mengenal, dan memahami berbagai inovasi yang dibawa LG WashTower.

“Lebih dari sekadar penjualan, kolaborasi ini menitikberatkan pada berbagai kegiatan dalam upaya perluasan komunikasi produk dari kanal informasi online maupun offline untuk meningkatkan pemahaman masyarakat pada solusi yang ditawarkan WashTower,” ujar Ha Sang-chul, President of LG Electronics Indonesia.

Langkah ini menjadi relevan mengingat WashTower merupakan perangkat premium dengan pengalaman penggunaan yang berbeda dari mesin cuci konvensional.

Bisa Melihat dan Merasakan Langsung di One Stop Electronics

Di toko One Stop Electronics, konsumen dapat melihat langsung LG WashTower melalui display khusus yang telah disiapkan LG.

Tak hanya satu model, rangkaian LG WashTower yang tersedia mencakup beberapa seri, mulai dari WT1410NHEG dan WT2117NHB hingga seri terbaru WT2520NHBA.

Seri terbaru tersebut membawa kapasitas yang lebih besar, yakni washer 25 kilogram dan dryer 20 kilogram, menjadikannya LG WashTower dengan kapasitas terbesar yang saat ini tersedia di Indonesia.

Kehadiran display ini menjadi bagian penting dari konsep kolaborasi. Sebab, untuk perangkat seperti WashTower, memahami manfaatnya akan terasa berbeda ketika konsumen dapat melihat langsung bentuk, posisi washer dan dryer, serta panel kendali yang berada di bagian tengah.

Center Control ini membuat pengoperasian washer dan dryer berada dalam satu panel dengan posisi yang lebih mudah dijangkau oleh pengguna dewasa.

“Kolaborasi ini menjadi kekuatan karena menggabungkan pemasaran offline dan online, sekaligus menghadirkan pengalaman yang lebih dekat bagi konsumen,” ujar Kim Nack Sun, Product Director Living HS of LG Electronics Indonesia.

Selain display produk, LG juga akan memberikan pelatihan khusus bagi tenaga promotor. Tujuannya agar konsumen yang datang tidak hanya mendapatkan informasi mengenai kapasitas atau desain, tetapi juga memahami teknologi yang bekerja di balik LG WashTower.

Baca Juga: LG WashTower sebagai Solusi Laundry Hemat Ruang

Dari Hemat Ruang hingga Teknologi AI

Salah satu hal yang membuat WashTower berbeda adalah konsep washer dan dryer dalam satu susunan vertikal.

Penempatan ini membuat penggunaan ruang menjadi lebih efisien dibandingkan menempatkan mesin cuci dan pengering secara berdampingan. Bagi rumah dengan ruang laundry terbatas, konsep vertical laundry seperti ini menawarkan solusi penataan yang lebih ringkas.

Namun, efisiensi ruang hanyalah salah satu bagian dari pengalaman yang ditawarkan.

LG WashTower juga membawa teknologi AI DD™ (Artificial Intelligence Direct Drive) yang dapat mendeteksi berat cucian sekaligus mengenali karakteristik kain untuk membantu menentukan pola gerakan drum yang sesuai.

Dengan demikian, proses pencucian tidak sekadar bekerja berdasarkan pengaturan manual, tetapi menyesuaikan gerakan mesin dengan kebutuhan pakaian.

Teknologi tersebut kemudian dipadukan dengan Smart Pairing™, yang memungkinkan pengaturan proses mencuci dan mengeringkan bekerja secara lebih terintegrasi. Pengguna tidak perlu memperlakukan washer dan dryer sebagai dua perangkat yang sepenuhnya terpisah.

Ada pula Steam™ untuk membantu menjaga kebersihan pakaian, TurboWash 360° yang menggunakan semprotan air dari berbagai arah untuk membantu mempersingkat proses pencucian, serta LG ThinQ™ yang memungkinkan pengguna memantau dan mengatur perangkat melalui smartphone.

Di bagian pengering, Dual Inverter Heat Pump memungkinkan proses pengeringan tanpa bergantung pada sinar matahari. Sementara fitur Prepare to Dry memungkinkan pengering mulai mempersiapkan proses pemanasan sebelum siklus pencucian selesai.

Semua teknologi tersebut pada akhirnya kembali pada satu tujuan: membuat perawatan pakaian menjadi lebih praktis dan sesuai dengan gaya hidup masa kini.

Baca Juga: Mengenal Teknologi LG WashTower: Solusi Praktis untuk Kebutuhan Cuci Modern

(Ka-Ki) Rangkaian LG WashTower yang tersedia di Indonesia mencakup beberapa seri, mulai dari WT1410NHEG (Washer 14 Kg dan Dryer 10 Kg) dan WT2117NHB (Washer 21 Kg dan Dryer 17 Kg), hingga seri terbaru WT2520NHBA (washer 25 Kg dan Washer 20 Kg). (Foto: Erly/Ranahrumah.com)

Bukan Lagi Perangkat yang Harus Disembunyikan

Ada hal lain yang membuat WashTower menarik dalam konteks hunian modern.

Dengan desain yang elegan dan modern, perangkat laundry kini tidak selalu harus ditempatkan di area yang tersembunyi. WashTower justru dapat menjadi bagian dari tampilan ruang, terutama pada hunian yang menerapkan konsep ruang terbuka atau area laundry yang terintegrasi dengan area lain di rumah.

Artinya, mesin cuci pun mulai mengalami perubahan posisi dalam kehidupan rumah tangga. Dari perangkat yang biasanya hanya dipandang sebagai alat kerja, menjadi bagian dari gaya hidup dan bahkan elemen yang dapat ditampilkan.

Bagi LG, perubahan cara pandang inilah yang menjadi bagian dari komunikasi WashTower sebagai perangkat premium.

“LG WashTower merupakan puncak teknologi perangkat perawatan pakaian menyeluruh yang tepat bagi masyarakat Indonesia dengan gaya hidup modern,” ujar Markus Gunawan, pemilik One Stop Electronics.

Edukasi Berlanjut dari Toko ke Dunia Digital

Kolaborasi LG dan One Stop Electronics tidak berhenti di dalam toko.

Selain materi komunikasi dalam bentuk gambar dan informasi produk, LG juga menyiapkan aktivitas melalui media sosial dan website. Salah satu yang menarik adalah rencana live streaming bersama influencer untuk mengulas berbagai keunggulan LG WashTower.

Dengan cara ini, konsumen yang belum sempat datang langsung ke toko tetap dapat memperoleh gambaran mengenai produk, teknologi, hingga pengalaman penggunaannya melalui kanal digital.

“Dukungan influencer dalam live streaming ini menjadi salah satu bentuk keseriusan kolaborasi dalam mengkomunikasikan berbagai keunggulan LG WashTower,” ujar Ratih Nadiah, Product Marketing Manager Living HS of LG Electronics Indonesia.

Langkah edukasi ini menjadi semakin penting karena secara global WashTower telah menunjukkan penerimaan yang kuat. Hingga Maret 2026, penjualan kumulatifnya telah mencapai lebih dari 3,2 juta unit di seluruh dunia sejak pertama kali diperkenalkan pada 2020.

WashTower juga telah hadir di 77 negara.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan konsumen terhadap perangkat laundry mulai bergerak melampaui sekadar fungsi mencuci. Ada kebutuhan terhadap perangkat yang lebih praktis, hemat ruang, terintegrasi, dan mampu memberikan pengalaman perawatan pakaian yang lebih sesuai dengan gaya hidup modern.

Baca Juga: Saat Laundry Tak Lagi Merepotkan: Alasan LG WashTower Jadi Pilihan Dunia

Memberi Kesempatan Konsumen Memahami Sebelum Memilih

Di Indonesia, LG WashTower ditempatkan sebagai produk premium. Karena itu, keputusan membeli bukan hanya soal melihat harga dan kapasitas, tetapi juga memahami apa yang sebenarnya ditawarkan oleh perangkat tersebut.

Kolaborasi dengan dealer menjadi salah satu cara LG membawa proses tersebut lebih dekat kepada konsumen.

Melalui demo produk di One Stop Electronics, konsumen dapat melihat langsung desain dan konsep WashTower. Sementara melalui kanal digital dan live streaming, informasi mengenai teknologi dan manfaatnya dapat menjangkau calon pengguna yang lebih luas.

Ke depan, konsep kolaborasi serupa juga direncanakan hadir di sejumlah kota lain di Indonesia, termasuk Jakarta, Makassar, dan Surabaya.

Pada akhirnya, pengalaman yang ingin dibangun bukan sekadar mengajak konsumen membeli mesin cuci baru. Lebih dari itu, LG ingin memperkenalkan bahwa aktivitas mencuci dan merawat pakaian pun dapat mengalami peningkatan level—lebih praktis, lebih terintegrasi, hemat ruang, sekaligus selaras dengan gaya hidup modern.

CATATAN RANAHRUMAH

WashTower menunjukkan bahwa inovasi pada perangkat rumah tangga tidak selalu harus hadir dalam bentuk teknologi yang semakin rumit. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut membuat rutinitas sehari-hari terasa lebih sederhana. Ketika washer dan dryer dapat bekerja dalam satu sistem, ruang menjadi lebih efisien, sementara AI membantu perangkat menyesuaikan perawatan dengan pakaian, aktivitas mencuci pun bergerak dari sekadar rutinitas menjadi pengalaman yang lebih praktis.

(RR)

Cek berita terbaru atau ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom