Thursday, June 25, 2026
Home Blog Page 11

Skuter Listrik Solusi Mobilitas Cerdas dari Xiaomi untuk Hadapi Kemacetan

Ranahrumah.com – GAYA HIDUP | Xiaomi Indonesia menghadirkan Xiaomi Electric Scooter 6 dan Xiaomi Electric Scooter 6 Lite, solusi mobilitas jarak dekat cerdas di tengah kemacetan urban yang kian menantang.

Dengan semangat ‘Live Right, Live Smart’, kehadiran lini skuter elektrik ini merupakan manifestasi Xiaomi dalam meningkatkan standar hidup masyarakat melalui teknologi transportasi yang praktis dan efisien.

Untuk memberikan kesempatan pertama bagi konsumen dalam merasakan pengalaman mobilitas premium ini, Xiaomi resmi membuka masa Pre-sale eksklusif mulai 13 – 20 April 2026.

“Kami melihat adanya celah besar dalam mobilitas jarak dekat di Indonesia. Kami ingin masyarakat tidak lagi merasa terbebani oleh kemacetan, melainkan menikmati perjalanan mereka sebagai bagian dari gaya hidup yang modern dan efisien,” ujar Andi Renreng, Marketing Director Xiaomi Indonesia.

Menjawab Tantangan Kemacetan Urban

Urgensi akan kendaraan mikro kian terasa jika melihat data Tom Tom Traffic, di mana rata-rata kecepatan kendaraan di Jakarta saat jam sibuk sore hari hanya mencapai 15,5 km/jam. Kondisi ini menyebabkan komuter kehilangan hingga 125 jam per tahun, setara dengan lebih dari 5 hari penuh, hanya untuk terjebak di tengah kemacetan.

Xiaomi Electric Scooter 6 Series menawarkan kecepatan yang lebih baik daripada berjalan kaki. Kepraktisan yang jauh mengungguli kendaraan bermotor, terutama saat digunakan untuk commuting atau mengombinasikan transportasi umum seperti bus maupun kereta.

Baca Juga: Beam Mobility Kurangi Penggunaan Kendaraan Pribadi dan Polusi

Xiaomi Electric Scooter 6: Performa Maksimal untuk Standar Hidup Lebih Tinggi

Skuter listrik cerdas Xiaomi Electric Scooter 6 hadir bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi dan kerap menghadapi rute yang menantang. Jawaban atas keraguan akan performa kendaraan listrik mikro.

Ditenagai oleh motor 400W dkuter cerdas ini mampu menyentuh daya puncak hingga 800W. Dapat menaklukkan tanjakan curam hingga sudut 18% seperti rampa parkir gedung perkantoran atau jalan bergelombang yang kerap menjadi hambatan di jalur perkotaan.

Penggunaan ban tubeless berukuran 12-inci yang dipadukan dengan sistem Dual-Spring Suspension secara efektif meredam guncangan saat melewati jalan berlubang atau permukaan paving block, sehingga tetap terasa nyaman meski berkendara cukup lama.

Dengan kapasitas baterai 360Wh mampu menempuh jarak hingga 45 km dalam sekali pengisian daya. Perlindungan keamanan ter ertifikasi EN17128 dan ketahanan air IPX5, menjadikan skuter ini mitra tangguh untuk mobilitas harian yang aman di berbagai kondisi cuaca.

Xiaomi Electric Scooter 6 dibanderol seharga Rp8.399.000. Setiap pemesanan pada periode Pre-sale akan mendapatkan bonus langsung REDMI Watch 5 Lite (senilai Rp769.000), free installment payment, hingga voucher potongan harga tambahan hingga Rp300.000 eksklusif hanya di Mi.com. Xiaomi Electric Scooter 6 akan langsung bisa anda dapatkan pada 21 April 2026!

Xiaomi Electric Scooter 6, desain ringkas mudah dijinjing dan disimpan.

Xiaomi Electric Scooter 6 Lite: Kepraktisan Luar Biasa untuk Komuter Cerdas

Xiaomi Electric Scooter 6 Lite dirancang dengan filosofi Portable Design yang revolusioner. Skuter ini hanya membutuhkan waktu 3 langkah mudah untuk dilipat, memudahkan pengguna menjinjing unit seberat 18kg ini masuk ke dalam gerbong MRT, LRT, maupun menyimpannya dengan rapi di ruang bagasi maupun di bawah meja kantor.

Meski hadir dalam desain yang lebih ringkas, varian Lite tetap menawarkan kecanggihan melalui Kinetic Energy Recovery System (KERS). Teknologi ini bekerja secara cerdas dengan memulihkan energi kinetik saat pengereman untuk dikonversi kembali menjadi daya baterai, sehingga setiap momentum berhenti di tengah keramaian justru membantu memperpanjang durasi perjalanan. Seluruh pengalaman berkendara ini terintegrasi penuh dalam ekosistem digital melalui Xiaomi Home App, memungkinkan pengguna memantau performa, kecepatan, sisa jarak, riwayat perjalanan, motor lock untuk penguncian scooter, info tekanan ban, hingga sisa baterai secara real-time, menjadikan gaya hidup kian praktis dan produktif.

Xiaomi Electric Scooter 6 Lite hadir dengan harga Rp6.699.000. Pembelian pada masa Pre-sale akan mendapatkan hadiah langsung Xiaomi Portable Electric Air Compressor 2 (senilai Rp619.000), free installment payment, hingga voucher potongan harga tambahan hingga Rp300.000 eksklusif hanya di Mi.com. Xiaomi Electric Scooter 6 Lite akan langsung bisa anda dapatkan pada 21 April 2026! (RR)

Baca Juga: Mengenal 5 Produk Pendukung Gaya Hidup Modern dari Xiaomi

Cek berita atau ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom 

    Building Tomorrow: Dari Ruang ke Dampak—Bagaimana Strategi Properti Membentuk Nilai dan Reputasi

    Ranahrumah.com – PROPERTI | Dalam beberapa tahun terakhir, cara kita menilai sebuah proyek properti mulai berubah.

    Ia tidak lagi cukup dinilai dari skala, lokasi, atau kemegahannya. Pertanyaan yang muncul menjadi lebih dalam: apa dampaknya? Apa yang ditinggalkan setelah ruang itu digunakan? Dan bagaimana ia berkontribusi terhadap kehidupan di sekitarnya?

    Perubahan ini bukan sekadar tren.

    Ia merupakan refleksi dari pergeseran yang lebih besar—bahwa properti hari ini tidak hanya membangun ruang, tetapi juga membangun nilai.

    Dalam konteks ini, pendekatan seperti building tomorrow menjadi menarik untuk dilihat lebih jauh.

    Bukan hanya sebagai visi desain, tetapi sebagai strategi yang memiliki implikasi luas—terhadap masyarakat, komunitas, hingga persepsi pasar.

    Pendekatan ini bekerja dalam lapisan yang saling terkait.

    Baca Juga: Ketika Keberlanjutan Menjadi Arah Baru Pengembangan Properti

    Ruang komunal di Antasari Place yang mendorong interaksi antar-penghuni. (Foto: Erly/Ranahrrumah.com)

    Dampak terhadap Masyarakat: Dari Ruang menjadi Kualitas Hidup

    Di tingkat paling dasar, pengembangan properti memengaruhi bagaimana manusia hidup sehari-hari.

    Ruang terbuka, akses terhadap fasilitas, hingga kualitas lingkungan secara langsung berkontribusi terhadap kesehatan fisik dan mental. Studi dalam bidang urban planning menunjukkan bahwa akses terhadap ruang hijau dan ruang sosial berkorelasi dengan peningkatan well-being dan interaksi sosial masyarakat.

    Dalam konteks ini, pendekatan yang mengintegrasikan elemen alam, ruang komunal, dan fungsi yang saling terhubung bukan hanya meningkatkan kenyamanan, tetapi juga kualitas hidup.

    Ruang tidak lagi netral.

    Ia menjadi faktor yang membentuk kesejahteraan.

    Desain menjadi kontektual yang menjadi pembeda utama dalam properti masa depan. (Foto: Erly/Ranahrumah.com Lokasi: Antasari Place)

    Dampak terhadap Komunitas: Menghidupkan Interaksi Sosial

    Di kota besar, tantangan terbesar bukan hanya kepadatan, tetapi keterputusan sosial.

    Hunian vertikal, mobilitas tinggi, dan gaya hidup cepat sering kali menciptakan jarak antarindividu. Dalam situasi ini, ruang memiliki peran penting sebagai penghubung.

    Proyek-proyek seperti Antasari Place dan 23 Paskal Shopping Center yang dikembangkan oleh Paradise Indonesia, menunjukkan bagaimana desain dapat mendorong interaksi—melalui ruang komunal, area terbuka, dan pengalaman yang mengundang orang untuk tinggal lebih lama.

    Pendekatan ini menciptakan apa yang sering disebut sebagai social infrastructure—ruang yang memungkinkan komunitas terbentuk secara organik.

    Dan dalam jangka panjang, komunitas yang kuat menjadi fondasi kota yang sehat.

    Baca Juga: Building Tomorrow: DNA dari Iconic Lifestyle Destination

    Antasari Place, kawasan properti modern dengan ruang publik dan hunian yang mendukung interaksi sosial dan keberlanjutan. (Foto: Paradise Indonesia)

    Dampak terhadap Kota: Efisiensi dan Keberlanjutan

    Dalam skala yang lebih luas, pendekatan mixed-use dan desain berkelanjutan memberikan kontribusi nyata terhadap efisiensi kota.

    Penggabungan fungsi dalam satu kawasan membantu mengurangi kebutuhan mobilitas jarak jauh—yang berarti pengurangan emisi, konsumsi energi, dan tekanan terhadap infrastruktur kota.

    Pendekatan seperti:

    • integrasi ruang hijau
    • efisiensi energi
    • pengelolaan air

    tidak hanya berdampak pada proyek itu sendiri, tetapi juga pada ekosistem kota secara keseluruhan.

    Di sinilah konsep ESG menjadi lebih dari sekadar kerangka kerja—ia menjadi bagian dari strategi pembangunan kota.

    Pusat perbelanjaan 23 Paskal Bandung
    Dalam kerangka Building Tomorrow, pusat perbelanjaan bukan hanya tempat transaksi, melainkan ruang interaksi dan rekreasi. (Foto: Paradise Indonesia)

    Dampak terhadap Industri: Pergeseran Standar Pengembangan Properti

    Ketika pendekatan seperti ini diterapkan secara konsisten oleh industri, khususnya dalam hal ini, Paradise Indonesia, dampaknya menjadi meluas.

    • Standar baru mulai terbentuk.
    • Pengalaman menjadi sama pentingnya dengan fungsi. Ini sesuai dengan pendekatan yang diperkenalkan oleh Jan Gehl (Arsitek dan Konsultan Desain Perkotaan) yang menekankan bahwa kota yang baik harus dirancang dari perspektif manusia—bagaimana ruang digunakan, dirasakan, dan dihidupi. Dalam konteks ini, pengalaman menjadi kunci. Ruang yang baik bukan hanya terlihat menarik, tetapi mampu menciptakan keterikatan emosional bagi penggunanya.
    • Keberlanjutan menjadi nilai tambah yang dicari, bukan sekadar kewajiban.
    • Dan desain yang kontekstual menjadi pembeda utama.

    Dalam situasi ini, pengembang tidak lagi hanya bersaing dalam skala proyek, tetapi dalam kualitas pengalaman dan relevansi jangka panjang.

    Seperti dituturkan oleh Anthony Prabowo Susilo, President Director & CEO Paradise Indonesia, dalam membangun, Paradise Indonesia menempatkan desain, pengalaman, dan keberlanjutan sebagai satu kesatuan.  

    Dalam kerangka Building Tomorrow, desain modern menjadi bentuk interpretasi dari komitmen untuk terus bergerak maju—tidak hanya secara visual, tetapi juga dalam cara ruang diciptakan dan dihidupi. Terus mengembangkan sektor mix use buildings dan lifestyle experience dengan penekanan pada desain berkelanjutan yang mengembangkan nilai-nilai ESG.

    Melalui pengembangan mixed-use, integrasi ruang terbuka hijau, serta pendekatan desain yang berpusat pada manusia, Paradise Indonesia berupaya menghadirkan ruang yang tidak hanya fungsional, tetapi juga relevan dengan gaya hidup urban yang terus berkembang.

    Di sini, keberlanjutan tidak berdiri sendiri sebagai konsep teknis, tetapi menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari—bagaimana seseorang tinggal, berinteraksi, dan merasakan lingkungannya.

    Fasad Antasari Place (Foto: Erly/Ranahrumah.com)

    Dampak terhadap Reputasi: Dari Developer menjadi Brand yang Dipercaya

    Pada akhirnya, seluruh dampak ini bermuara pada satu hal: reputasi.

    Bagi PT Indonesian Paradise Property Tbk, pendekatan building tomorrow tidak hanya membentuk proyek, tetapi juga persepsi.

    Di mata konsumen, ruang yang dirancang dengan baik menciptakan pengalaman yang berkesan—dan pengalaman membangun loyalitas.

    Di mata investor, pendekatan yang terstruktur, berkelanjutan, dan relevan dengan tren global menjadi indikator penting dari nilai jangka panjang.

    Dalam dunia investasi modern, aspek ESG bahkan semakin menjadi pertimbangan utama. Perusahaan yang mampu mengintegrasikan keberlanjutan dalam strategi bisnisnya cenderung memiliki daya tarik lebih tinggi, baik dari sisi risiko maupun peluang pertumbuhan.

    Nilai sebuah properti hari ini tidak lagi diukur dari apa yang dibangun, tetapi dari dampak yang dihasilkan.

    Dalam konteks ini, terlihat bahwa building tomorrow bukan sekadar visi internal.

    Ia menjadi bahasa yang dipahami oleh berbagai pihak:

    • oleh masyarakat, sebagai kualitas hidup
    • oleh komunitas, sebagai ruang interaksi
    • oleh kota, sebagai efisiensi
    • oleh industri, sebagai standar baru
    • oleh investor, sebagai indikator nilai

    Pada akhirnya, masa depan properti bukan hanya tentang menciptakan ruang yang lebih baik.

    Tetapi tentang menciptakan dampak yang lebih luas.

    Dan di situlah, strategi, desain, dan visi bertemu—membentuk tidak hanya bangunan, tetapi juga kepercayaan. (RR)

    Baca Juga: Ketika Ruang Menjadi Ekosistem Gaya Hidup Urban

    Cek berita keberlanjutan, ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook Ranah Rumah, Instagram @ranahrumahcom

      Timbal di Rumah: Ancaman Sunyi dari Cat, Plastik, hingga Peralatan Masak

      Ranahrumah.com – PRODUK [MATERIAL] | Timbal adalah logam berat yang sejak lama digunakan dalam berbagai industri karena sifatnya yang stabil dan tahan korosi.

      Namun di balik keunggulannya, tersimpan risiko besar bagi kesehatan.

      Menurut Prof. Yuni Krisyuningsih Krisnandi, Ahli Kimia dan Guru Besar Departemen Kimia FMIPA Universitas Indonesia, timbal tidak memiliki fungsi apa pun bagi tubuh manusia. Sebaliknya, zat ini justru dapat terakumulasi dan merusak berbagai organ penting.

      Baca Juga: Saatnya Memulai Gaya Hidup Sehat di Rumah, Ini Caranya!

      Bagaimana Timbal Masuk ke Tubuh?

      Timbal bisa masuk ke tubuh secara tidak sengaja melalui ingesti (tertelan) ataupun terhirup. Setelah itu, timbal akan diserap ke dalam aliran darah dan dapat terdistribusi ke berbagai organ, termasuk tulang, ginjal, dan sistem saraf.

      Paparan timbal bisa terjadi melalui:

      • Debu yang terhirup
      • Makanan atau tangan yang terkontaminasi
      • Partikel dari cat atau material yang rusak

      Yang berbahaya, paparan ini terjadi sedikit demi sedikit, tetapi terus menerus.

      Baca Juga: Cat Mengelupas Bisa Jadi Ancaman Kesehatan yang Tak Terlihat

      Dampak Kesehatan yang Serius

      Dampak paparan timbal paling serius terjadi pada anak-anak.

      Dokter spesialis anak, dr. Reza Fahlevi, menjelaskan bahwa paparan timbal—even dalam kadar rendah—dapat mengganggu perkembangan otak anak. Efek timbal bersifat jangka panjang:

      Pada anak-anak:

      • Gangguan perkembangan otak
      • Penurunan IQ
      • Masalah perilaku

      Pada orang dewasa:

      • Penyakit ginjal
      • Hipertensi
      • Gangguan jantung

      Pada ibu hamil:

      • Risiko keguguran
      • Kelahiran prematur
      • Berat bayi rendah

      Sumber Timbal di Rumah

      Adjie Negara, arsitek dan urban desainer dari KIND Architects, mengatakan, di dalam ruang kita menghabiskan hampir 90% waktu setiap hari—dan potensi paparan zat berbahaya bisa datang dari hal yang terlihat sepele. Salah satunya penggunaan material yang tidak aman.

      Padahal, terkait hal ini, ada 2 kriteria yang harus dipenuhi untuk tercapainya Rumah Sehat, yang mengacu pada ketentuan Green Building, yaitu pemakaian Sumber Daya Material dan Siklus/ Sumber Daya Material dan Siklus (MRC) Kesehatan dan Kenyamanan Dalam Ruangan/Indoor Health and Comfort (IHC)

      Beberapa sumber paparan zat berbahaya yang sering ditemukan di rumah:

      • Cat dekoratif lama
      • Debu dari bangunan tua
      • Plastik sekali pakai yang digunakan ulang
      • Peralatan masak rusak
      • Lingkungan sekitar yang terkontaminasi

      Baca Juga: Atasi Polusi Udara Mulai dari Rumah: Ini Dia 6 Pemivcu dan Sumbernya

      Baca Juga: 3 Aspek Utama Mewujudkan Rumah Sehat yang Nyaman dan Estetis

      Standar Aman yang Berlaku

      Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan batas aman kandungan timbal dalam cat di bawah 90 ppm.

      Di Indonesia, hal ini diatur dalam:

      SNI 8011:2014 yang mengatur tentang “Cat dekoratif berbasis pelarut organik” Standar ini menetapkan persyaratan mutu, pengambilan contoh, metode uji, penandaan, dan cara pengemasan untuk cat dekoratif berbasis pelarut organik.

      Salah satu batasan penting dalam standar ini (sesuai standar teknis terkait) adalah mengatur kandungan timbal dalam cat agar tidak melebihi ambang batas tertentu untuk keamanan konsumen.

      SNI 8011:2014 telah direvisi oleh SNI 8011:2022 yang diluncurkan pada Mei 2022 untuk memperbarui persyaratan mutu.

      Standar ini mengatur batas kandungan timbal pada cat dekoratif, meskipun penerapannya masih bersifat sukarela.

      Baca Juga: Kenali 5 Area Rawan Kecelakaan di Rumah

      Fakta yang Perlu Diwaspadai

      • 1 dari 7 anak di Indonesia memiliki kadar timbal tinggi dalam darah
      • 44,8% rumah masih menggunakan cat bertimbal (Studi Bank Dunia, 2023)

      Artinya, risiko ini nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

      Langkah Pencegahan

      Menurut dr. Reza Fahlevi, pencegahan terbaik adalah mengurangi paparan sejak awal.

      Langkah sederhana yang bisa dilakukan:

      • Gunakan material berlabel aman (lead-free)
      • Ganti cat lama yang rusak
      • Hindari penggunaan ulang plastik
      • Periksa peralatan rumah tangga secara rutin
      • Cukupi hidrasi untuk membantu proses detoks alami tubuh

      Timbal adalah ancaman yang tidak terlihat, tetapi dampaknya nyata.

      Kesadaran menjadi kunci.

      Karena rumah yang sehat bukan hanya tentang desain yang indah—tetapi juga tentang apa yang tidak terlihat di dalamnya. (RR)

      Baca Juga: Kenali Produk Peralatan Masak Anti Lengket: Cara Merawat agar Awet!

      Baca Juga: Mengenal Teknologi dalam Cat Tembok yang Bisa Menetralkan Udara Buruk di Rumah

      Cek berita dan ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook Ranah Rumah, Instagram @ranahrumahcom

      Cat Mengelupas di Rumah? Bisa Jadi Itu Ancaman yang Tak Terlihat

      Ranahrumah.com – KESEHATAN | Kita sering berpikir bahwa rumah adalah tempat paling aman. Padahal, tanpa disadari, justru di dalam ruang inilah kita menghabiskan hampir 90% waktu setiap hari—dan potensi paparan zat berbahaya bisa datang dari hal yang terlihat sepele.

      Salah satunya: material bangunan.

      Arsitek dan Urban Designer dari KIND Architects, Adjie Negara, mengingatkan bahwa ruang bukan sekadar tempat beraktivitas, tetapi juga fondasi kesehatan jangka panjang.

      Ia menekankan bahwa pembangunan dan renovasi saat ini seharusnya tidak hanya mengejar estetika, tetapi juga memastikan material yang digunakan aman bagi penghuni. Menurutnya, pemilihan material adalah bagian dari tanggung jawab profesional sekaligus upaya menciptakan lingkungan hidup yang lebih sehat dan berkelanjutan.

      “Setiap ruang yang dibangun harus mendukung kesehatan, bukan justru menjadi sumber risiko,” kurang lebih demikian pesan yang ia sampaikan dalam diskusi media yang diselenggarakan oleh Forum NGOBRAS di ABETO, Menteng, Jakarta (8/4).

      Bahaya yang Sering Tak Terlihat: Timbal

      Salah satu ancaman terbesar datang dari timbal (lead)—logam berat yang masih ditemukan pada berbagai material bangunan, terutama cat lama.

      Masalahnya, timbal tidak langsung terasa dampaknya.

      Apa itu timbal dan bahaya di rumah? Timbal (lead) merupakan unsur logam yang secara alami terdapat di lingkungan maupun material yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. “Timbal dikenal sebagai salah satu logam berat yang penggunaannya cukup luas di berbagai sektor industri karena sifatnya yang stabil, mudah dibentuk, dan tahan terhadap korosi,” ujar Prof. Dr. Yuni Krisyuningsih Krisnandi, M.Sc.

      Ahli Kimia dan Guru Besar Departemen Kimia FMIPA Universitas Indonesia ini pun lantas menjelaskan, bahwa timbal bisa masuk ke tubuh melalui udara atau tertelan, lalu terakumulasi di dalam tubuh dan merusak organ secara perlahan.

      Lebih lanjut dipaparkannya, Laporan Surveilans Nasional yang menemukan bahwa 1 dari 7 anak di Indonesia memiliki kadar timbal dalam darah di atas 5 µg/dL, berdasarkan pemantauan di enam provinsi, yaitu Sumatra Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Cat yang mengelupas merupakan salah satu faktor risiko paparan timbal di tingkat rumah tangga.

      “Cat sebenarnya tidak berbahaya. Namun, kadar timbal yang tinggi dapat meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang,” tambahnya.

      Prof. Yuni mengingatkan bahwa timbal bisa berubah menjadi partikel yang mudah terhirup, utamanya ketika cat mulai rusak atau mengelupas. Artinya, debu halus di rumah bisa menjadi sumber bahaya.

      Timbal bisa masuk ke tubuh secara tidak sengaja melalui ingesti (tertelan) ataupun terhirup. Setelah itu, timbal akan diserap ke dalam aliran darah dan dapat terdistribusi ke berbagai organ, termasuk tulang, ginjal, dan sistem saraf. Paparan timbal, bahkan dalam kadar rendah, dapat merusak berbagai sistem organ tubuh.

      Baca Juga: Mengenal Teknologi pada Cata Tembok yang Bisa Menetrakan Udara Buruk di Rumah

      (Ki-Ka) Dokter Reza Fahlevi, Prof. Dr. Yuni Krisyuningsih Krisnandi, M.Sc, dan arsitek Adjie Negara membahas penciptaan rumah sehat dengan pemilihan matreial aman bebas timbal dan zat berbahaya. (Foto: Erly/Ranahrumah.com)

      Anak-anak adalah Kelompok Paling Rentan

      Dampak paparan timbal paling serius terjadi pada anak-anak.

      Dokter spesialis anak, dr. Reza Fahlevi, menjelaskan bahwa paparan timbal—even dalam kadar rendah—dapat mengganggu perkembangan otak anak.

      Efeknya tidak main-main:

      • Penurunan kemampuan kognitif
      • Sulit fokus
      • Gangguan perilaku
      • Prestasi belajar menurun

      Pada orang dewasa, timbal berkaitan dengan penyakit ginjal, hipertensi, hingga gangguan jantung. Sementara pada ibu hamil, risiko bisa menjangkau janin karena timbal dapat menembus plasenta.

      Paparan timbal umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba dalam jumlah besar, melainkan secara bertahap dalam kadar kecil tapi berulang dari berbagai sumber di lingkungan sekitar. Misalnya dari debu rumah, serpihan cat lama, tanah yang terkontaminasi, atau material tertentu di lingkungan hunian dan fasilitas publik.

      “Karena sifatnya yang akumulatif, paparan jangka panjang meskipun dalam kadar rendah tetap dapat berdampak terhadap kesehatan tubuh,” imbuh dr. Reza.

      Bukan Hanya Cat Mengandung Timbal: Ini Sumber Lain di Rumah

      Yang sering tidak disadari, timbal tidak hanya ada di cat dinding.

      Beberapa sumber lain yang perlu diwaspadai:

      • Peralatan masak anti lengket berkualitas rendah yang sudah tergores
      • Plastik bekas kemasan yang digunakan ulang
      • Debu rumah dari material lama
      • Bahan pembersih tertentu yang mengandung zat kimia berbahaya

      Menurut Prof. Yuni, banyak bahan rumah tangga yang sebenarnya tidak dirancang untuk penggunaan jangka panjang, tetapi tetap digunakan berulang kali tanpa disadari risikonya.

      Memahami sumber paparan timbal di rumah menjadi langkah awal untuk melindungi keluarga dari risiko jangka panjang yang sering tak disadari.

      Baca Juga: Arti Kode Segitiga dan Angka pada Wadah Plastik: Mana yang Aman?

      Baca Juga: 5 Bahan Beracun Berbahaya di Rumah Penyebab Indoor Pollution yang Wajib Diwaspadai

      Rumah Sehat Tidak Harus Mewah

      Adjie Negara juga mengingatkan bahwa menciptakan rumah sehat tidak selalu soal luas atau mahalnya material.

      Hal sederhana justru sangat berpengaruh:

      • Tidak menumpuk barang
      • Memilih furnitur sesuai ruang
      • Menjaga ventilasi udara
      • Rutin memeriksa kondisi rumah

      Rumah kecil pun bisa tetap sehat selama dikelola dengan baik.

      Baca Juga: Amankah Menggunakan Furnitur Plastik di Kamar Anak?

      Gunakan Material Aman: Mulai dari Hal Sederhana

      Paparan timbal terjadi perlahan, dalam jangka panjang, dan sering tanpa gejala awal. Karena itu, langkah paling penting adalah pencegahan:

      • Gunakan cat bebas timbal
      • Periksa kondisi dinding secara berkala
      • Hindari penggunaan ulang plastik yang tidak aman
      • Ganti peralatan rumah tangga yang sudah rusak

      Seperti diingatkan para ahli, rumah seharusnya menjadi tempat pulang yang menenangkan—bukan sumber risiko yang tersembunyi. (RR)

      Baca Juga: Mengenal Warna Natrasit: Pilihan Populer untuk Desain Interior Rumah

      Baca Juga: Mengenal Semen Watershield: Cara Preventif Mencegah Kelembapan di Rumah

      Cek berita dan ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook Ranah Rumah, Instagram @ranahrumahcom

      Building Tomorrow: Ketika Ruang Menjadi Ekosistem Gaya Hidup Urban

      Ranahrumah.com – GAYA HIDUP | Pagi dimulai lebih cepat dari yang direncanakan. Kota bergerak dalam ritme yang padat—perjalanan, pekerjaan, interaksi sosial, semua saling bertumpuk dalam satu hari yang sama.

      Di kota, waktu bukan lagi sekadar berjalan. Ia dipadatkan.

      Fenomena ini tidak terjadi tanpa sebab. Data menunjukkan bahwa lebih dari 57% populasi Indonesia saat ini tinggal di kawasan urban, dan angka ini diproyeksikan akan terus meningkat hingga mendekati 70% pada tahun 2045, seiring dengan percepatan urbanisasi nasional.

      Angka ini bukan hanya statistik—ia mencerminkan perubahan besar dalam cara hidup masyarakat Indonesia.

      Semakin banyak orang tinggal di kota, semakin kompleks pula kebutuhan ruang yang harus dipenuhi.

      Dalam kondisi seperti ini, ruang tidak lagi cukup jika hanya menjalankan satu fungsi. Ia harus mampu merespons banyak hal sekaligus: efisiensi, konektivitas, dan kebutuhan manusia untuk tetap terhubung.

      Perubahan ini bukan kebetulan.

      Urbanisasi tidak hanya memindahkan manusia ke kota, tetapi juga mengubah cara hidupnya—dari pola yang terpisah menjadi saling tumpang tindih. Aktivitas bekerja, bersosialisasi, hingga beristirahat kini terjadi dalam satu ekosistem yang sama.

      Dalam konteks ini, ruang tidak lagi dirancang sebagai objek, tetapi sebagai sistem.

      Baca Juga: DNA dari Iconic Lifestyle Destination

      Kota Kreatif dan Ruang Sosial: Bandung sebagai Laboratorium Gaya Hidup Urban

      Di 23 Paskal Shopping Center, pendekatan ini menemukan bentuknya dalam konteks kota yang sangat sosial.

      Bandung merupakan bagian dari kawasan metropolitan yang terus berkembang, dengan tingkat urbanisasi yang tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh sektor pendidikan, pariwisata, dan industri kreatif. Kota ini dikenal sebagai salah satu pusat ekonomi kreatif di Indonesia, dengan populasi muda yang dominan dan gaya hidup yang dinamis.

      Karakter ini membentuk pola penggunaan ruang yang berbeda.

      Aktivitas tidak hanya terjadi di dalam ruang, tetapi juga di antaranya—di ruang terbuka, di tempat orang berhenti, berkumpul, dan berinteraksi tanpa rencana. Fenomena coworking space dan ruang komunal yang berkembang pesat di Bandung menjadi indikasi bahwa masyarakatnya membutuhkan ruang yang fleksibel dan sosial.

      Dalam konteks seperti ini, pusat perbelanjaan konvensional menjadi kurang relevan jika hanya berfungsi sebagai tempat transaksi.

      Pendekatan yang dilakukan oleh Paradise Indonesia di 23 Paskal justru bergerak ke arah yang berbeda.

      Alih-alih menjadi ruang tertutup, kawasan ini dibangun dengan pendekatan terbuka—mempertahankan vegetasi eksisting, menghadirkan vertical garden, dan menciptakan sirkulasi ruang yang mengalir. Konsep empat axis—Langit, Hejo, Cai, dan Ruhai—menghadirkan narasi lokal yang memperkuat keterikatan dengan konteks kota.

      Yang terjadi bukan sekadar aktivitas konsumsi. Yang terbentuk adalah ruang sosial.

      Dalam perspektif pemikiran Jan Gehl (Arsitek dan Konsultan Desain Perkotaan), kota yang hidup adalah kota yang memberi ruang bagi manusia untuk berjalan, berhenti, dan berinteraksi. Bandung, dengan karakter kolektif dan kreatifnya, membutuhkan ruang seperti ini—dan desain menjawabnya.

      Di titik ini, building tomorrow tidak hadir sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai respons terhadap karakter kota: terbuka, sosial, dan kolaboratif.

      Antasari Place – Kawasan hunian dan komersial terintegrasi dengan ruang hijau dan area komunal di lingkungan urban modern. (Foto: Erly/Ranahrumah.com)

      Hunian Urban dan Tantangan Individualisme: Membaca Jakarta Selatan

      Jika Bandung berbicara tentang ruang sosial, maka Jakarta—khususnya melalui Antasari Place—berbicara tentang kompleksitas hidup urban.

      Sebagai kota terbesar di Indonesia, Jakarta menghadapi tekanan urban yang jauh lebih intens. Kepadatan penduduk, mobilitas tinggi, dan ketergantungan pada kendaraan pribadi menciptakan tantangan serius dalam kualitas hidup masyarakatnya.

      Data menunjukkan bahwa kawasan metropolitan Jakarta (Jabodetabek) merupakan salah satu kawasan urban terbesar di Asia Tenggara, dengan jutaan perjalanan harian yang terjadi setiap hari. Waktu tempuh yang panjang menjadi bagian dari rutinitas, memengaruhi produktivitas sekaligus keseimbangan hidup.

      Desain memperluas pengalaman tinggal di Antasari Place ke ruang komunal yang membuka peluang interaksi sosial. (Foto: Erly/Ranahrumah.com)

      Di sinilah konsep mixed-use development menjadi relevan.

      Dengan mengintegrasikan fungsi hunian, komersial, dan fasilitas publik dalam satu kawasan, pendekatan ini terbukti mampu:

      • mengurangi kebutuhan mobilitas jarak jauh
      • meningkatkan efisiensi waktu
      • sekaligus membuka peluang interaksi sosial

      Namun di balik itu, Jakarta juga menghadirkan tantangan yang lebih halus: individualisme.

      Hunian vertikal modern sering kali menciptakan jarak sosial. Orang tinggal berdekatan, tetapi tidak benar-benar terhubung.

      Di sinilah pendekatan human-centered design di Antasari Place menjadi penting.

      Alih-alih hanya memaksimalkan unit sebagai ruang privat, desain justru memperluas pengalaman tinggal ke ruang komunal—lounge, area kerja bersama, fasilitas olahraga, hingga ruang terbuka hijau yang luas.

      Desain menjadi solusi permasalahan lingkungan di Antasari Place . Penggunaan kaca low-e untuk efisiensi energi. (Foto: Erly/Ranahrumah.com)

      Baca Juga: Ketika Keberlanjutan menjadi Arah Baru Pengembangan Properti

      Pendekatan ini bukan hanya soal desain, tetapi tentang perilaku. Bagaimana ruang bisa mendorong orang untuk kembali berinteraksi.

      Lebih jauh, pendekatan ini juga merespons tekanan lingkungan yang semakin nyata.

      Urbanisasi yang cepat berkontribusi terhadap meningkatnya konsumsi energi, berkurangnya ruang hijau, serta tekanan terhadap sistem air kota. Dalam konteks ini, desain tidak lagi bisa netral—ia harus menjadi bagian dari solusi.

      Dijelaskan oleh Indriani, GM Project, Planning, & Design Paradise Indonesia, di Antasari Place, respons tersebut diterjemahkan dalam strategi konkret:

      • lebih dari 70% area sebagai ruang terbuka hijau
      • penggunaan kaca low-e untuk efisiensi energi
      • sistem zero runoff untuk pengelolaan air hujan
      • optimalisasi ventilasi alami

      Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak lagi berdiri sebagai fitur tambahan, tetapi sebagai fondasi dalam perancangan.

      Masa depan kota tidak ditentukan oleh seberapa cepat ia tumbuh, tetapi oleh seberapa dalam ia memahami manusia dan lingkungannya.

      Building Tomorrow Bukan Formula yang Seragam

      Dari Bandung hingga Jakarta, terlihat satu pola yang konsisten.

      Bahwa setiap kota memiliki:

      • karakter yang berbeda
      • tantangan yang berbeda
      • dan kebutuhan ruang yang berbeda

      Dan di situlah pendekatan seperti building tomorrow menemukan relevansinya.

      Ia bukan formula yang seragam. Melainkan cara berpikir yang adaptif—membaca data, memahami perilaku, dan menerjemahkannya ke dalam ruang yang hidup.

      Pada akhirnya, kota bukan hanya kumpulan bangunan. Ia adalah jaringan pengalaman. Dan di dalam jaringan itulah, manusia hidup—bukan hanya berpindah, tetapi berinteraksi, merasa, dan membangun keseharian.

      Mungkin, masa depan kota memang tidak lagi tentang bagaimana kita membangun lebih banyak.Tetapi tentang bagaimana kita membangun dengan lebih memahami.

      Di sinilah komitmen Paradise Indonesia diwujudkan,mengembangkan destinasi gaya hidup dan properti ikonik di kota-kota terdepan di Indonesia. (RR)

      Cek berita keberlanjutan, ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook Ranah Rumah, Instagram @ranahrumahcom

      Building Tomorrow: DNA dari Iconic Lifestyle Destination

      Ranahrumah.com – ARSITEKTUR| Cahaya turun perlahan dari atas, menyusup di antara lapisan ruang yang terbuka. Di bawahnya, orang berjalan tanpa tergesa—sebagian berhenti, sebagian duduk, sebagian lain sekadar menikmati suasana.

      Tidak ada batas yang benar-benar terasa. Dalam dan luar saling menyatu, membentuk pengalaman yang mengalir.

      Di tempat seperti ini, orang tidak lagi sekadar datang untuk suatu tujuan. Mereka datang untuk berada.

      Dan mungkin, di situlah perubahan itu dimulai.

      Baca Juga: Ketika Keberlanjutan menjadi Arah Baru Pengembangan Properti

      Keterbukaan di Beachwalk Shopping Center

      Berjalan di dalam Beachwalk Shopping Center, pengalaman tersebut terasa sejak langkah pertama. Tidak ada lorong tertutup yang memanjang tanpa jeda. Tidak ada transisi yang kaku antara satu ruang dengan ruang lainnya.

      Sebaliknya, yang hadir adalah keterbukaan.

      Terletak di kawasan Kuta yang padat dan sangat turistik, proyek ini justru mengambil arah yang berbeda dari tipologi pusat belanja pada masanya. Ketika banyak mal dibangun sebagai ruang tertutup yang sepenuhnya bergantung pada pendingin udara, Beachwalk memilih untuk membuka diri—membiarkan angin laut, cahaya alami, dan lanskap tropis menjadi bagian dari pengalaman.

      Ruang-ruangnya dirancang sebagai open-air mall, dengan ventilasi alami yang memungkinkan pengunjung merasakan pergerakan udara tanpa batas. Atap dengan pendekatan arsitektur tradisional memberi perlindungan sekaligus identitas, sementara vegetasi hadir sebagai elemen yang menyatu, bukan sekadar pelengkap visual.

      “Kondisi ini sengaja diciptakan sehingga ketika orang datang mereka merasakan seperti sedang menikmati leisure atau berjalan-jalan,” ungkap Agoes Soelistyo Santoso, Komisaris Paradise Indonesia.

      Pendekatan ini menjadi kontras dengan generasi mal sebelumnya—yang cenderung seragam, tertutup, dan terlepas dari konteks lingkungannya. Di sini, berjalan bukan lagi sekadar berpindah dari satu tenant ke tenant lain, tetapi menjadi pengalaman yang berlapis.

      Sebuah perjalanan yang terasa lebih dekat dengan kota, bahkan dengan alam.

      Pendekatan terbuka ini tidak hanya menciptakan pengalaman yang lebih alami, tetapi juga secara tidak langsung mengurangi ketergantungan pada sistem mekanis seperti pendingin udara—sebuah langkah yang hari ini semakin relevan dalam konteks efisiensi energi dan keberlanjutan.

      Baca Juga: Inovasi dan Kreativitas Kunci Sukses Paradise Indonesia dalam Mengembangkan Properti

      HARRIS Kuta, hotel simpel, unik, dan friendly untuk menginap, tetapi untuk berkumpul, bekerja ringan, atau sekadar menghabiskan waktu. (Foto: Paradise Indonesia)

      HARRIS: Standar Baru Desain Hospitality

      Pendekatan serupa, dalam bentuk yang berbeda, juga muncul pada HARRIS Hotels.

      Jika Beachwalk mengubah cara orang merasakan ruang komersial, maka HARRIS menggeser cara orang memandang hotel.

      Pada awal 2000-an, hotel masih identik dengan formalitas. Sebuah ruang yang memiliki jarak—baik secara visual maupun sosial. Masuk ke hotel berarti memasuki dunia yang lebih kaku, lebih eksklusif, dan dalam banyak hal, tidak sepenuhnya terasa dekat.

      Hotel pada masa itu lebih berfungsi sebagai tempat singgah—efisien, tetapi sering kali terasa berjarak. Interaksi terjadi seperlunya, dan ruang-ruangnya tidak dirancang untuk ditinggali dalam arti yang lebih luas.

      Harris Hotel Kuta Bali
      HARRIS HOTEL Tuban-Bali, trendsetter hotel berkonsep simpel, unik, dan friendly. (Foto: DiscoverASR)

      HARRIS datang dengan pendekatan yang hampir berlawanan.

      Simpel, unik, dan friendly—tiga kata yang pada saat itu terasa tidak lazim untuk menggambarkan sebuah hotel. Namun justru di situlah letak pergeserannya. Hotel tidak lagi dibangun untuk menciptakan jarak, tetapi untuk membuka interaksi.

      “Proyek pertama kami adalah membangun hotel untuk kalangan anak muda yang saat itu belum memiliki pasar. Dari situlah HARRIS pertama di dunia lahir di Tuban, Bali,” ujar Agoes Soelistyo Santoso.

      Dengan cirikhas hotel berwarna orange, karyawan HARRIS saat itu tidak menggunakan formal dress, tidak memakai sepatu kulit dan diganti sneakers, dan bahkan karyawan wanita dilengkapi dengan aksesori rambut berupa bandana. Menjadi hotel yang benar-benar berbeda saat itu.

      Ruang-ruang komunal menjadi pusat aktivitas. Area duduk terasa lebih santai, lebih cair, dan lebih sosial. Orang tidak hanya datang untuk menginap, tetapi untuk berkumpul, bekerja ringan, atau sekadar menghabiskan waktu.

      Pendekatan ini, jika dilihat hari ini, terasa sangat relevan. Bahkan menjadi standar baru dalam banyak desain hospitality.

      Namun pada saat itu, ini adalah sebuah intuisi—sebuah keberanian membaca peluang yang belum terlihat, yang diwujudkan oleh PT Indonesian Paradise Property Tbk. sebagai pengembang HARRIS pertama di Tuban, Bali.

      Pendekatan-pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa perubahan dalam cara merancang ruang sering kali dimulai jauh sebelum istilah atau tren besar diperkenalkan. Apa yang hari ini dikenal sebagai building tomorrow, dalam banyak hal, telah hadir lebih dulu sebagai cara berpikir—tentang bagaimana ruang bisa menjawab kebutuhan manusia yang terus berkembang.

      Ruang adalah Bagian dari Pengalaman

      Apa yang menarik dari dua pendekatan ini bukan hanya perbedaannya, tetapi kesamaan yang mendasarinya.

      Keduanya tidak dimulai dari bentuk, melainkan dari cara manusia akan menggunakan dan merasakan ruang.

      Dalam pemikiran Jan Gehl (arsitek dan konsultan desain), kualitas sebuah kota—dan ruang di dalamnya—ditentukan bukan dari seberapa ikonik tampilannya, tetapi dari bagaimana ia mendukung kehidupan sehari-hari manusia. Seberapa nyaman orang berjalan, berhenti, dan berinteraksi.

      Prinsip inilah yang, secara sadar atau tidak, mulai terlihat dalam proyek-proyek seperti ini.

      Ruang tidak lagi menjadi latar, tetapi menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri.

      Ruang yang baik bukan hanya dilihat, tetapi mampu membuat orang ingin tinggal lebih lama—dan kembali.

      Di titik ini, lifestyle destination tidak lagi bisa dipahami sebagai sekadar istilah pemasaran. Ia menjadi pendekatan desain—bahkan strategi—yang membentuk cara ruang diciptakan.

      Tempat-tempat seperti ini tidak hanya menawarkan fungsi, tetapi menghadirkan kemungkinan: untuk bertemu, untuk berhenti, untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu.

      Dan dari pengalaman-pengalaman kecil yang terjadi di dalamnya, sebuah kota perlahan menemukan ritmenya.

      Mungkin, building tomorrow memang tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.

      Ia bisa hadir dari cara sederhana: bagaimana sebuah ruang membuat manusia merasa lebih terhubung—dengan lingkungannya, dan dengan satu sama lain. (RR)

      Baca Juga: Kenalkan Identitas Baru, Paradise Indonesia Kampanyekan Building Tomorrow

      Cek berita produk dan ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook RANAH RUMAH, Instagram @ranahrumahcom 

      Building Tomorrow: Ketika Keberlanjutan Menjadi Arah Baru Pengembangan Properti

      Ranahrumah.com – PROPERTI | Kota-kota hari ini tumbuh dengan kecepatan yang nyaris tak memberi jeda. Jalanan semakin padat, gedung-gedung menjulang dalam waktu singkat, dan kehidupan bergerak dalam ritme yang semakin cepat. Namun di tengah pertumbuhan itu, muncul pertanyaan yang semakin relevan: apakah kota benar-benar menjadi tempat yang lebih baik untuk ditinggali?

      Lebih dari sekadar ruang untuk beraktivitas, kota seharusnya menjadi ruang untuk hidup—tempat manusia merasa terhubung, nyaman, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

      Fenomena ini bukan sekadar perasaan—data pun menunjukkan arah yang sama.

      Data BPS menunjukkan bahwa lebih dari separuh populasi Indonesia kini tinggal di kawasan urban. Angka ini diproyeksikan akan terus meningkat, dengan lebih dari 70% populasi diperkirakan tinggal di kawasan urban pada tahun 2045—sebuah momen yang juga menandai satu abad perjalanan Indonesia.

      Pertumbuhan ini bukan hanya soal jumlah, tetapi juga tentang bagaimana ruang-ruang di dalamnya dirancang untuk menjawab kebutuhan manusia modern.

      Ketika Kota Bertumbuh, Apa yang Berubah?

      Urbanisasi membawa peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menghadirkan tekanan yang tidak kecil terhadap lingkungan dan kualitas hidup. Kepadatan, keterbatasan ruang terbuka, hingga berkurangnya interaksi sosial menjadi isu yang semakin nyata di kota-kota besar.

      Dalam konteks ini, pembangunan properti tidak lagi bisa dilihat sebagai aktivitas membangun fisik semata. Setiap proyek kini memiliki peran yang lebih luas—membentuk cara manusia hidup, berinteraksi, bahkan merasakan kota itu sendiri.

      Di sinilah muncul pergeseran penting: dari pembangunan yang berorientasi pada fungsi, menuju pembangunan yang berorientasi pada pengalaman dan keberlanjutan.

      Dalam kerangka Building Tomorrow, pusat perbelanjaan bukan hanya tempat transaksi, melainkan ruang interaksi dan rekreasi. (Foto: Paradise Indonesia)

      Dari Fungsi ke Pengalaman: Perubahan Cara Pandang terhadap Properti

      Dahulu, properti identik dengan lokasi strategis dan fungsi yang jelas—hunian, komersial, atau perhotelan. Namun hari ini, batas-batas tersebut mulai melebur.

      Hunian tidak lagi sekadar tempat tinggal, tetapi juga ruang untuk bekerja, bersosialisasi, dan beristirahat. Pusat perbelanjaan bukan hanya tempat transaksi, melainkan ruang interaksi dan rekreasi. Hotel pun berkembang menjadi bagian dari gaya hidup.

      Pemikiran ini sejalan dengan pendekatan yang diperkenalkan oleh Jan Gehl (Arsitek dan Konsultan Desain Perkotaan) yang menekankan bahwa kota yang baik harus dirancang dari perspektif manusia—bagaimana ruang digunakan, dirasakan, dan dihidupi.

      Dalam konteks tersebut, pengalaman menjadi kunci. Ruang yang baik bukan hanya terlihat menarik, tetapi mampu menciptakan keterikatan emosional bagi penggunanya.

      Keberlanjutan sebagai Strategi, Bukan Sekadar Konsep

      Seiring dengan perubahan tersebut, konsep Environmental, Social, and Governance (ESG) menjadi semakin relevan dalam industri properti. Namun yang menarik, ESG kini tidak lagi dipandang sebagai kewajiban semata, melainkan sebagai strategi jangka panjang.

      ESG bukan tren, tapi filter masa depan properti

      Bangunan dan sektor properti diketahui menjadi salah satu kontributor terbesar terhadap konsumsi energi dan emisi karbon global. Hal ini mendorong pengembang untuk berpikir lebih jauh: bagaimana menciptakan ruang yang tidak hanya efisien secara energi, tetapi juga mendukung kehidupan sosial dan menjaga keseimbangan lingkungan.

      Pendekatan ini juga sejalan dengan pemikiran Ken Yeang (tokoh arsitektur ekologis), yang menekankan bahwa arsitektur seharusnya tidak memisahkan manusia dari alam, melainkan mengintegrasikannya dalam satu ekosistem yang berkelanjutan.

      Dalam praktiknya, ESG mencakup lebih dari sekadar elemen hijau. Ia mencakup bagaimana sebuah ruang:

      • Mengurangi dampak lingkungan
      • Mendorong interaksi sosial
      • Dikelola secara bertanggung jawab

      Dengan kata lain, ESG menjadi fondasi dalam membangun masa depan kota.

      Ketika keberlanjutan dan pengalaman menjadi fokus, muncul kebutuhan akan pendekatan baru dalam pengembangan properti—yang tidak lagi terfragmentasi, tetapi terintegrasi.

      Konsep mixed-use development menjadi salah satu jawabannya. Dengan menggabungkan fungsi hunian, komersial, dan rekreasi dalam satu kawasan, model ini menciptakan efisiensi sekaligus memperkaya pengalaman hidup masyarakat urban.

      Lebih dari itu, pendekatan ini membuka peluang terbentuknya komunitas yang lebih hidup. Ruang-ruang komunal, area terbuka hijau, hingga fasilitas bersama menjadi elemen penting yang menghidupkan interaksi antarindividu. Kota tidak lagi sekadar tempat tinggal, tetapi menjadi ekosistem yang dinamis.

      Dalam konteks inilah, peran pengembang menjadi semakin strategis.

      Baca Juga: Pengguna Real Estate Komersial di Asia Pasifik Inginkan Bangunan Bersertifikasi Hijau

      Baca Juga: Tolok Ukur Menilai Bangunan Hijau Menurut GBCI

      Paradise Indonesia dan Visi “Building Tomorrow”

      Dalam lanskap perubahan ini, sejumlah pengembang mulai mengambil peran lebih strategis dalam membentuk masa depan kota. Salah satunya adalah PT Indonesian Paradise Property Tbk. melalui visinya, Building Tomorrow.

      Paradise Indonesia melihat bahwa properti tidak cukup hanya menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga harus mampu mengantisipasi kebutuhan masa depan. Pendekatan ini diwujudkan melalui pengembangan iconic lifestyle destination—kawasan yang tidak hanya memiliki nilai arsitektural, tetapi juga menghadirkan pengalaman hidup yang utuh.

      Transformasi ini semakin ditegaskan ketika Paradise Indonesia memperkenalkan kampanye “Building Tomorrow” bertepatan dengan ulang tahun yang ke-21. Kampanye “Building Tomorrow” ditujukan untuk menjadikan Paradise Indonesia “a new emerging top of mind brand” dalam dunia properti development di Indonesia.

      “Kami merasa penting untuk memiliki identitas yang selaras dengan visi dan prioritas baru perusahaan,” ujar Anthony Prabowo Susilo, President Director & CEO Paradise Indonesia. Melalui kampanye ini, Paradise Indonesia menempatkan desain, pengalaman, dan keberlanjutan sebagai satu kesatuan.  

      Dalam kerangka Building Tomorrow, desain modern menjadi bentuk interpretasi dari komitmen untuk terus bergerak maju—tidak hanya secara visual, tetapi juga dalam cara ruang diciptakan dan dihidupi. Terus mengembangkan sektor mix use buildings dan lifestyle experience dengan penekanan pada desain berkelanjutan yang mengembangkan nilai-nilai ESG.

      Melalui pengembangan mixed-use, integrasi ruang terbuka hijau, serta pendekatan desain yang berpusat pada manusia, Paradise Indonesia berupaya menghadirkan ruang yang tidak hanya fungsional, tetapi juga relevan dengan gaya hidup urban yang terus berkembang.

      Di sini, keberlanjutan tidak berdiri sendiri sebagai konsep teknis, tetapi menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari—bagaimana seseorang tinggal, berinteraksi, dan merasakan lingkungannya.

      Baca Juga: Bersinergi dnegan Alam Antasari Place Pertemukan Konsep Urban dan Resor

      Kawasan mixed-use modern dengan ruang terbuka hijau sebagai konsep properti berkelanjutan di Indonesia. Hotel pun berkembang menjadi bagian dari gaya hidup. (Foto: Dok. Ranahrumah.com)

      Menuju Masa Depan Kota yang Lebih Manusiawi

      Pada akhirnya, masa depan kota tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat ia tumbuh, tetapi oleh bagaimana ia dirancang untuk manusia.

      Properti hari ini bukan lagi soal ruang, tetapi tentang bagaimana kehidupan dibentuk di dalamnya.

      Properti, dalam konteks ini, memiliki peran yang jauh lebih besar dari sekadar investasi atau infrastruktur. Ia menjadi medium yang membentuk cara hidup, cara berinteraksi, dan bahkan cara kita memahami ruang.

      Melalui pendekatan yang mengedepankan keberlanjutan, pengalaman, dan konektivitas, arah baru pengembangan properti mulai terlihat lebih jelas—bukan hanya membangun untuk hari ini, tetapi merancang kehidupan untuk masa depan.

      Dan mungkin, di situlah makna sesungguhnya dari building tomorrow. (RR)

      Baca Juga: 23 Paskal Shopping Center: Ikon Bangunan yang Mengubah Pola Hidup Masyarakat Bandung

      Cek berita atau ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook Ranah Rumah, Instagram @ranahrumahcom

      Saat Laundry Tak Lagi Merepotkan: Alasan LG WashTower Jadi Pilihan Dunia, Terjual 3,2 Juta Unit!

      Ranahrumah.com – GAYA HIDUP | Hidup Ringkas, Solusi pun Harus Ringkas.

      Hunian masa kini tak lagi selalu luas. Apartemen kompak, rumah tumbuh, hingga ruang multifungsi menuntut setiap elemen di dalamnya bekerja lebih efisien.

      LG WashTower hadir seperti jawaban yang sudah lama dicari: satu perangkat untuk dua fungsi penting—mencuci dan mengeringkan.

      Bukan hanya menghemat ruang, tapi juga mengurangi “keruwetan visual” yang sering muncul di area laundry.

      Baca Juga: Inspirasi Desain Laundry Room Minimalis di Rumah Kecil, Tetap Rapi dan Fungsional

      Baca Juga: Cara Baru Mencuci dari LG untuk Hidup Lebih Praktis: Padukan Kapasitas dan Kecerdasan Mesin Cuci

      Jadi pilihan dunia dengan penjualan mencapai 3,2 Juta unit, LG WashTower hadir dnegan desain modern hemat ruang. (Foto: LG Electronics)

      Teknologi yang Mengerti, Bukan Sekadar Bekerja

      Yang membuat LG WashTower terasa berbeda adalah kemampuannya memahami kebutuhan pengguna.

      Melalui AI DD™, mesin ini membaca:

      • berat cucian
      • jenis material
      • hingga tingkat kekotoran

      Lalu menyesuaikan cara mencuci secara otomatis.

      Hasilnya? Pakaian lebih terawat tanpa perlu kita repot mengatur.

      Sementara teknologi DUAL Inverter HeatPump™ bekerja lebih halus—mengeringkan dengan suhu rendah yang menjaga kualitas kain tetap prima.

      Waktu Jadi Lebih Panjang untuk Hal yang Penting

      Bayangkan satu siklus mencuci yang tidak lagi perlu diawasi.

      Dengan fitur seperti:

      • Smart Pairing™
      • AI Wash
      • Prepare to Dry

      Semua proses berjalan seperti sistem yang sudah “saling mengerti”.

      Kita tidak lagi sibuk memindahkan, mengatur ulang, atau menunggu. Waktu yang biasanya habis untuk laundry kini bisa kembali ke hal lain—istirahat, keluarga, atau sekadar menikmati rumah.

      Baca Juga: LG WashTower Terbaru Kapasitas 25Kg Mesin Cuci dan 20Kg Pengering

      Ketika Fungsi Bertemu Estetika

      Tak bisa dipungkiri, perangkat rumah kini juga menjadi bagian dari desain interior.

      LG WashTower tampil dengan pendekatan minimalis:

      • garis bersih
      • warna modern
      • panel kontrol ergonomis di tengah

      Ia tidak lagi terasa seperti “area servis”, melainkan bagian dari ruang hidup itu sendiri.

      Lebih dari Produk, LG WashTower jadi Bagian dari Gaya Hidup

      Penjualan 3,2 juta unit di 77 negara bukan sekadar angka. Ini menunjukkan satu hal: bahwa solusi yang tepat, pada waktu yang tepat, akan selalu menemukan tempatnya.

      LG WashTower bukan hanya menjawab kebutuhan mencuci, tetapi juga cara baru menjalani hidup yang lebih efisien dan terorganisasi. (RR)

      Baca Juga: Beri Solusi Hemat Tempat Ruang Laundry, LG Wash Tower Resmi Dipasarkan di Indonesia

      Cek berita dan ulasan inspiratif ranahnya rumah, properti, dan gaya hidup penghuninya di website www.ranahrumah.com, Facebook Ranah Rumah, Instagram @ranahrumahcom